
#3
Selamat Pagi
2925Please respect copyright.PENANAeCbluoY0an
Seperti biasa aku bangun sekitar pukul 7. Kutengok sudah tidak ada Agnes di sampingku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar, menuju kamar mandi.
“Eh, enak ya bangun jam segini?” celetuk istriku, ketika aku melintas di meja makan. Istri dan mama sedang sarapan bersama.
“Tadi malam habis lembur,” kataku, membela diri di hadapan mama.
“Biasanya, juga bangun jam segini walapun nggak lembur. Haha. Jangan gara-gara ada mama jadi punya alasan bangun siang, Haha” kata istriku, sambil tertawa.
Mama hanya tersenyum saja mendengar obrolan kami. Dia sudah terbiasa dengan aku dan Agnes yang kerap berdebat kecil, tapi dalam konteks bercanda.
“Sudah, ayo sarapan bareng,” kata mama.
“Iya ma,” jawabku.
Setelah dari kamar mandi, aku bergabung ke meja makan.
“Ini pasti mama yang masak, bukan kamu,” ucapku.
“Hmmmm…. aku yang masak, tanya aja mama,” bantah istriku.
“Mentang-mentang ada mama, jadi mama yang masak,” kataku, sambil mengambil nasi.
“Dibilangin aku yang masak, gak percaya,” kata Agnes, sambil menyendok nasi dari piringnya.
“Udah-udah, ayo makan. Tadi mama masak bareng sama Agnes,” kata mama.
“Paling bantu masak air aja ya ma? Haha,” ujarku.
“Sayang ini, dibilangin gak percaya. Terserah deh…” istriku menyerah, tak mendebatku lagi.
“Haha….” aku hanya bisa tertawa dan mulai makan.
“Enak ya punya menantu, jam segini baru bangun langsung makan,” istriku mengajak debat lagi.
“Ya untungnya punya mama mertua yang baik dan pengertian. Gak akan marah punya menantu kayak aku. Iya kan ma? Haha” ucapku.
Mama hanya tersenyum mendengar ucapanku.
“Ayo segera makan, jangan bertengkar terus,” ujar mama.
Mama mertua memang orang yang baik dan suka bercanda. Dia juga sangat perhatian kepada kami.
Kami pun lanjut makan. Tidak ada suara sejenak. Namun tiba-tiba mama membuka obrolan lagi.
“Eh, maaf mama tanya ini. Kalian masih belum pingin punya momongan?” tanya mama.
Aku terdiam. Tak menjawab. Aku hanya melirik ke arah Agnes. Kuharap dia yang menjawab pertanyaan mama.
“Mau lah ma. Tapi masih belum aja,” kata istriku.
“Nunggu kapan?” tanya mama lagi.
Istriku balik melirik ke arahku.
“Tanya Radit aja ma,” ujar istriku.
Mama pun melihat ke arahku sekarang. Aku berhenti mengunyah makanan.
“Loh, kok jadi aku? Aku sudah pingin banget punya anak ma sejak awal nikah,” kataku.
“Sudah-sudah. Mama tanya saja. Lanjut makan,” kata mama.
“Tuh sayang, dengar, mama pingin cucu dari kita,” ucapku.
“Eh, aku juga pingin punya anak. Siapa bilang gak pingin punya anak,” istriku membela diri.
“Sudah-sudah, jangan dibahas lagi,” pinta mama.
Kami pun lanjut makan lagi.
Pukul 8, istriku sudah berangkat kerja. Ia naik mobil sendiri ke tempat kerjanya.
“Hati-hati sayang, semangat kerjanya,” ucapku.
“Iya, kamu di rumah saja. Jangan ke mana-mana. Temani mama, kerja dari rumah saja,” kata istriku.
“Iya, tenang saja,” jawabku singkat.
Memang aku biasanya, jika bosan kerja dari rumah, cari kafe yang enak dan nyaman. Agar bisa sambil mengerjakan projectku dengan fokus.
Setelah istri berangkat kerja, mama menawarkan kopi untukku.
“Ini mama saya buatkan kopi. Gak tahu kamu suka manis atau pahit, ini mama kasih gula satu sendok saja,” ucap mama, sambil meletakkan secangkir kopi di meja makan.
“Wah, repot-repot aja ma. Terimakasih banyak. Kalau mama yang buatkan, pahit atau manis, pasti enak-enak aja,” ucapku.
“Bisa aja kamu nih,” ujar mama, kemudian berjalan ke arah dapur.
Aku jadi kepikiran soal tadi mama yang tanya soal kami yang masih belum punya anak.
“Ma, aku mau ngomong sesuatu,” kataku.
“Iya Dit? ngomong apa?” Mama balik badan, kemudian duduk kembali di hadapanku.
“Ini ma, soal mama tadi yang tanya kenapa kita belum punya anak.”
“Oh itu, sudah jangan dibahas lagi. Maaf jika kamu tersinggung ya.” Mama jadi merasa bersalah nampaknya.
“Gini ma, sebenarnya aku sudah pingin punya anak sejak awal nikah. Tapi ma, Agnes sepertinya masih memilih fokus untuk bekerja,” kataku.
“Maaf ma, ini mungkin terdengar tidak sopan. Agnes sering capek kalau malam, jadi dia jarang mau diajak berhubungan. Maaf ma, mungkin ini tidak sopan ucapanku,” ucapku, aku takut mama yang mengira aku menunda punya anak.
“Iya gak apa-apa Dit. Memang Agnes itu seperti papanya. Giat banget kerjanya,” ucap mama.
“Padahal aku sudah menyuruhnya untuk berhenti bekerja ma. Pendapatku sebagai programer sudah sangat cukup. Tidak perlu dia bantu cari uang. Biar di rumah saja,” kataku.
“Ya mungkin Agnes bosan jika di rumah terus. Dia memang dari dulu aktif sekali. Gak bisa diam saja di rumah,” kata mama, seperti membela anaknya.
“Benar juga ma, tapi kan jadinya seperti ini. Kewajiban dia sebagai istri untuk memenuhi kebutuhan biologisku, jadi jarang dilaksanakan. Tadi malam saja, aku ajak dia berhubungan, dia nolak. Alasan capek lagi. Eh, maaf ma, saya jadi bongkar rahasia kami di ranjang,” ucapku.
Mama terdiam. Ia jadi merasa bersalah atas apa yang dilakukan anaknya.
“Mama minta maaf ya Dit, nanti akan aku sampaikan ke Agnes.”
“Eh, mama tidak perlu minta maaf. Dan jangan bilang ke Agnes ma, nanti dia ngira aku ngadu-ngadu ke mama,” kataku.
“Iya Dit, memang kayaknya dia nurun papanya. Fokus kerja terus.”
“Ngomong-ngomong papa berapa hari dapat tugas di luar kota ma?” tanyaku.
“Bilangnya seminggu, bisa jadi diperpanjang tugasnya.”
“Memang sering ya ma keluar kota lama gitu?”
“Gak sering sih, cuma sekali ada tugas keluar kota, lama dia di sana. Kalau lama gitu, aku selalu ke rumah kakakmu di Surabaya. Tapi sekarang, gantian mama ke sini.”
“Mendingan ke sini saja ma kalau papa dinas keluar kota. Daripada ke Surabaya jauh.”
“Kemarin-kemarin aku takut ngerepotin kalian, kan baru nikah. Tapi pas Agnes ngizinin tinggal di sini, mama baru ke sini.”
“Gak ngerepotin kok ma. Malah aku senang, jadi Agnes ada temannya juga.”
“Papa bisa ya selama itu tidak bertemu mama? Kuat dia sebagai laki-laki. Aku 3 hari saja berhubungan sama Agnes, sudah tidak kuat. Eh, maaf ma, jadi cerita rahasia ranjang kami lagi,” ucapku, keceplosan.
Mama lalu tertawa kecil, aku bercerita soal itu.
“Haha. Papa udah tua Dit. Usianya hampir terpaut 10 tahun dengan mama. Papa kayaknya sudah tidak memikirkan hal itu lagi,” ucap mama.
“Maaf ya ma, aduh gak enak aku. Jadi kita bahas soal ini,” kataku.
Kami terdiam. Tak ada jawaban lagi dari mama.
Beberapa saat kemudian, mama beranjak dari kursinya.
“Mama mandi dulu ya,” ucapnya.
“Mama tidak perlu mandi sudah terlihat cantik,” godaku, untuk mencairkan suasana, setelah pembahasan soal tadi.
“Kamu ini, memang menantu yang lucu,” kata mama.
“Hahahaa…” aku hanya tertawa. Memang kami sudah terbiasa bercanda jika bertemu. Termasuk dengan papa.
Mama kemudian berlalu dari meja makan. Terlihat dari belakang, lekuk tubuhnya yang berbalut daster setinggi lutut. Aku masih bisa melihat betisnya yang mulus. Sementara pantatnya yang bulat terlihat lebih besar dibalik daster yang dipakainya.
Aku pun berpindah ke ruang santai untuk menyeruput kopi buatan mama dan membakar rokok. ***
2925Please respect copyright.PENANAHlabPVMD1S