
#7
Biasa Saja
2952Please respect copyright.PENANAOxjbe4DpK2
Malam ini aku fokus menyelesaikan pekerjaanku di kamar. Istriku sudah tiba dan sekarang sedang memasak dengan mama mertua. Istriku sudah membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak malam ini.
Tak berselang lama, istriku datang ke kamar, menghampiriku.
“Ayo sayang kita makan bersama,” ajak istriku.
“Oke sayang,” jawabku.
Aku pun segera beranjak dari kursi, keluar kamar, dan bergabung dengan istri dan mama mertua di meja makan.
Berbagai menu makanan tersaji di atas meja makan. Termasuk menu favoritku, udang saus. Istriku tahu apa yang kumau.
Aku dan mama bersikap biasa saja saat ini. Kami seakan lupa dengan kejadian tadi sore. Kejadian yang seharusnya tak boleh dilakukan antara menantu dan orangtua.
Saat kami menyantap makanan, tiba-tiba mama kembali membicarakan soal anak.
“Agnes jangan capek-capek kamu kerjanya. Jangan sering lembur. Biar segera punya momongan,” kata mama.
“Aduh mama bahas itu lagi. Pasti mama dan Radit tadi ngomongin aku ya. Nyalahin aku ya kenapa sampai sekarang tak kunjung punya momongan,” ucap istriku.
“Hussshh… siapa yang nyalahin kamu, mama cuma mengingatkan lagi,” ujar mama.
“Curiga aja ke aku dan mama, ngomongin sayang. Dengar tuh kata mama, benar juga kata mama,” ucapku.
“Enggak, pasti kalian berdua sudah menyiapkan rencana ini, mau ngomong ini lagi,” kata istriku.
“Hmmmmm… ya udah kalau gak percaya. Aku sibuk kerja tadi seharian. Ngapain ngomongin sayang,” kataku, berbohong.
“Iya Nes, lagian biar ramai rumah ini jika ada momongan,” kata mamaku.
“Iya nanti ma, kalau udah waktunya dikasih momongan, pasti hamil aku kok.” Agnes seperti tidak terima dinasehati mama.
“Tapi juga harus terus usaha Nes,” kata mama lagi.
Istriku kemudian melirikku. Aku pura-pura fokus makan. Diam, tak bersuara.
“Iya ma, ini terus berusaha kok biar segera punya anak,” jawab istriku.
Kami pun lanjut makan.
Setelah makan, kami lanjut mengobrol-ngobrol di ruang santai. Sampai pukul setengah sepuluh malam, Agnes pamit ke mama untuk pergi tidur. Dia bilang sudah ngantuk berat, capek, dan besok harus bangun pagi.
Aku dan Agnes pun masuk ke kamar. Begitu dengan mama mertua, ia pergi ke kamarnya juga.
“Sayang, sebelum tidur, ayo kita ML dulu aku pengen,” ajakku.
Meskipun sore tadi spermaku sudah tertumpahkan, namun malam ini gairahku kembali muncul. Karena rasanya masih belum puas jika belum ML.
“Aduh sayang, aku capek malam ini. Lagian ada mama, gak enak nanti mama denger.” Agnes menolak.
“Ditunda terus, kapan dong,” kataku.
“Nunggu mama pulang,” kata istriku.
“Ya sudah, sayang tidur dulu aja,” kataku.
Aku pun lanjut mengerjakan project-ku.
Beberapa menit kemudian, kulihat Agnes dengan cepat sudah tertidur pulas. Dia benar-benar capek nampaknya. Sedang gairahku seksualku masih muncul.
Aku pun ada ide gila malam ini, bagaimana jika aku menemui mama mertua.
Tak perlu waktu lama untuk menimbang ide gilaku ini, aku langsung memutuskan keluar kamar. Kututup pintu kamar.
Kebetulan, kudengar mama ada di dalam kamar mandi. Aku pun berjalan ke arah kamar mandi. Kutunggu mama keluar dari kamar mandi.
Setelah beberapa menit menunggu, mama akhirnya keluar.
“Raditt….” mama kaget, melihatku sudah ada di depan pintu kamar mandi.
Kulihat mama pakai daster untuk tidur. Kali ini dasternya lebih pendek dari sebelumnya. Sehingga pahanya yang mulus terlihat. Daster itu tanpa lengan, sehingga terlihat ketiak mama. Kulihat ditumbuhi sedikit rambut. Payudara mama juga terlihat lebih menonjol dari balik dasternya.
“Bikin kaget aja Dit, tiba-tiba ada di depan kamar mandi,” ucap mama.
“Iya ma, aku lagi pingin ma. Agnes barusan aku ajak berhubungan nolak lagi, capek katanya,” ucapku.
“Mama mau bantu aku ya kayak tadi sore?” tanyaku.
“Ha? Jangan sekarang Dit, nanti ketahuan Agnes,” ucap mama, dengan suara pelan.
“Agenes sudah tidur ma,” kataku.
“Nanti dia bangun gimana?” tanya mama.
“Gak mungkin ma, Agnes kalau udah tidur, susah bangunnya,” ucapku.
Aku makin sange melihat mama yang pakai daster minim itu.
“Mau ya, bantu aku lagi,” ucapku.
“Jangan Dit, jangan sekarang,” mama menolak.
“Bentar aja ma,” aku sedikit memaksa.
“Pokoknya jangan sekarang Dit, ada Agnes, mama takut,” mama kembali menolak.
Mama kemudian pergi ke kamarnya. Ia benar-benar tidak mau nampaknya. Pintu kamarnya dikunci. Aku sudah kehilangan harapan.
Ya, mau gimana lagi? Aku akhirnya ikut kembali ke kamar. Kutahan gairah seksualku malam ini. ***
2952Please respect copyright.PENANApVsaU8RUfu