
Keesokan harinya, seperti biasa aku segera bangun tidur dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Selesai mandi aku memakai seragam, sarapan, dan langsung berangkat ke sekolah.
Aku sampai ke sekolah jam setengah tujuh pagi. Jam tujuh pagi akhirnya bel sekolah pun berbunyi, semua murid beranjak keluar untuk berbaris dan menyanyikan lagu indonesia raya secara bersama - sama.
Dan rupanya hari jam pelajaran pertama di kelas ku adalah pelajaran seni budaya, yang tak lain guru pengajarnya adalah Bu Relen sendiri. Rasanya hatiku senang sekali, padahal kemarin sudah ketemu eh sekarang ketemu lagi, memang rejeki itu memang gak kemana ya.
Akhirnya Bu Relen pun datang, dan teman - temanku menyaliminya secara bergantian, dan sekarang giliranku, ketika aku menyaliminya ku rasakan badannya wangi sekali, apalagi tangannya sangat lembut, " padahal ini baru tangannya apalagi tubuhnya ya " gumamku sambil tersenyum.
Di sekolahku sebelum pelajaran jam pertama dimulai, semua siswa di wajibkan membaca asmaul husna dan setelah itu berdoa secara bersama - sama. Berdoa pun selesai, guru pengajar pun mengucapkan salam kepada murid - muridnya.
" Selamat pagi, Assalamualaikum wr.wb " ucap Bu Relen. " Waalaikumsalam wr.wb " jawab para murid - muridnya dengan serentak. Setelah itu, Bu Relen pun memulai pelajaran dengan menjelaskan materi - materi yang akan dibahasnya.
Jujur pada momen ini aku tidak bisa fokus sama sekali, yang ku fokuskan adalah bentuk tubuh Bu Relen, apalagi saat ia berdiri dari tempat duduknya, terlihat tonjolan payudaranya yang terlihat samar - samar, apalagi saat ia menulis materinya di papan tulis, pantatnya juga sangat besar dan terlihat belahan pantatnya. Ingin sekali rasanya aku merasakan tubuhnya yang amat menggoda iman tersebut.
Karena keasikan melamun, tanpa ku sadari aku di panggil oleh teman sebangkuku, " Rid, Rid " sambil menyentuh pundakku, aku pun terkejut karena perbuatannya " I iya, ada apa sih, kok manggil aku ? " jawabku. " Nggak kok, lihat Bu Relen menjelaskan materi, kok kamu malah bengong sih ? Mikirin apa coba ? " tanya temanku, " nggak kok, gak mikirin apa - apa, cuma bengong biasa aja " ucapku. " Oh, kirain kenapa, yang semangat dong, ini masih pagi dan juga masih jam pertama " balas temanku. Setelah mendengar ucapan temanku, akhirnya aku pun bisa fokus lagi dan mendengarkan penjelasan Bu Relen kembali.
Setelah Bu Relen selesai menjelaskan beberapa materi, akhirnya para murid pun di kasih tugas olehnya. Beberapa lama kemudian, jam seni budaya pun sudah berakhir, nggak kerasa jamnya, dan para teman - temanku juga belum pada selesai dan hanya beberapa yang sudah selesai.
Bu Relen menanyakan tugasnya " Bagaimana anak - anak, apakah tugas sudah pada selesai ? ", belum selesai Bu " jawab teman - temanku secara serentak. Melihat hal itu Bu Relen pun menjawab " Ya sudah, tidak apa - apa kalau belum selesai, dikerjakan di rumah di buat pr ya, nanti minggu depan kita bahas bersama - sama ".
Mendengar hal itu, aku jadi mempunyai ide yaitu setelah pulang sekolah aku ingin pergi ke rumah Bu Relen untuk meminta tolong padanya mengerjakan tugasnya tadi, jujur tugas tadi lumayan susah, sehingga para teman - temanku juga belum pada selesai.
Bu Relen pun meninggalkan pelajaran " Baiklah, berhubung jam saya sudah selesai, saya pamit dulu kita ketemu lagi minggu depan, sekian terima kasih, Wassalamualaikum wr.wb. " Waalaikumsalam wr.wb " balas para teman - temanku.
Waktu demi waktu aku lalui, tak terasa bel pulang pun sudah berbunyi, itu tandanya sudah waktunya para murid untuk pulang. Aku pun segera pergi meninggalkan kelas dan segera ke rumah Bu Relen. Gak lama kemudian, aku sudah sampai di rumah Bu Relen, tapi ku lihat dan ku ketuk pintunya kok gak ada yang balas, apa jangan - jangan Bu Relen belum pulang ya ?. Dan akhirnya pun aku menunggu Bu Relen sampai pulang, daripada aku pulang terus kembali lagi buang - buang waktu saja.
Dan tidak lama kemudian, Bu Relen pun akhirnya pulang ke rumanhnya. Bu Relen pun melihat dan bertanya kepadaku " loh Rid, kenapa kamu belum pulang, kok ke rumah Ibu, memang kamu ada perlu ? " Aku pun menjawabnya " Ini Bu, saya kesini karena ada perlu, tadikan tugas saya belum selesai dan saya tidak mengerti, jadinya saya terus kesini dan meminta bantuan Bu Relen untuk membantu mengerjakannya. " Oh begitu, kamu sudah lama menunggu saya disini ? " ku jawab " Tidak begitu lama kok Bu, saya juga baru sampai kok, he he ". " lain kali, kalau kamu ingin ke rumah saya, bilang saya dulu ya, agar kamu tidak menunggu saya terlalu lama " ujarnya. " Tidak masalah kok Bu saya menunggu saya bisa sambil beristirahat, sebenarnya tadi saya mau bilang, tapi saya lupa " jelasku. " Oh ya sudah kalau begitu, maafin ibu ya Rid, mari silahkan masuk dulu.
Aku pun dipersilahkan masuk ke rumahnya " kamu duduk disini dulu ya, saya mau mandi dulu, badan sudah lengket nih rasanya ". " ya bu, silahkan kalau mau mandi dulu " jawabku. Akhirnya dia pun pergi ke kamar mandi.
Melihatnya sudah pergi ke kamar mandi, aku pun merencanakan tugasku seperti kemarin yaitu mengintipnya mandi di lubang kecil yang terdapat di kamar mandinya. Aku pergi ke kamar mandi dan langsung merencanakan tugasku.
Aku melorotkan celanaku dan langsung mengocok penisku ini. Karena keasikan mengocok dan menghayal, tanpa ku sadari aku menjatuhkan sebuah figura foto yang ditaruh di dinding, dan figura itu pun jatuh dan mengenai kakiku, aku pun kaget dan reflek mengucapkan aduh " aduh, aduh " ucapku yang terdengar cukup keras. Dan di dalam kamar mandi, Bu Relen pun mendengarnya, " Farid, itu kamu ya, kamu ngapain disitu kamu mengintip ibu mandi ya ? ". Mendengar ucapan tersebut aku langsung berlari meninggalkannya dan kembali ke tempat duduk sambil menahan rasa sakit di kakiku.
Tak lama kemudian, Bu Relen sudah selesai dalam mandinya, serta sudah berpakaian rapi dan langsung menghampiriku. Dia duduk di sebelahku dan bertanya kepadaku " jawab dengan jujur ya, tadi kamu mengintip saya mandi ya " aku pun gugup mendengar hal itu, ingin aku berbohong tapi kayaknya gak mungkin soalnya yang dirumah ini cuma ada aku dan Bu Relen saja. Tanpa bersama - lama langsung ku jawab secara jujur sekaligus meminta maaf " I i iya bu, saya minta maaf, tadi itu memang saya yang mengintip ibu mandi, mohon maafin saya ya bu, saya mengaku salah. Bu Relen yang mendengar penjelasanku itu pun terkejut dan tidak menyangka bahwa melakukan yang tidak pantas tersebut. " Ya ampun, kenapa kamu berbuat seperti itu sih Rid, padahal saya melihat kamu itu seperti anak yang baik loh, dan ternyata aslinya kamu seperti ini kelakuannya ".
Aku merasa bersalah " Iya bu, saya minta maaf ", " Iya, tapi kenapa kamu mengintip saya mandi, ha ? " tanyanya dengan sedikit kesal. Aku pun jujur kepadanya " Iya saya akan jujur, tapi ibu jangan marah ya ", " Iya saya gak akan marah kok, coba jelasin apa maksudmu itu " ujarnya.
Dengan berani aku pun menjelaskan kepadanya " jadi gini Bu, sebenarnya saya itu tidak tahan melihat tubuh serta wajah Bu Relen, karena tubuh ibu itu seksi dan menggoda saya Bu, apalagi ibu sering berpakaian yang menonjolkan aurat Bu, dari hal itulah saya jadi terobsesi sama ibu, sampai - sampai melakukan hal yang tak pantas seperti ini, sampai sampai saya bikin bahan onani bu " jelasku.
Bu Relen pun membalasnya " astaga, jadi kamu beronani membayangkan saya gitu ? ", " Iya bu, itu benar, setiap saya melihat ibu, penis saya gak tahan rasanya pengen sekali mengocoknya dan saya ingin jujur lagi bu, boleh nggak ibu bantuin saya mengocokkan penis saya bu, supaya rasa penasaran ini bisa terobati ".
Bu Relen sempat terkaget dan shock mendengarnya " Rid, saya ini gurumu rid, kamu tidak boleh melakukan hal itu kepada saya ", " tapi, tolong dong bu, sekali ini saja, ku mohon " pintaku.
Mendengar ucapanku Bu Relen pun akhirnya mau menuruti permintaan ku " Baiklah, tapi ini sekali saja ya, dan jangan bilang hal kepada siapapun, oke ". Aku pun mengangguk.
" Jadi apa yang kamu mau " tanyanya. " Saya mau, ibu melepaskan baju dan rok yang ibu kenakan sampai ibu telanjang tapi jilbabnya tidak usah dilepas. Mendengar itu Bu Relen menjawab " ibu lepas baju sama rok aja ya, jangan sampai ibu telanjang ", " Kalau begitu, tidak apa - apa bu " jawabku dengan perasaan senang.
Dia pun melepaskan baju dan rok yang ia pakai, aku yang melihatnya pun sempat tidak percaya, akhirnya aku bisa melihatnya secara langsung. Dan bu Relen pun sudah melepaskan baju dan roknya tapi tidak dengan jilbabnya, sekarang hanya bra dan cd berwarna ungu muda dan jilbab pink yang menutupi tubuhnya.
Aku pun segera melepaskan semua pakaiannya dari baju dan celana dan kini aku sudah telanjang dihadapannya. Bu Relen kaget melihatku " kenapa kamu melepaskan semua pakaianmu, katanya cuma beronani saja " katanya. " Iya bu maaf, biar enak aja rasanya ".
Aku pun langsung mengocok penisku di hadapannya, akhirnya aku bisa melakukan perbuatan ini. Ku lihat Bu Relen hanya diam memandangiku, agar dia tidak diam saja, dia ku suruh untuk mengocokkan penisku " Bu, daripada ibu hanya diam memandangi saya, bisa nggak ibu membantu saya untuk mengocokkan penis saya.
Mendengar hal itu pun, bu relen akhirnya mau membantuku " Baiklah, tapi kali ini saja ya, dan ini hanya rahasia kita berdua ".
Tangan Bu Relen pun langsung mengocok penisku, betapa nikmatnya ini, ku rasakan tangannya begitu lembut dan halus. " Bu, boleh kalau ibu pakai mulut ? " pintaku yang semakin aneh. " Nggak, ini aja ibu terpaksa, sebenarnya ibu nggak mau seperti ini kepadamu " balasnya.
Tak lama kemudian penisku sudah terasa mau keluar " Bu, saya mau keluar bu ". Bu Relen pun mempercepat kocokannya, tak lama kemudian penisku memuncratkan sperma, dan mengenai tangan dan bahkan mengenai payudaranya bu Relen.
Bu Relen melepaskan kocokannya, dan membersihkan tangan dan payudaranya dari spermaku yang mengenai dirinya.
" Terima kasih banyak ya bu, atas semua ini dan saya tidak menyangka bahwa ibu juga jago dalam mengocok " ucapku sambil menggodanya. " sudah jangan bilang aneh - aneh lagi, cepat bersihkan itu penismu dan segera pakai lagi bajumu segera pulang karena hari sudah gelap ".
Aku pun pergi ke kamar mandinya untuk membersihkan penisku dari sperma dan memakai bajuku kembali, setelah itu pun aku pamit untuk pulang.
Yang awalnya cuma mau mengerjakan tugas, dan ternyata malah berbuat yang enak - enak. Karena lupa, akhirnya tugas pun aku kerjakan sendiri di rumah secara semampuku.
ns 15.158.61.18da2