“Ini serius Umi???” Tanyaku tak percaya.
“Terserah Mas Azam aja, kalo emang mau ayo kita lakukan.” Ujar Ustadzah Hanum seolah tanpa beban. Tangan kanannya masih mengelus-elus selangkanganku yang masih tertutup kain celana.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, kepala kami berdua beranjak mendekat satu sama lain di tengah lenguhan Ustadz Hilman dan kedua istrinya. Kuusap wajah Ustadzah Hanum dengan punggung telunjuk kananku. Lalu kubelai kepalanya yang masih tertutup mukena dengan tangan kananku, terus sampai dengan tengkuknya. Kemudian kukecup bibir Ustadzah Hanum perlahan.
Ustadzah Hanum pun membalas mengecup bibirku. Perlahan tapi pasti, kecupan itu berangsur-angsur berubah menjadi ciuman. Kulumat bibir bawah Ustadzah Hanum sementara Ustadzah Hanum juga melumat bibir atasku. Kucoba memainkan lidahku di mulutnya. Ustadzah Hanum pun merespon dengan ikut memainkan lidahnya beradu dengan lidahku. Nafasnya sudah memburu tak beraturan, mencoba melampiaskan birahi yang sejak tadi seperti tak tertahankan.
Tangan kananku mulai bergerilya di tubuh Ustadzah Hanum, sementara tangan kiriku tetap di punggungnya menjaga agar tubuhnya tetap di dekatku. Kuremasi buah dadanya yang berukuran besar dan masih tertutup kain mukena. Sesekali dia mendengus panjang saat tak sengaja jemariku menyenggol bagian putingnya yang telah mengeras sempurna.
Puas bermain-main di area dada, jemariku merambat turun menuju bongkahan padat pahanya. Tanganku menyelinap masuk menerobos ke dalam mukena. Begitu mulus dan halus, itulah yang aku rasakan kala telapak tanganku berhasil mengelus-elus pahanya.
Ustadzah Hanum seolah tau apa yang kuinginkan, tanpa diminta, wanita yang usianya lebih tua dariku itu mengangkat kain bagaian bawah mukena hingga payudaranya yang indah menggantung bebas tepat di hadapanku, sementara puting imutnya yang berwarna merah muda kecoklatan menggoda untuk segera kuhisap.
Kembali kucium bibir Ustadzah Hanum sambil sedikit kecondongkan tubuhnya ke bawah agar jatuh terlentang. Kami bercumbu hebat layaknya sepasang kekasih yang begitu lama tak berjumpa. Sementara itu tak jauh dari tempat kami, Ustadz Hilman mulai menyetubuhi Alfiah dengan posisi doggystyle. Tubuh wanita muda itu bergerak maju mundur mengikuti irama pinggul sang ustadz yang menghentak maju mundur. Zaskia harus rela berbagi penis untuk sementara waktu, istri ketiga sang ustadz itu juga ikut menungging membelakangi Ustadz Hilman, menikmati colokan jemari kekar sang ustadz yang mengobok-oboknya cepat.
Tak lama Ustadzah Hanum menarik bagian bawah kaosku yang masih kupakai dengan kedua tangannya, dilanjutkan dengan aku sendiri yang melepas celana panjangku. Batang penisku yang sejak tadi sudah mengeras akhirnya dapat terlihat bebas. Ustadzah Hanum bangkit dari posisinya dan langsung menduduki pahaku, aku pun menarik mundur pantatku sampai ujung bawah pahaku menyentuh bagian atas karpet mushola. Kurapatkan kedua pahaku hingga Ustadzah Hanum dapat duduk di kedua pahaku dengan kakinya ditekuk di atas karepet di samping kedua pahaku.
Ustadzah Hanum langsung menciumi bibirku dengan ganas, kedua tangannya berada di kepalaku mengusap-usap tak tentu arah. Sementara pinggulnya bergoyang maju mundur membuat gesekan antara bibir vaginanya dengan batang penisku yang mengacung ke atas bersandar pada perutku. Gesekan vagina Ustadzah Hanum hanya menyentuh area pangkal penisku, membuat sekitar pangkal penisku menjadi basah oleh cairan kenikmatannya. Aku membalas ciuman Ustadzah Hanum tak kalah ganasnya. Tangan kananku aktif melakukan remasan-remasan ke payudara kiri Ustadzah Hanum yang kurasakan agak keras.
“Jangan kenceng-kenceng Mas. Sakit…” Kata Ustadzah Hanum disela-sela desahannya. Luar biasa! Ini adalah payudara terbesar yang pernah aku rasakan. Jauh lebih besar dibanding milik Zahra bahkan.
“Saya isepin aja ya Umi…” Kataku sambil mengarahkan mulutku ke arah puting kiri Ustadzah Hanum, dan Ustadzah Hanum pun meninggikan posisi tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lutut dan tumitnya mensejajarkan posisi putingnya dengan mulutku. Dengan dibantu remasan tangan kananku di payudaranya, aku menghisap puting kirinya.
“Aacchh.. ”
Desah Ustadzah Hanum saat aku hisap putingnya dengan ganas bagaikan bayi yang menahan dahaga seharian. Aku hisap dengan rakusnya diselingi gigitan kecil di putingnya. Setelah puas menghisap payudara kiri Ustadzah Hanum, aku beralih ke payudara kanannya dan kembali menghisap puting kanannya tanpa dibantu tanganku, karena tangan kiriku berada di punggung Ustadzah Hanum menjaga agar tubuhnya tetap di dekatku. Sementara itu tangan kananku kembali menjelajah tubuh Ustadzah Hanum dan berhenti di bongkahan pantatnya sebelah kiri, lalu kuremas bongkahan pantat itu diselingi sedikit tamparan ke pantat kiri istri pertama Ustadz Hilman itu.
Petualangan tangan kananku pun terhenti di area selangkangan Ustadzah Hanum. Diawali dengan sentuhan lembut di belahan pantatnya menuju permukaan lubang anusnya. Kumainkan sebentar jari tengah tangan kananku di sana yang sudah basah terkena lelehan cairan kenikmatan dari vaginanya. Lalu jari tengah tangan tanganku terus bergerak menuju lubang vaginanya yang sudah basah akibat bergesekan dengan batang penisku sebelumnya.
Kucelupkan ujung jariku sedalam satu ruas jari di lubang vaginanya lalu kukocok dengan kecepatan sedang yang membuatnya semakin mendesah tidak beraturan. Tidak hanya kukocok, lubang vaginanya juga kukorek-korek dengan ujung jari tengahku sambil sesekali kumainkan klitorisnya yang sudah mengeras dan kurasakan cairan kenikmatan Ustadzah Hanum yang beberapa kali merembes keluar dari lubang vagina.
Ustadzah Hanum melonjak-lonjak saat jari tengahku masuk seluruhnya dalam vaginanya dan kukocok dengan agak cepat sementara mulutku masih terus menghisap puting kanannya. Kocokan jari tengahku di vaginanya kulanjutkan dengan gerakan memutar jari tengahku dalam vaginanya. Kurasakan dinding lubang vaginanya yang bergerenjal dengan sesekali ujung jariku menyentuh mulut rahimnya.
“Aahhh!! Ya Allah! Enak banget Mas!! Aaahh!!” Desah Ustadzah Hanum seiring dengan pergerakan jari tengahku di vaginanya.
Tidak lama kemudian tubuh Ustadzah Hanum terlonjak-lonjak semakin cepat dan bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan dan diakhiri dengan tubuhnya yang mengejang sambil kedua tangannya meremas samping kanan kiri kepalaku dengan mulut dan hidungnya ditempelkan di bagian atas kepalaku.
“Ooouuugghhhh…!! Allahu Akbar!!!” Jerit Ustadzah Hanum panjang.
“Haah! Hahh!! Hah!!!” Nafas Ustadzah Hanum terengah-engah. Setelah tubuhnya melemas kembali, kedua tangannya di tempatkan di kedua pipiku lalu menarik wajahku untuk kemudian diciumnya bibirku sambil mengucap,
“Kamu hebat Mas, Zahra bodoh banget udah nyelingkuhin kamu.”
“Umi juga hebat…” Kataku sambil membalas ciumannya.
“Saya masukin ya?” Ustadzah Hanum pun menjawab dengan anggukan dan senyuman yang membuat wajahnya semakin cantik dan berkilau saat itu.
Lalu kuarahkan batang penisku yang sudah keras sempurna dan basah akibat semprotan cairan vaginanya saat orgasme tadi. Kutempelkan ujung kepala penisku ke vaginanya untuk mencari letak lubang kenikmatan. Ustadzah Hanum membantu dengan menggerakan pinggulnya agar posisi penisku tepat pada mulut vaginanya. Setelah dirasakan pas, Ustadzah Hanum menurunkan tubuhnya perlahan-lahan sehingga perlahan pula batang penisku tenggelam ditelan lubang vaginanya.
“Aaacch!”
Desah Ustadzah Hanum saat kepala penisku menyentuh ujung dinding vaginanya. Dinding vaginanya yang hangat terasa sedikit berkedut saat menyelimuti seluruh batang penisku. Lalu dia pun kembali mencium bibirku. Saat Ustadzah Hanum menciumku itu, bisa kulihat posisi Ustadz Hilman sedang menyetubuhi Zaskia dalam posisi man on top.
Tubuh mungil Zaskia bak sasak hidup bagi postur kekar sang ustadz yang bergerak liar dari atas. Pinggulnya bak piston mesin berkekuatan tinggi yang menggempur habis-habisan liang senggama Zaskia. Sementara itu disaat Ustadz Hilman dan Zaskian bersetubuh, Alfiah yang telah melepas mukenanya memilih untuk berpindah posisi ke bagian belakang tubuh mereka berdua. Tanpa rasa jijik wanita muda itu menjilati lubang anus Ustadz Hilman.
Sambil tetap mencium Ustadzah Hanum, mataku terpaku memandang apa yang sedang mereka bertiga lakukan. Sementara itu, Ustadzah Hanum perlahan-lahan mulai menggoyangkan pinggulnya ke depan dan ke belakang, membuat gesekan antara batang penisku dengan dinding dan bibir vaginanya.
“Ugh…Ughhh…Ughhhh…”
Desah Ustadzah Hanum seiring dengan bertambahnya tempo kecepatan kocokan vagina Ustadzah Hanum terhadap batang penisku. Ustadzah Hanum tidak kuasa untuk menciumku lagi. Dirinya fokus pada goyangan maju mundur pinggulnya. Sepertinya Ustadzah Hanum mencoba meraih orgasmenya yang kedua. Sementara itu di hadapanku Ustadz Hilman makin beringas menggenjot tubuh Zaskia dari atas.
“Aaacchh..Abii!! Aampun Abii!!! Aaachhh!” Pekik Zaskia dengan tubuh mengejang. Vaginanya bak sedang dihajar tusukan demi tusukan penis kekar milik Ustadz Hilman.
Benar saja beberapa saat kemudian Zaskia menjerit parau, kedua matanya mendelik menatap langit-langit mushola, Ustadz Hilman sigap dan segera mencabut batang penisnya dari dalam vagina wanita muda itu. Dengan satu jeritan panjang Zaskia mencapai orgasmenya, dari vaginanya menyemprot cairan kira-kira setengah meter hampir mengenaiku dan Ustadzah Hanum. Tubuhnya kejang-kejang tak karuan.
“Allah…Allah….Allah…”
Desahnya menikmati orgasme hasil karya Ustadz Hilman. Ditepuk-tepuk vagina Zaskia tepatnya di area klitoris yang membuat muncrat cairan yang masih keluar meleleh dari dalam liang vagina. Zaskia makin belingsatan dikerjai oleh jari-jari Ustadz Hilman, tubuhnya menggelinjang bak caing kepanasan.
Melihat pemandangan itu, aku menjadi tidak sabar untuk segera menyetubuhi Ustadzah Hanum. Kucoba membantu Ustadzah Hanum mempercepat meraih orgasmenya. Kuletakkan kedua tanganku di bongkahan pantatnya. Kutambah kecepatan goyangan pinggulnya dengan bantuan kedua tanganku. Sambil kucengkeram pantatnya, kumajumundurkan pantat Ustadzah Hanum sehingga gesekan antara vaginanya dengan batang penisku semakin cepat.
Batang penisku merasakan semakin banyaknya cairan hangat yang berada dalam liang kenikmatannya hingga menambah licinnya gesekan penisku dengan vaginanya. Kumasukkan satu ruas jari tengah tangan kananku di lubang anusnya, yang juga seolah-olah ikut mengocok lubang anus Ustadzah Hanum saat tanganku menggerakkan maju mundur pantat Ustadzah Hanum.
“Achh!!! Terus Mas!” desahan Ustadzah Hanum semakin semakin keras dan goyangan Ustadzah Hanum semakin cepat.
“Akh akh akh khu sampe Mas!”
Jeritnya dengan tubuhnya yang melonjak-lonjak dan bergetar hebat diakhiri dengan tubuhnya yang mengejang sambil memeluk erat tubuhku. Aku pun membalas memeluk erat tubuhnya. Batang penisku merasakan dinding vagina Ustadzah Hanum yang berdenyut-denyut. Cairan kenikmatan dari vagina Ustadzah Hanum merembes keluar membasahi pangkal penisku dan area pangkal pahaku.
“Ugghhhh…Enak banget Mas…” Katanya masih dengan nafas yang terengah-engah.
“Lemessh…” Katanya lagi.
Ustadzah Hanum menyandarkan kepalanya di bahu kiriku dengan wajah menghadap ke wajahku hingga hembusan nafasnya yang masih tersenggal-senggal bertiup ke leherku. Batang penisku masih menancap setia di dalam lubang vagina Ustadzah Hanum.
“Kamu belum keluar juga Mas?” Desis lirih Ustadzah Hanum tepat di dekat telingaku. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Lama ya keluarnya? Atau mungkin tadi sama Nita udah ngecrot banyak?” Tanyanya penasaran.
“Mungkin Umi…” Jawabku.
“Kamu sama kayak Abi Hilman Mas, keluarnya lama. Hihihihi.”
“Mungkin Azam butuh memek baru lagi Mi.” Celetuk Ustadz Hilman tiba-tiba.
“Jadi menurut Abi, memek Umi nggak enak ya?” Sahut Ustadzah Hanum dengan wajah cemberut.
“Bukan begitu sayang, Azam kan baru ngrasain ngesex rame-rame kayak gini. Mungkin dia masih penasaran rasanya kalo nyobain memek Zaskia atau Alfiah.”
Alfiah yang belum mendapatkan orgasme beranjak dari tempatnya mendekatiku dengan senyum penuh arti. Senyum mesum yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari wajah gadis muda itu. Ustadzah Hanum tanpa diperintah kemudian turun dari pangkuanku. Aku masih terdiam tak tau harus berbuat apa. Meskipun Ustadz Hilman sudah memberi persetujuan tapi tetap saja perasaan canggung dan malu masih saja mengganggu pikiranku.
“Mas Azam mau nyobain memek Alfiah?” Tanya istri kedua Ustadz Hilman itu.
“Bo-Boleh…?”
“Tentu saja boleh Mas, Abi Hilman udah setuju kan?” Ujar Alfiah seraya melirik ke arah Ustadz Hilman yang kini bersiap menyetubuhi Ustadzah Hanum.
“Udah santai aja Zam, hari ini anggap aja sebagai hari keberuntunganmu. Semua istri-istriku ini bisa kamu pake sampai puas! Hahahahaha!” Kata Ustadz Hilman sambil tertawa lepas tanpa beban.
2337Please respect copyright.PENANANtfM0It2fQ
BERSAMBUNG
Cerita ini sudah tersedia dalam format PDF FULL VERSION , KLIK LINK DI BIO PROFIL UNTUK MEMBACA VERSI LENGKAPNYA2337Please respect copyright.PENANAtlv91DFN3S