“Mas, kenalin ini Ustadz Hanan, dia kakak tingkatku dulu waktu masih kuliah.” Ujar Astrie saat aku sudah kembali ke sofa. Di atas meja sudah tersaji tiga gelas minuman, dua diantaranya nyaris habis karena diminum oleh Astrie dan Ustadz Hanan.
Ustadz Hanan berdiri dari tempat duduknya dan menyalamiku. Aku berusaha sekuat hati untuk menerima uluran tangannya dan bersikap biasa saja. Aku sudah berjanji pada Johan untuk tak membawa masalah rumah tanggaku di pesta ini.
“Panggil Hanan saja, nggak usah Ustadz. Tempatnya kurang pas, hehehehe.” Kata Ustadz Hanan.
“Doni, saya suaminya Astrie.” Balasku.
“Aku nggak nyangka kita bisa ketemu di tempat seperti ini.” Ucap Astrie, wajahnya mendadak ceria, tak seperti awal kedatangannya tadi.
“Aku dan Johan sedang mengerjakan proyek bareng. Ya, kerjaan sampingan aja, makanya aku terpaksa datang kesini. Nggak enak nolak undangan teman bisnis.”
Setiap ucapan yang keluar dari mulut Ustadz Hanan hanyalah kebohongan, dia pikir bisa membodohiku begitu saja. Aku semakin muak melihat wajahnya, apalagi saat senyum tanpa dosa dan sok suci itu mengembang di sana.
“Wah bisa kebetulan gitu ya Mas? Mas? Mas Doni?”
Astrie sampai menggoncang-goncangkan bahuku, rupanya sedari tadi aku masih sibuk bergelut dengan kemuakan pada sosok Ustadz Hanan dan mengacuhkan segala hingar bingar di sekitarku.
“Eh, i-iya.” Sahutku sedikit tergagap.
Di bagian tengah ruangan keriuhan makin membahana. Beberapa tamu undangan pesta bersorak kegirangan saat Johan berdiri di samping booth DJ memberikan kata-kata seremonial membuka acara pesta malam ini. Beberapa kali dia menyebut nama-nama tamu undangannya yang terkenal diiringi dengan joke-joke cabul receh yang disambut gelak tawa orang-orang. Setelah beberapa menit memberi kata sambutan, Johan secara resmi membuka acara pesta malam ini.
Nyala lampu ruangan mendadak menjadi lebih terang. Beberapa orang pria berbadan tinggi besar mengangkat peralatan DJ dan menggantinya dengan selembar karpet permadani dengan motif tulisan-tulisan arab. Tamu undangan yang sebelumnya mengerumuni bagian depan booth satu persatu mulai membubarkan diri dan kembali ke sofa mereka masing-masing.
Setelah karpet tergelar, dua orang pria muncul dengan mengusung sebuah mimbar kayu yang biasa aku lihat di dalam masjid, dekat tempat pengimaman. Pria-pria besar tadi kemudian berdiri mengelilingi luas karpet yang tergelar dengan sikap siaga. Tak lama, dari belakang muncul dua orang wanita yang mengenakan hijab, namun hanya itu yang menutupi tubuh mereka sementara bagian bawah tubuh mereka sama sekali tak tertutup apapun. Bagian atas vagina mereka terdapat lafadz Allah, sementara di bagian payudara terdapat tulisan Muhammad bertuliskan huruf Arab.
“Jenie…” Desisku lirih ketika menyadari salah satu dari dua wanita tersebut adalah Jenie, sekretaris pribadiku.
Jenie dan satu orang wanita lagi sudah berada di bagian tengah karpet, keduanya juga sama-sama memegang dildo jumbo berwarna hitam pekat. Tepukan tangan membahana di seluruh ruangan dari para tamu pesta, sebelum kemudian Johan kembali muncul.
“Mas! Acara apa ini?!” Astrie merapat ke sisiku, raut wajahnya mendadak pucat.
“Entahlah, aku juga tidak tau.” Jawabku singkat sambil terus memperhatikan bagian tengah ruangan tempat Jenie berdiri saat ini.
“Tenang aja, ini cuma hiburan kok. Kamu rileks aja.”
Ustadz Hanan mendekati istriku, bahkan tanpa canggung sedikitpun pria itu menyentuh pinggang Astrie, menggesernya agar semakin merapat ke sisinya. Astrie sempat mengelak dan memberi tatapan tajam pada Ustadz bejat itu namun Ustadz Hanan bergeming seolah acuh atas kehadiranku di dekat mereka.
“Pertunjukan pertama malam hari ini adalah lesbian sex dari Jenie si janda mualaf dan Hanifah santriwati muda yang haus sex!” Teriak Johan yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan dari para tamu undangan.
“Mas ayo kita pulang aja…” Suara Astrie sedikit tercekat, entah karena dia tak nyaman dengan pertunjukan mesum di ruang tengah, atau karena keberanian Ustadz Hanan yang mulai menjamah tubuhnya.
“Sebentar lagi ya…” Kataku sembari mengalihkan pandanganku kembali ke ruang tengah.
Jenie dan Hanifah sudah saling merebah di atas kasur. Dua wanita itu saling menjilati dildo yang mereka pegang masing-masing. Beberapa pengujung laki-laki mendekat, hampir semuanya sudah mengeluarkan batang penis mereka, menyaksikan tingkah mesum Jenie dan Hanifah sembari mereka mengocok penis masing-masing. Para pria yang berjaga di sekitar karpet mencegah langkah pengunjung pria untuk tak terlalu dekat dengan Jenie maupun Hanifah.
“Mas…Jangan…”
Aku kembali mengalihkan pandangan mataku ke tempat duduk Astrie. Ustadz Hanan rupanya makin berani, pria bejat itu sedang berusaha menciumi pipi Astrie, istriku itu berusaha menghindar. Darahku mendidih, emosiku tak terkontrol, namun ketika aku hendak bangun berdiri dan melampiaskan kemarahan pada Ustadz Hanan tiba-tiba dari belakang bahuku ditahan oleh Johan.
“Aku sudah siapkan kamar untuk kalian di atas, lebih baik kita ke sana sekarang.” Ucap Johan seolah tau jika emosiku nyaris meledak.
“Ayo Astrie, kita ke lantai dua. Ada kamar istimewa untuk kalian.” Kata Johan seraya melirik tegas Ustadz Hanan. Seolah sedang memberi tanda.
Johan kemudian melangkah menuju anak tangga yang berada di sisi meja bar. Aku dan Astrie mengekor di belakang pria tua itu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Ustadz Hanan mengikuti langkah kami. Pria bejat itu tersenyum ke arahku, entah apa maksudnya. Melihat senyum tanpa dosa mengembang di wajahnya semakin membuatku muak. Johan berhenti di depan sebuah pintu ruangan. Pria tua itu mengeluarkan kartu elektronik untuk membukanya.
“Silahkan.” Ujar pria tua itu seraya mempersilahkan Astrie untuk memasuki kamar. Saat aku hendak ikut melangkah masuk, Johan menahanku, sebelum kemudian dia menutup pintu kamar begitu saja.
“Don, sekarang adalah saatnya.”
“Maksudnya?” Ustadz Hanan ikut mendekati kami.
“Kamu masih ingin melihat istrimu bersetubuh dengan pria lain?” Tanya Johan.
“I-Iya.”
“Sekarang saatnya, Ustadz Hanan akan jadi pejantan untuk Astri sekarang. Kamu boleh melihat di dalam kamar, atau ikut bersamaku menonton di bawah karena persetubuhan antara Astrie dan Ustadz Hanan akan disiarkan secara langsung, ditayangkan di layar besar ruang tengah.”
Aku tercekat, kulihat senyum menjijikkan kembali mengembang di wajah Ustadz Hanan. Dilema kembali menyergap tubuhku. Apakah keputusanku kali ini sudah benar? Tapi aku tidak bisa mundur, aku sudah menerima penawaran dari Johan.
“Bagaimana Don? Waktu kita nggak banyak, pertunjukkan Astrie sudah ditunggu banyak tamuku di bawah sana.” Desak Johan. Aku menghela nafas panjang.
“Aku mau ikut masuk ke dalam kamar.” Kataku.
“Okey, selamat bersenang-senang kalau begitu. Ingat Don, no hurt feeling, just sex! Jangan rusak pestaku dengan emosimu yang tidak perlu.” Johan kembali mengingatkanku. Aku mengangguk setuju.
Johan kembali membuka pintu kamar, kulihat Astrie masih berdiri di dekat pintu dengan wajah cemas.
“Mas…”
Bibir Astrie kembali terkatup, wajahnya bingung saat Ustadz Hanan muncul dari belakangku dan melangkah memasuki kamar.
“Loh? Mas? Ada apa ini?” Astrie pelan-pelan mundur ke belakang, kebingungan dan panik. Aku dengan santai menutup pintu kamar. Kini, kami bertiga sudah ada di dalam ruangan. Inilah saatnya.
Astrie berdiri mematung di tepi ranjang, matanya mulai berkabut ketika melihatku hanya duduk santai di atas sofa panjang dekat meja tv, sementara Ustadz Hanan tanpa malu-malu mulai melepas pakaiannya satu persatu hingga telanjang bulat. Aku melirik ke atas, empat buah kamera CCTV terpasang mengarah ke seluruh penjuru ruangan. Johan tidak bercanda, semua adegan di kamar ini kini sedang disaksikan oleh banyak orang di bawah sana.
“Kamu tidak perlu takut, aku sudah tau hubungan kalian selama ini.” Suaraku bergetar, efek dari tidak karuannya perasaanku saat ini.
“Mak-Maksudmu apa Mas?!”
“Suamimu ingin melihat kita bercinta, seperti yang sering kita lakukan.” Tukas Ustadz Hanan percaya diri. Sungguh, jika bukan karena janjiku pada Johan, mungkin saat ini aku akan mengoyak mulut pria bejat itu dengan tanganku sendiri.
PLAK!
Tanpa kuduga Astrie melayangkan tamparan keras ke pipi kanan Ustadz Hanan. Dalam hati aku bersorak, setidaknya Astrie memberikan sedikit rasa sakit pada pria bejat itu. Tapi kemudian aku tersadar, bukan itu yang kuinginkan saat ini. Mungkin saja itu adalah cara Astrie berpura-pura, melindungi harga dirinya sebagai wanita baik-baik dan istri yang setia. Aku muak dengan kemunafikan Astrie!
“Tutup mulutmu!” Hardik Astrie, air matanya tak kuasa lagi dia bendung, jatuh begitu saja membasahi pipinya yang mulus.
“Kamu tanya suamimu sendiri! Acara malam ini adalah rencananya!”
Ustadz Hanan berbalik badan, kini aku menghadapi dua sosok manusia bejat yang telah mengkhianatiku. Astrie sedikit berlari menghampiriku. Astrie bersimpuh di bawah kakiku dengan berlinang airmata.
“Mas! Tolong katakan semua ini bohong! Aku nggak mau Mas! Aku nggak mau!”
“Apa yang kamu tangisi? Aku sudah tau semuanya, daripada kamu melakukannya di belakangku, lebih baik sekarang lakukan di hadapanku. Aku ingin melihatnya.” Kataku dengan dingin. Aku coba untuk menahan rasa ibaku terhadap tangisan Astrie.
“Mas…Aku mohon…Jangan hukum aku seperti ini..”
Ustadz Hanan yang tak sabar segera mengangkat tubuh Astrie dan membawanya ke atas ranjang. Astrie mencoba berontak tapi Ustadz Hanan sama sekali tak terganggu dengan itu, melihat istriku meronta-ronta layaknya wanita yang akan diperkosa membuat emosiku bergejolak. Aku marah, tapi seklaigus penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Jangan berontak Astrie, kita nikmati aja momen indah ini…” Kata Ustadz Hanan dengan nafas yang memburu.
“Nggak! Nggak! Aku mohon lepaskan aku!!” Astrie terus memberontak, wajahnya putus asa.
“Kamu kenapa sayang? Lihat, suamimu sudah tidak sabar melihat kita bersetubuh. Bukankah kita sudah sering melakukannya?” Darahku mendidih, kedua tanganku mencengkram tepian sofa, Ustadz Hanan dengan begitu lugas mengobra aibnya bersama Astrie selama ini tepat di hadapanku.
“Mas..Tolong aku…Aku mohon Mas..” Astrie makin putus asa, melihatku hanya duduk tenang tanpa melakukan apa-apa.
“Jangan Ustadz...” Astrie tetap menolak, tapi anehnya setiap sentuhan Ustadz Hanan membuat tubuhnya bereaksi, seolah ada yang menggetarkan gairahnya tanpa dia sadari.
“Bukan aku yang mau, tapi suamimu.”
Astrie terdiam dalam kebimbangannya. Ustadz Hanan memanfaatkan kesempatan itu, dia meluncurkan sentuhan dan ciuman lembut pada pundak dan leher Astrie. Astrie menggeliat mencoba melawan untuk kesekian kalinya. Astrie masih berusaha untuk menjaga harga dirinya sebagai seorang istri di hadapanku, meskipun itu sia-sia. Aku sudah tak mempedulikannya lagi.
“Maafkan aku Mas…”
Astrie akhirnya mulai mengendorkan perlawanannya. Maka ketika bibir Ustadz Hanan mulai mendesak bibirnya, Astrie hanya meronta pelan, pun ketika lidah Ustadz Hanan mulai membuka paksa mulutnya, alih-alih melawan, Astrie justru meresponnya dengan kepasrahan.
“Ohh..Mmh..Mmmh..Ohh..” Astrie mendesah tertahan saat lidah Ustadz Hanan mengulum lidahnya.
Selama beberapa menit, bibir keduanya saling melekat, seolah ada lem yang sangat kuat menyatukannya. Astrie tidak kuasa menahan setiap serangan Ustadz Hanan, bajingan itu sangat lihai dalam membangkitkan gairah wanita. Pelan tapi pasti Astrie merasakan getaran birahinya meningkat. Astriepun mulai merespon ciuman dan belaian Ustadz Hanan. Darahku berdesir kencang menyaksikan istriku larut dalam cumbuan lelaki lain.
Sambil terus mencium dan melumat bibir Astrie, tangan Ustadz Hanan juga mulai beraksi. Disusupkannya tangannya ke balik kaftan yang dikenakan Astrie dan mulai meraba-raba bagian perutnya yang licin. Astrie merasa sedikit kegelian saat tangan itu menelusuri perutnya. Sentuhan itu meningkatkan libido Astrie, apalagi saat tangan Ustadz Hanan menyentuh payudaranya.
“Oohh…Aahh..”
Astrie mendesah dan menggeliat saat tangan Ustadz Hanan meremas-remas payudaranya. Sesekali Astrie juga merasakan sentilan dan cubitan tangan Ustadz Hanan pada puting payudaranya. Ustadz Hanan juga memilin-milin dan menarik-narik puting payudara Astrie dengan lembut sambil bibirnya sibuk menciumi leher jenjang istriku. Tubuh Astrie menggeliat menahan nikmat.
Rangsangan demi rangsangan yang dialami Astrie membuatnya akhirnya menyerah. Karena itu ketika Ustadz Hanan perlahan menelanjanginya, Astrie tidak melawan sedikitpun. Ustadz brengsek itu hanya menyisakan hijab saja di bagian kepala Astrie, persis seperti apa yang pernah aku lihat beberapa hari lalu ketika mereka bercinta di rumahku. Astrie sempat menatapku dengan pandangan sayu, payudaranya yang berukuran besar dengan dua puting imut berwarna merah muda terpampang jelas. Tubuhnya yang mulus tanpa cela terlihat begitu menggiurkan. Aku gelisah, bukan karena marah, tapi karena celanaku mulai terasa sesak.
“Gimana Bro? Kamu sudah mulai nafsu melihat istrimu seperti ini?” Tanya Ustadz Hanan sembari meremasi payudara istriku dari belakang.
“Ohh.. lembut banget…” Kata Ustadz Hanan saat jari tangannya merasakan mulusnya payudara putih itu. Kemudian dengan kasar, Ustadz Hanan meremas payudara Astrie.
“Ohh.. Aahh..”
Astrie mengerang dan menggeliat merasakan tangan kasar menjamah bagian tubuhnya yang sensitif itu membuat birahinya semakin meledak-ledak. Apalagi saat Ustadz Hanan dengan ganas mulai menjilati dan mengenyot payudara Astrie. Terkadang Ustadz Hanan juga menggigit-gigit puting payudara itu dengan bibirnya dan menyentil-nyentil puting payudara istriku dengan lidahnya membuat Astrie mendesah merasakan kenikmatan seks yang makin menggelora.
“Occchhhhh…..Ooocchhhhh…..”
Astrie mendesah, antara mau dan menolak menerima perlakuan Ustadz Hanan. Hal itu membuat Ustadz Hanan kian bernafsu. Payudara Astrie dicengkeramnya dengan kasar seolah ingin membetot lepas payudara mulus yang membusung indah itu. Terus-menerus mendapat rangsangan hebat seperti itu akhirnya membuat pertahanan Astrie akhirnya jebol juga. Tubuhnya mengejang keras seperti batu. Wajahnya yang cantik menjadi merah padam menahan desakan orgasme.
“OHH.. AAHH.. AHH… AHHKH..!”
Bukan lagi desahan lirih yang keluar dari mulut Astrie, melainkan teriakan binal. Aku tak tahan, segera kubuka celanaku, mengeluarkan batang penisku yang sudah mengeras sempurna, kemudian tanpa pikir panjang mengocoknya sambil menyaksikan percumbuan antara Astrie dan Ustadz Hanan. Aku tak peduli ada empat kamera CCTV yang menyusur seluruh kamar, mungkin saat ini apa yang aku lakukan juga sedang dilihat oleh tam undangan pesta di lantai bawah.
Ustadz Hanan kemudian merebahkan tubuh Astrie di atas ranjang. Dilihatnya payudara istriku bergetar naik turun dengan lembut seirama nafasnya yang terengah. Selama beberapa saat Ustadz Hanan diam untuk menikmati kemolekan tubuh Astrie.
“Istrimu memang luar biasa Bro! Seumur hidup aku belam pernah merasakan kenikmatan berzina seperti saat menyetubuhi istrimu.” Gumam Ustadz Hanan.
“Hei! Jaga mulutmu bangsat!” Aku tak tahan lagi untuk tidak memaki Ustadz bejat itu.
“Santai Bro, nikmati aja pertunjukannya. Kamu akan melihat bagaimana aku bisa membuat istrimu jadi sebinal pelacur.”
“Anjing!” Aku berdiri dari tempat dudukku, bersiap untuk menerjang tubuh bajingan tengik itu namun Astrie buru-buru mencegahku.
“Mas! Jangan!” Teriak Astrie mencegahku untuk bertindak emosional.
“Kenapa marah Bro? Bukannya ini yang ingin kamu lihat selama ini?” Ejek Ustadz Hanan yang langsung membuatku terdiam.
“Duduk aja lagi and enjoy the show.” Tukasnya sekali lagi.
Aku mengutuki diriku sendiri karena diperlakukan layaknya seorang pria yang tak memiliki power sama sekali. Aku terjebak dalam perjanjian kotor yang telah kulakukan dengan Johan. Tak punya pilihan lain, aku terpaksa kembali duduk di atas sofa, meredam segala kemarahan dalam diri.
“Kamu tidak perlu marah Bro, karena aku dan Astrie sudah punya hubungan istimewa jauh sebelum kalian berdua menikah.” Aku terhenyak, rahasia apalagi yang akan diungkap oleh Ustadz Hanan kali ini.
“Kami dulu sudah sempat akan menikah tapi apalah daya seorang Ustadz guru ngaji dibanding denganmu yang punya pekerjaan mentereng? Tak mengapa orang tua Astrie menolak mentah-mentah hubungan kami, tapi tidak dengan hati istrimu.” Ustadz Hanan melirik ke arah Astrie, istriku itu sama sekali tak berani menatap mataku.
“Jadi jangan salahkan Astrie kalau selama ini tidak pernah memuaskanmu saat bercinta, itu karena hatinya memang bukan untukmu Bro! Jiwa dan raganya hanya untukku!”
“Bangsat!” Umpatku dengan geram, namun hanya disambut senyum sinis oleh Ustadz Hanan.
Akhirnya aku tau alasan Astrie kenapa begitu dingin saat berada di atas ranjang bersamaku. Bukan karena dia polos atau tak tau apa-apa soal sex, tapi karena wanita yang telah kunikahi selama dua tahun terakhir ini sama sekali tak mencintaiku. Astrie menerima perjodohan kami karena terpaksa. Sebuah kenyataan yang membuatku semakin terluka.
Dasar pelacur!
“Maafkan aku Mas…Aku nggak bermaksud..”
Belum sempat Astrie menyelesaikan kalimatnya, Ustadz Hanan lebih dulu menindih tubuh istriku. Kedua paha Astrie terbuka dengan sendirinya, daerah vaginanya yang bersih tanpa bulu terlihat terbuka lebar. Lalu dengan lembut Ustadz Hanan mulai menindih tubuh mulus istriku. Payudara Astrie yang menonjol ketat menekan dadanya. Ustadz Hanan menggerakkan dadanya naik turun untuk merasakan kelembutan daging empuk tersebut. Astrie kembali mendesah lirih.
Untuk sesaat Astrie menatap Ustadz Hanan, yang akan menyetubuhinya, tapi kemudian Astrie menutup matanya, seperti membiarkan naluri seksualnya yang membimbing jiwa dan raga. Ustadz Hanan mulai menggesekkan penisnya pada bibir vagina Astrie membuat tubuh istriku menggeliat geli. Lalu perlahan Ustadz Hanan membimbing penisnya menerobos vagina Astrie. Pelan-pelan penis hitam itu melesak masuk ke liang vagina Astrie.
“Ohhkh…!!”
“Ssstttt…Bukan itu yang biasa kita lakukan…”
“Aaakkhhhh….”
Astrie merintih, entah kesakitan atau karena saking nikmatnya. Aku tak lagi peduli, kini yang tersisa dalam diriku hanyalah birahi menyaksikan istriku bercumbu dengan bajingan tengik, dan tentu saja kemarahan luar biasa karena dua tahun lamanya aku dibohongi oleh Astrie.
“Ohh… Enak banget Ya Allah…”
Ustadz Hanan mengerang merasakan kenikmatan yang menghantam setiap titik syaraf penisnya. Ustadz Hanan mendorong pantatnya menghimpit selangkangan Astrie membuat penisnya masuk sepenuhnya di dalam liang vagina istriku. Keduanya sekarang telah benar-benar menyatu secara ragawi. Sementara aku hanya bisa menatap nanar sembari mengocok batangku sendiri.
Setelah diam selama beberapa saat, Ustadz Hanan mulai menggerakkan pantatnya untuk memompa vagina Astrie dengan penis legamnya. Astrie mendesah saat vaginanya disodok oleh penis pria bejat itu. Sesekali Ustadz Hanan juga mencumbu leher, bibir, serta payudara Astrie dengan mulutnya. Suara lenguhan Astrie berkali terdengar lantang memenuhi ruangan, menambah kesan erotis yang tak pernah kudapatkan kala bercinta dengan istriku tersebut.
“Sebut nama Allah sayang kalo kontolku enak…” Perintah Ustadz Hanan ditengah gempuran penisnya di dalam liang vagina Astrie.
“Aaachhhh! Allah…Allahhuakbar!!” Pekik Astrie.
Tubuh Astrie melonjak-lonjak, payudaranya bergerak naik turun mengikuti irama sodokan pinggul Ustadz Hanan yang semakin lama semakin cepat. Sesekali Ustadz bejat itu menusukkan penisnya begitu dalam dengan sentakan keras.
Tak hanya membuat Astrie terlonjak, tapi juga membuat istriku berteriak tanpa kontrol. Selang beberapa saat, Ustadz Hanan melepas batang penisnya. Diarahkannya tubuh Astrie menungging dengan kepala menghadap ke arahku. Kami hanya berjarak beberapa senti.
“Lihat, suamimu begitu menikmati pertunjukan kita.” Ujar Ustadz Hanan sembari memainkan ujung penisnya pada permukaan vagina Astrie.
“Eeemmcchhhh….” Astrie melenguh manja, masih malu-malu menatapku.
Namun tanpa diduga, Ustadz Hanan menarik paksa ujung jilbab yang dikenakan Astrie, membuat kepala istriku terdongak ke atas, punggungnya melengkung. Dengan rakus, Ustadz Hanan menciumi bibir Astrie. Melihat itu terjadi makin membuatku terbakar birahi, kupercepat kocokan pada batang penisku.
“Heegghhhhh!!”
Lenguhan panjang Astrie menjadi penanda saat penis Ustadz Hanan kembali menyesaki liang senggamanya. Pria bejat itu langsung menggenjot tubuh istriku dari belakang dengan kecepatan tinggi. Tubuh Astrie terdorong maju mundur dengan nafas tersenggal. Kali ini dia sudah berani menatapku, bahkan tanpa sadar dia menunjukkan ekspresi keenakan, seolah memamerkan kenikmatan yang tengah dia rasakan.
“Ouuhhhhh! Ya! Mentokin! Aaahhh!!”
“Enak mana kontol suamimu atau kontolku?”
“E-Enak semuanya! Aaachhh!”
“Bohong! Jawab dengan jujur! Enak mana?!”
Mendadak Ustadz Hanan menghentikan goyangannya. Astrie terlihat kecewa dipermainkan seperti itu, sia menoleh ke belakang sembari menggoyang-goyangkan pantatnya, berharap agar Ustadz Hanan kembali menyodokkan penisnya. Tapi pria bejat itu bergeming, dia hanya berdiam diri dan tak mau bergerak.
“Jawab dulu baru aku teruskan.” Ucap Ustadz Hanan penuh kuasa. Astrie menatap wajahku ragu-ragu.
“E-Enak punya Ustadz…” Jawab Astrie lirih. Harga diriku tercabik-cabik, tak hanya dikhianati, nyatanya istriku lebih menyukai penis laki-laki lain.
“Sori Bro, istrimu yang bilang sendiri. Hahahahaha!” Ledek Ustadz Hanan sebelum kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Entah kenapa setelah mendengar itu dari mulut Astrie sendiri seketika memadamkan birahiku. Aku sudah tak berminat lagi mengocok penisku sendiri. Kumasukkan batangku kembali ke dalam celana. Kesenangan dengan fantasi menyaksikan Astrie disetubuhi pria lain hilang begitu saja, berganti dengan amarah yang luar biasa hebat. Sungguh harga diriku sebagai seorang pria, sebagai seorang suami, runtuh tanpa sisa ketika mendengar keperkasaanku tak diperhitungkan oleh istriku sendiri.
Di atas ranjang lenguhan Astrie dan Ustadz Hanan sahut menyahut, bergelut dengan birahi mereka berdua, seolah mengejek nasib burukku. Aku hanya duduk terdiam di atas sofa dan berharap apa yang dilakukan oleh keduanya segera berakhir dan aku bisa bergegas pulang. Pada akhirnya dendamku justru membuatku terpuruk seorang diri. Setelah beberapa saat Ustadz Hanan akhirnya memuntahkan spermanya di dalam lianf senggama Astrie.
Istriku terlentang lemas, nafasnya tersenggal naik turun setelah dihajar orgasme akibat lesakan penis pria yang dicintainya. Sesaat mereka berdua bercumbu mesra, seolah tak mempedulikan keberadaanku yang duduk tak jauh dari ranjang. Ustadz Hanan kemudian mengemasi pakaiannya, sementara Astrie masih rebahan di atas ranjang, tubuh telanjangnya tertutup selimut tebal. Setelah kembali berpakaian, Ustadz Hanan menghampiriku.
“Terima kasih Bro, istrimu selalu luar biasa. Next time kita bisa melakukan threesome. Hehehee.”
“Anjing….”
“Wooo…Kamu ingat janJonasu pada Johan kan? Just sex bro! Rileks!”
“Cepat pergi dari sini sebelum aku sobek mulutmu yang busuk itu.” Ancamku dengan geram. Ustadz Hanan hanya tertawa sembari melangkah pergi menuju pintu kamar.
Namun, belum sampai pria bejat itu meraih gagang pintu, pintu kamar lebih dulu terbuka dari luar. Dua orang pria berbadan besar muncul dengan ekspresi dingin. Aku ingat salah satunya adalah pria yang mempersiapkan karpet di lantai satu tadi.
“Wah pakai dijemput segala ternyata.” Ujar Ustadz Hanan sembari berbalik badan menatapku. Aku semakin geram, tapi sekuat mungkin aku tahan emosiku agar tak mengumbar kemarahan sebagaimana perintah dari Johan.
Namun, betapa terkejutnya Aku salah seorang pria yang membuka pintu kamar tiba-tiba mencekik leher Ustadz Hanan dari belakang menggunakan seutas tali kabel. Sontak Ustadz bejat itu memberontak sekuat tenaga, tubuhnya meronta-ronta dan wajahnya memerah karena kesulitan mendapat asupan oksigen. Tanpa belas kasihan pria bertubuh besar itu menekan tali kabel, menjerat leher Ustadz Hanan kuat-kuat hingga beberapa menit kemudian tubuh pria yang baru saja meniduri istriku itu lemas tak bergerak. Ustadz Hanan mati dengan cara yang tragis. Di atas ranjang Astrie berteriak histeris dan ketakutan.
Aku shock!
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku melihat pembunuhan secara langsung di depan mataku. Aku mundur beberapa langkah, salah seorang pria menatap wajahku dengan dingin. Keringat membasahi dahiku, kulihat Astrie makin histeris, air matanya tumpah bebarengan dengan isak tangis tiada henti. Apakah kali ini giliranku yang akan menjemput ajal?
Di tengah kepanikanku, muncul sosok Johan dari balik pintu. Pria tua itu memerintahkan dua pria bertubuh besar tadi untuk membawa mayat Ustadz Hanan keluar dari kamar. Setelah dua anak buahnya berlalu dengan membawa jasad Ustadz Hanan, Johan berjalan tenang mendekatiku.
“Bagaimana Don? Dendammu pada Ustadz Hanan sudah kubalaskan malam ini.”
“Ta-Tapi..I-Itu tadi…” Aku masih shock dan gugup, bahkan tubuhku gemetar.
“Kenapa? Bukankah itu yang kamu inginkan?”
“I-Iya..Ta-Tapi…”
“Sudahlah Don, aku tau kamu ingin melenyapkan nyawa orang yang meniduri istrimu kan? Aku sudah mewujudkannya untukmu, bahkan tanganmu tidak perlu berdarah-darah untuk menuntaskan dendammu.”
“Mas…Ayo kita pulang…Aku mohon..” Pinta Astrie dengan berurai airmata.
“Pulang? Boleh, tapi sayangnya masih ada satu pertunjukan lagi. Pertunjukan utama pesta ini. Benar kan Don?” Ujar Johan seraya menatapku.
“Pertunjukan apalagi? Bukankah tadi kalian sudah melihat semuanya?” Kataku.
“Hahahahaha! Tadi cuma pemanasan Don, apa yang kamu lihat di kamar ini tujuannya hanya untuk memuaskan fantasimu saja. Aku tambah bonus membalas dendammu pada Hanan.” Aku terkesiap. Astrie terdiam seraya menatapku tajam.
“Kamu tega Mas! Bajingan!” Teriak Astrie sembari memukuli tubuhku. Aku sama sekali tak menghindar, kubiarkan Astrie meluapkan emosinya kali ini.
Dari balik pintu kamar, dua orang pria yang tadi membawa mayat Ustadz Hanan kembali masuk. Aku bersiap, berusaha untuk melindungi Astrie.
“Don, tolong kooperatif. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal, dan kamu juga sudah menyetujui semuanya.”
“Ta-Tapi…Aku mohon biarkan kami pulang.” Johan melirik kedua anak buahnya. Dua pria bertubuh besar itu kemudian merangsek maju ke depan, menarik paksa pergelangan tangan Astrie dan membawa istriku keluar dari kamar.
“Tolong! Mas! Toloong!” Astrie berusaha memberontak sambil berteriak meminta tolong padaku tapi apa daya, aku sama sekali tak kuasa menahan laju dua pria anak buah Johan melangkah pergi.
“Aku pria yang selalu menepati janji Don, setelah pertunjukan utama, kau dan Astrie bisa pulang dan melanjutkan hidup kalian kembali.” Johan menyusul anak buahnya pergi dari kamar, meninggalkanku yang masih berdiri mematung, meresapi penyesalan.
KLING!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselku. Aku terhenyak melihat pemberitahuan, sebuah transfer masuk ke rekening bankku sejumlah 500 juta rupiah. Kakiku mendadak lemas, aku terduduk begitu saja di tepi ranjang, bukan karena bahagia mendapat uang setengah milyar, tapi karena tak menduga Johan akan senekat ini.
Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan!
565Please respect copyright.PENANAcL0pNwC08t
BERSAMBUNG
Cerita ini sudah tersedia dalam format PDF FULL VERSION , KLIK LINK DI BIO PROFIL UNTUK MEMBACA VERSI LENGKAPNYA565Please respect copyright.PENANAQMap3vQmKk