Setelah makan siang dan berbasa-basi dengan Pakde Suryo dan Bude Sri, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kamar. Selain menata kamarku dan memasukkan baju-bajuku ke lemari, aku juga menghubungi kawan-kawanku lewat chat. Untunglah aku tidak ditahan dan motorku tidak disita. Entah apa yang dilakukan oleh papaku sampai pihak kepolisian tidak memperkarakannya.
Saat ini aku sedang chat dengan Dewa. Dia adalah sohibku. Kami main bersama, bahkan sekolah juga di sekolah yang sama. Dia mujur sih bisa lolos dari kejaran polisi, sayangnya aku dan beberapa temanku tidak. Aku juga apesnya ketangkep sambil bonceng teman perempuanku, Selly.
Dewa: “Cuk, saiki kon nang endhi? (Cuk, kau ada dimana sekarang)”
Aku: “Aku di pelosok, Desa Ringin Tawas.”
Dewa: “Lha? Jadi anak desa? Wkwkk”
Aku: “Kabarnya Farid, Kancil ama Gito gimana?”
Dewa: “Farid ama Gito aman, tahulah orang tua mereka masih ada hubungan ama pejabat. Gito yang kurang beruntung.”
Gito adalah salah satu kawanku yang baik. Dia cukup pintar dalam mengutak-atik kendaraan. Bahkan, beberapa kali motor kami yang rusak dia yang membetulkannya. Kasihan kalau sampai dia nggak bisa bebas.
Aku: “Trus?”
Dewa: “Udah, jangan khawatir. Farid bilang papanya bisa bantu, paling juga disuruh wajib lapor aja nanti.”
Aku: “Yowislah. Syukurlah.”
Dewa: “Aku tak dolin nang kono ya?” (Biarkan aku main ke situ).
Aku: “Cuk, ora mungkin, cuk! Kon kepingin aku dibeleh karo papaku?” (Cuk, ya nggak mungkin, cuk! Kau mau aku disembelih papaku?)
Dewa: “wkwkwk.” (kirim emoticon kucing ngakak).
Aku: “Mending kalau masih dicoret dari KK.”
Dewa: “Trus cewekmu gimana?”
Aku: “Itu aku malu banget. Mana pas ditangkap bonceng si Selly pula.”
Dewa: “Iya, marah-marah anaknya.”
Aku: “Nomorku sampai diblok. Padahal aku udah minta maaf. Yah.. sampaikan saja minta maafku. Lagipula kalau dia minta putus pun aku nggak akan memaksa. Yah, mau gimana lagi. Apes bro.”
Dewa: “Serius, Bro? tapi biarpun begitu kayaknya Selly masih demen ama situ.”
Aku: “Cewek masih banyak, Bro di dunia ini. Lagian dia lho sekarang sedang jutek ama aku sampai diblokir segala. Ya, aku tahu sih aku salah. Cuma lebih baik kan kita omongin dulu kek gitu.”
Dewa: “Sabar, nanti aku coba hubungi Selly trus kalian ngobrol.”
Aku: “Oke, oke. Suwun ya.”
Dewa: “Gampang, wis.”
Di saat aku sedang chat, Bude tiba-tiba memanggilku, “Gun, kalau mau mandi isi sumurnya dulu ya.”
“Iya, Bude!” sahutku.
Kamar mandi Bude ini bukan kamar mandi yang ada di dalam rumah. Kamar mandinya berada di luar. Rumah Bude ini memang besar, halamannya luas. Ada kandang sapi dan kambing yang ada di sebelah kanan rumahnya. Di halaman belakang ada kebon dan kamar mandi. Kamar mandi ini jadi satu dengan toilet. Karena letaknya di luar, maka sumur pun ada di luar. Sumurnya sebenarnya sumur tanah yang kemudian diberi pompa air, sehingga tidak lagi menggunakan timba untuk mengambil air.
Masih aku ingat bagaimana aku waktu kecil menimba air di sumur ini. Sepertinya baru beberapa tahun yang lalu akhirnya sumur ini dipasang pompa. Salah satu hal yang masih aku ingat sampai sekarang adalah pemandangan indah bagaimana Bude hana memakai kemben waktu itu. Oh, aku baru ingat. Apakah aku bisa melihat pemandangan itu lagi?
Tubuhku berjingkat. Namun, aku tidak perlu terburu-buru, sebab ada Pakde di rumah. Dengan sedikit lesu aku mengambil handuk dan keluar dari kamar. Kuletakkan begitu saja ponselku di kamar, kutinggalkan Dewa mengoceh sendiri.
Pakde sudah tidak aku lihat lagi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 16.00, cukup lama juga aku ada di kamar tadi. Aku bergegas ke belakang dan benar apa yang aku bayangkan. Ada pemandangan indah di sini. Kulihat Bude pundaknya tidak tertutupi, memakai kemben dengan buah dadanya terlihat menonjol. Ternyata beliau sedang mencuci baju. Kulihat tidak terlalu banyak cuciannya.
“Pakaian kotormu mana, Gun? Sini Bude cuci sekalian!” kata Bude.
“Ah, nggak usah Bude. Lagian ini masih saya pake,” kataku.
“Makanya sekalian mandi sana! Jadi baju kotornya Bude cuci,” ujarnya.
“Lha, trus aku pakai apa?”
“Kan kamu mandi, jadi nanti keluar pake handuk kan nggak apa-apa. Lagian nggak ada siapa-siapa di sini, kayak Bude orang lain aja.”
Aku ragu sih. Mungkin Bude lupa kalau aku sudah besar. Mana tubuh Bude yang mulus dan berisi ini bikin aku tegang atas dan bawah. Lucunya, aku menurut begitu saja. Aku masuk ke kamar mandi dan melepas bajuku, setelah itu baju kotorku aku sampirkan ke pintu kamar mandi. Keran air aku nyalakan dan air pun mulai mengalir memenuhi bak mandi.
Pintu kamar mandi ini tidak begitu tinggi bagiku, sehingga kepalaku masih bisa melihat keluar dari kamar mandi. Bude segera berdiri untuk mengambil bajuku. Untuk beberapa detik kulihat tubuh Bude. Bodinya sungguh luar biasa, seksi seperti gitar spanyol. Tubuhnya sedikit berisi, rambutnya sedikit basah dan diikat. Kulitnya kuning langsat dan aku bisa lihat ketiaknya mulus tanpa bulu saat tangannya diangkat untuk mengambil pakaianku. Masih saja aku pelototi buah dadanya itu, sungguh indah dengan urat-urat hijaunya yang terlihat.
Dari sini aku mulai heran, kenapa Pakde dan Bude sampai sekarang tidak punya anak? Apakah mereka tidak bisa punya anak? Apakah salah satu dari mereka mandul atau bagaimana? Atau ada sesuatu yang lain, alasan sampai sekarang mereka tidak punya anak?
Kalau dilihat-lihat Bude merupakan perumpamaan impian para lelaki. Aku saja bisa mencium bau wangi tubuhnya dari jarak sejauh ini. Entah sabun apa yang beliau pakai, tetapi setiap kali aku mencium bau tubuh Bude rasanya seluruh jiwaku seperti tersiram air dingin. Bukan bau biasa, sebab aku tahu bagaimana bau parfum Paris, dan parfum-parfum lainnya. Ini beda, bau natural alami dari seorang perempuan dewasa.
Bude kembali sibuk mencuci bajunya. Aku pun kembali ke diriku sendiri. Mandi. Ingat! Mandi!
“Pakde kemana Bude?” tanyaku.
“Pakdemu ke ladang. Kemana lagi? Paling juga ngasih bayaran ke anak buahnya,” jawab Bude. Dari kamar mandi, aku bisa melihat bagaimana susunya bergerak-gerak kanan kekiri setiap kali dia mengucek baju. Aku menelan ludah lagi.
Dari pemandangan ini sudah bisa ditebak, aku ereksi. Aku pun menyambil sabun, lalu mulai menyabuni tubuhku. Sebenarnya ingin sekali aku mengocok batangku sambil melihat susu Budeku, sayangnya itu tindakan bodoh dan sudah pasti ketahuan. Bude bakalan bertanya bunyi kocokanku. Aku nggak mau dihukum dua kali gara-gara ini. Alhasil aku siram kepalaku agar dingin dan tidak membayangkan yang aneh-aneh.
Waktu berlalu dan aku pun ingin mengakhiri aktivitas mandiku. Bersamaan dengan itu Bude membilas pakaian. Kututupi tubuh bagian bawahku dengan handuk, sebagaiman instruksi Budeku. Kubuka pintu kamar mandi, Budeku menoleh.
“Bantu Bude jemur baju ya….,” suara Bude tertahan saat melihatku.
“Iya, Bude,” jawabku.
Mata Bude memperhatikanku, seolah-olah menelanjangiku. Aku pura-pura tidka mengetahuinya, malah mengambil bak yang berisi baju yang sudah siap untuk dijemur. Bude menyusulku ke tempat jemuran. Dengan masih memakai kemben beliau meremas cucian, lalu menatanya di jemuran. Aku juga ikut melakukan aktivitas yang sama.
Tak ada pembicaraan, hanya bekerja. Kucoba mengalihkan pikiranku ke arah lain agar tonjolan yang ada di selakanganku tidak kelihatan. Bagaimana aku tidak bisa ereksi jika bersanding dengan perempuan seseksi ini di sebelahku?
Aku tidak hanya menjemur bajuku saja, tetapi juga bajunya Bude. Awalnya aku bingung apakah bajunya juga harus aku jemur. Ada bra, ada celana dalam dan baju yang lain. Ah, masa bodoh. Aku ambil bra tersebut, cupnya lumayan besar. Mungkin tanganku tidak muat. Lalu celana dalamnya. Eh, sebentar. Ini bukan celana dalam namanya. Ini lingerie!
Sesaat aku melirik ke arah Bude. Dari samping terlihat dia sangat menawan. Buah dadanya membusung dan bergerak kesana-kemari saat menjemur baju. Dalam bayanganku, mungkin saat ini aku sudah memeluknya, menciuminya, lalu meremas buah dadanya. Atau yang lebih parah, aku menggarapnya di tempat ini sambil meremas-remas susunya dari belakang. Pikiran jorokku mulai bercokol lagi, sehingga aku pun ereksi tanpa sadar.
“Sudah selesai. Masuk yuk!?” ajak Bude yang memecah keheningan. Bude melirik ke arahku, lebih tepatnya ke selakanganku yang menonjol. Budeku tersenyum, lalu meninggalkanku.
Segera kususul beliau masuk ke dalam rumah. Dari belakang aku melihat bagaimana bongkahan pantatnya ke kanan dan kekiri seirama langkah kakinya. Ludahku lagi-lagi kutelan. Kami berpisah, Bude ke kamarnya, aku ke kamarku.
Pintu aku tutup lalu segera aku buka handukku. Benar saja, otongku tegak dan keras. Sungguh, kalau aku tidak mengingat wanita itu Budeku, mungkin sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Susah payah aku mengambil napas dalam-dalam dan menampar-nampar pipiku agar bisa mengendalikan diri.
Apakah setiap hari akan seperti ini? Entah, rasanya seperti sial dan beruntung sekaligus. Namun, aku tahu ini semua baru permulaan.
* * *
ns 15.158.61.45da2