
******
Chapter 6 :
You're My Girlfriend Now
******
82Please respect copyright.PENANA27Z4pDWP0n
Violette:
AKU sangat mengantuk.
Aku sudah mandi dari jam...entahlah, seingatku sekitar jam lima pagi tadi. Mengingat pesan dari Justin kemarin—di mana dia berkata bahwa dialah yang akan menjemputku—membuatku terperanjat dan Nathan sampai menyatukan alisnya karena heran padaku. Waktu itu aku baru saja selesai makan—bahkan aku belum mencuci tanganku—dan aku langsung membaca pesannya.
Akibat isi pesan itu, aku jadi menghidupkan alarm karena aku takut terlambat bangun. Bayangkan saja! Dia selalu menghitung setiap detik dari keterlambatanku dan aku tidak ingin mengulanginya lagi. Sebenarnya, jika bisa, aku mau balas dendam padanya. Dengan cara apa? Tentu saja dengan menyusup ke parkiran apartemennya dan membuat ban mobilnya bocor sehingga gantian dia yang terlambat.
Apa aku coba saja, ya?
Hmm…nanti dulu, deh. Aku masih sayang dengan nyawaku.
Aku sudah sarapan. Aku juga sudah menggoreng telur serta bacon untuk Nathan meski dia belum bangun. Untuk berjaga-jaga, aku duduk di teras rumahku untuk menunggu kedatangan Justin. Ketika kulirik jam tanganku, ternyata ini masih jam 6.25 pagi. Lima menit lagi. Apakah dia akan tepat waktu?
Aku sebenarnya masih sangat mengantuk. Aku menguap dan tubuhku rasanya seperti mau remuk. Aku meregangkan ototku, lalu menumpukan kepalaku di meja dengan beralaskan lengan kiriku sendiri. Rumah kami ini adalah rumah panggung, lalu di terasnya—lantai depan rumah, sebelum tangga turun menuju ke halaman—ada dua buah kursi dan sebuah meja. Di salah satu kursi itulah aku duduk.
Ah...sial, ke mana Justin? Aku takut aku tertidur kembali meski aku sudah mandi.
Aku masih menumpukan kepalaku di meja bundar berbahan kayu jati itu ketika tiba-tiba kudengar suara klakson mobil dari depan rumahku. Aku sontak terduduk tegap dan mengelus dadaku; mataku membulat, jantungku nyaris berhenti berdetak karena kaget. Aku lalu menatap ke halaman rumahku.
Oh, si CEO itu.
Aku mengernyitkan dahi, jujur aku sedikit melongo kali ini. Maksudku, aku ingin melihat dia, tetapi kaca mobil bagian depannya terlalu gelap. Aku bahkan baru menyadarinya.
Dia mengklaksoniku lagi dan hal itu sontak membuat mataku membeliak. Aku refleks mengelus dadaku.
Sialan. Tidak bisa sabarkah? Ugh.
Aku berdecak, menggeleng, dan bangkit dari dudukku. Kurapikan pakaianku sebentar, lalu aku berjalan dengan cepat hingga menuruni tangga. Setelah itu, aku berlari lagi sampai aku berada di samping mobilnya. Aku memfokuskan mataku ketika aku memperhatikan mobilnya, kemudian aku membuka pintu mobil itu dan masuk. Aku tahu dia memperhatikanku sejak aku masuk ke dalam mobilnya hingga aku menutup kembali pintu mobil itu.
Setelah aku duduk di jok yang ada di samping jok pengemudi, aku pun menatap ke arahnya. Dia sudah tak lagi memperhatikanku, tetapi...wow, dia hot sekali! Sebenarnya, begitu aku masuk ke dalam mobil ini, aroma parfumnya yang maskulin dan seduktif itu langsung masuk ke indra penciumanku. Dia tampak segar sekali pagi ini dan oh Tuhan, hidungnya memang terlihat mancung sekali ketika kulihat dari samping seperti ini. Ujung hidungnya itu tampak tajam. Rahangnya juga sangat tegas, membentuk lekuk wajahnya yang tirus. Setelah itu...eh? Aku melihat dia mengeraskan rahang... Apa aku salah lihat?
Andai saja dia tidak kejam. Ah, ini memalukan. Lagi pula, untuk apa dia menjemputku? Well, dia yang sekarang ini selalu menganggapku seperti butiran debu. Dia selalu dingin dan bersikap tak mau tahu terhadapku dan hal itu membuatku kesal. Sialnya aku tak menemukan di mana titik keanehan yang ada pada dirinya hingga membuatnya mau menjemputku pagi ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi?
Justin hanya diam, lalu dia mulai menjalankan mobilnya kembali. Dia memutar roda kemudinya dan sekarang kami sudah berada di jalan raya.
Kami sudah nyaris sepuluh menit berada di dalam mobil dan aku tak bisa memulai pembicaraan. Kami hanya diam dan ini terasa sangat canggung. Aku meneguk ludahku. Lebih baik aku turun dari mobil jika suasana di sini terasa sangat mencekam! Aku ingin berbicara, tetapi aku tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan dengan orang seperti dia. Oh Tuhan, aku benar-benar membencinya dan ingatlah! Aku sekarang tak pernah akur dengannya. Rasanya kami bukan teman baik lagi seperti dulu.
Aduuuh, aku tak bisa jika hanya diam seperti ini! Namun, apa yang harus aku perbuat? Apa yang harus aku bicarakan?
Aku menarik-narik rokku agar tidak terangkat sampai terlalu pendek ketika aku sedang duduk seperti ini.
Aku menggigit bibir sembari meremas jemariku, mencoba untuk berbicara meski sialnya aku tergagap.
"Me—mengapa kau yang menjemputku?" tanyaku.
Okay, kuharap jawablah dengan baik, Mr. Sok Mengatur.
Dia hanya diam. Sial.
Ya ampun, aku sudah berusaha keras untuk memecah kecanggungan ini dan katakan padaku bahwa usahaku itu tidak sia-sia!
"Why did you pick me up today, Sir?" tanyaku dengan nada yang kusopan-sopankan. Mungkin jika itu didengar oleh Megan, Megan akan tertawa keras. Aku menatap Justin dengan senyuman palsuku yang kupasang semanis mungkin.
Dia hanya menoleh ke arahku sekilas, lalu kembali menatap jalan. "Kita akan ke perusahaan Martin, aku yakin kau ingat itu," ujarnya singkat.
Aku menyatukan alis, sedangkan dia hanya menatap jalan dengan ekspresi yang datar.
Aku mendengkus. "Aku ingat, Sir, tetapi seharusnya aku bisa pergi sendiri," ujarku sembari menggeleng. Aku ingin meminta penjelasan padanya, tetapi dia hanya diam seraya mengeraskan rahang. Mengapa dia mengeraskan rahangnya? Apa dia sedang marah?
"Sir," panggilku lagi. Dia tetap diam.
Aku kontan berdecak. "Justin!!"
Dia hanya menolehkan kepalanya ke arahku dan mengunciku dengan tatapan matanya. Aku mendadak meneguk ludah. "Mengapa kau selalu saja banyak bicara, Vio? Aku menjemputmu karena ini adalah satu-satunya cara agar kita sampai di sana bersama-sama dalam waktu yang singkat. Pikirkan apa yang akan terjadi jika aku menunggumu di kantor dengan kebiasaan terlambatmu itu. Kau mengerti?"
HECK. Aku hanya terlambat beberapa detik dan itu terus saja diungkit setiap harinya!! Sial. Aku harus balas dendam!!
Dia menghela napas dan menatap jalan lagi. Aku menggeram sendiri; aku mengepalkan tanganku. Setelah itu, entah mengapa tiba-tiba dia menghentikan mobilnya. Aku membulatkan mata; aku nyaris kehilangan keseimbanganku karena aku tidak berpegangan. Namun, untung saja aku memakai sabuk pengaman.
Aku menatapnya dengan panik, aku takut setengah mati.
"A—ADA APA INI, JUSTIN? KAU MENABRAK ORANG?!" teriakku.
Dia menatapku lagi, kali ini ekspresinya dingin.
Dia lalu berkata dengan dingin, "Kau protes untuk bisa pergi sendiri, 'kan? Turunlah."
Aku kontan semakin membulatkan mata.
Aku yakin aku benar-benar menganga sekarang. "T—tapi aku tak tahu jalannya dan aku tak membawa mo...torku..." ucapku, semakin lama suaraku semakin lirih. Kuyakin ekspresi wajahku kini terlihat blank bak orang tolol. Dia masih memandangku dengan ekspresi dinginnya itu, lalu dia menatap ke depan lagi dan mobil ini kembali berjalan. Aku tercengang.
"Makanya, diam," ujar Justin. Aku kontan kaget bukan main. Ah, sial, ancaman macam apa itu tadi? Aku jadi merasa kalau aku ini bodoh sekali!
Akhirnya, aku hanya bisa membenarkan posisi dudukku kembali dan tertunduk.
"Yes," ujar Justin tiba-tiba.
Aku lalu menoleh ke arah Justin. Oh, dia sedang menjawab telepon.
"Oh, Elika. Why?"
82Please respect copyright.PENANAJNA00vHF6s
Eh? Bu Elika?
82Please respect copyright.PENANAIoLEyI7eyv
Ya Tuhan, aku mulai merasa kalau ada yang tidak beres dengan Bu Elika itu. Namun, meskipun begitu, aku merasa bersalah jika aku menebak yang bukan-bukan. Aku lalu kembali mendengarkan Justin. Ini jatuhnya seperti menguping, sih, tetapi ya sudahlah.
"Berbicaralah dengan benar, Elika. Ini jam kerja dan lebih baik kau serius."
"Hm."
Kali ini Justin tiba-tiba menoleh ke arahku dan aku mengernyitkan dahi ketika pandangan kami bertemu. Setelah itu, dia fokus menatap jalanan lagi dan menjawab, "Violette."
Aku mengangkat alis. Apa yang sedang mereka bicarakan? Ah, kurasa Bu Elika menanyakan Justin sedang bersama siapa. Entahlah.
"Aku tutup jika kau tidak ada perlu apa pun," ujar Justin, lalu dia mematikan sambungan telepon itu dan meletakkan ponselnya ke atas dashboard. Mataku mengikuti gerakan Justin dan akhirnya pandanganku kembali ke wajah tampannya lagi. Namun, aku hanya diam dan tak ingin menanyakan apa pun. Aku pun akhirnya mengalihkan pandanganku dan menatap ke depan, ke arah jalan.
Kali ini kami sama-sama diam. Tidak terlalu terasa canggung lagi karena kami terjebak di dalam pikiran masing-masing hingga akhirnya kami sampai di depan perusahaan Martin. Ini pasti perusahaan cabang milik Martin yang berada di New York. Haha, aku ingin tertawa ketika mengenang masa lalu, yaitu saat kami menjalankan misi Red Lion di kantor pusat perusahaan Martin yang ada di Perancis. Aku tak menyangka bahwa aku dulu bisa sehebat itu. Apakah Justin merasakannya juga? Ha. Tidak mungkin.
Aku membuka pintu mobil dengan cepat ketika kami sampai dan kudapati Justin sudah berjalan mendahuluiku. Kudengar Justin sudah mengunci pintu mobilnya dengan key fob yang ada di tangannya. Dia berjalan di depan sana dan aku lantas mengejarnya. "Justin—oh Tuhan, tunggu aku!"
Aku terus berlari dan akhirnya aku bisa sampai di dekatnya. Aku kini berjalan berdampingan dengannya dan aku merasa kami keren sekali ketika berjalan bersama seperti ini. AH, APA-APAAN PIKIRANKU INI? Gah, aku geli sendiri dengan imajinasiku. Yang keren itu Justin, sebenarnya. Bukan aku.
Aku menggeleng, lalu menatap ke samping kiriku—Justin ada di samping kananku—dan aku menemukan banyak pasang mata yang tengah memperhatikan kami. Aku meneguk ludahku, kemudian aku tertunduk. Kami terus berjalan bersama-sama tanpa berbicara satu sama lain hingga akhirnya kami sampai di dekat pintu putar perusahaan. Aku kini berjalan di belakang Justin.
Justin berjalan mendekati resepsionis yang ada di lobi perusahaan itu dan membicarakan sesuatu yang tak begitu kudengarkan. Aku hanya diam di belakangnya dan menatap ke sekeliling seraya mengerutkan dahi. Gila! Nyaris semua orang kini tengah menatap ke sini!
Ketika kusadari bahwa Justin sudah berjalan lagi, mataku membeliak dan aku langsung berlari ke dekatnya hingga kemudian kami sampai di sebuah lift. Dia masuk dan aku pun mengikutinya. Di dalam lift, dia hanya diam. Ia menaruh sebelah tangan kirinya di dalam saku celananya hingga akhirnya kubikel lift itu terbuka dan aku mengikutinya lagi. Dia terus berjalan dan finally kami sampai di depan sebuah pintu. Kurasa ini adalah ruangan Martin.
Justin mengetuk pintu itu.
Pintu itu terbuka dan tampaklah sosok pria dengan setelan jas hitamnya. Rahang pria itu ditumbuhi rambut-rambut tipis. Ia berambut kecoklatan dan sedikit berjambul. Ya Tuhan, itu adalah Martin. Martin yang sekarang. Aku terdiam untuk waktu yang agak lama...hingga akhirnya kusadari bahwa Justin sedang berjabat tangan dengan Martin dan memeluknya bak sahabat karib. Ya Tuhan, aku ingin menangis.
Dulu mereka berdua benar-benar bermusuhan. Martin selalu mengejar Justin bak sedang mengejar seorang teroris karena Martin menganggap bahwa Justin telah mengambil istrinya yang bernama Hillda. Peperangan mereka saat itu... Kegemparan dunia saat itu...
Sekarang mereka jadi seakur ini.
Mataku berkaca-kaca tatkala mengingat kembali bahwa Justin hampir mati pada saat itu.
Aku tak menyangka kalau Justin akan melakukan kerja sama dengan perusahaan Martin. Terkadang takdir Tuhan memang lebih indah daripada apa yang kita duga.
Setelah mereka selesai berpelukan, Martin pun menatapku dengan senyuman khasnya. Justin juga menatapku.
"Violette? Lama tak bertemu denganmu." Martin menyapaku dengan ramah dan kami berjabat tangan. Aku tersenyum penuh haru dan kami berpelukan sekilas.
"Yes... It's been a long time," jawabku dan Martin terkekeh.
"Ayo, silakan masuk," ajak Martin sembari mempersilakan kami berdua masuk ke dalam ruangannya. Martin berjalan memunggungi kami berdua. Kalau aku tidak salah...sepertinya Justin mendorong punggungku dengan pelan untuk mengajakku masuk. Mendadak aku mengernyitkan dahiku, merasa aneh. Dia tak berbicara, tetapi dia mendorong punggungku dengan pelan menggunakan sebelah tangannya hingga kami duduk bersebelahan di sebuah sofa yang ada di ruangan Martin. Justin bersandar, sedangkan aku duduk tegap. Seorang perempuan menaruh sebuah teko yang terbuat dari kaca serta tiga buah gelas bertangkai ke atas meja, kemudian ia pergi lagi. Itu adalah sirop.
Martin duduk di seberang kami dan ia membuka jasnya agar merasa sedikit bebas.
"Aku tak menyangka bahwa kita akan bertemu kembali," ujar Martin sembari tertawa. "Jadi... Kalian sudah menikah?" tanya Martin dan sontak mataku membulat. Perutku langsung mengejang.
Justin terkekeh. Wah? Apa yang dikekehkannya? Aku justru memerah sendiri.
Martin mengernyitkan dahi. "Jadi...apakah—"
Tiba-tiba aku merasa tanganku digenggam. Aku sontak terkejut dan langsung menatap punggung tanganku yang terasa bagai diselimuti oleh kulit telapak tangan yang hangat. Tangan itu berukuran lebih besar dariku.
Tunggu.
Justin—MEMEGANG TANGANKU?
Ya Tuhan, apa yang sedang ia lakukan? Tolong, ini bukan saatnya bagiku untuk memberontak dengan keras atau mengomeli dia seperti biasanya. Aku tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, tetapi ini nyata.
Justin tiba-tiba tersenyum miring. Pria itu menatap Martin dengan tatapan yang sangat bersahabat. "Kami hanya berpacaran. Sekarang dia adalah executive assistant-ku. Ah—aku benar-benar sibuk; aku belum tahu kapan kami akan menikah."
WHAT? LELUCON APA INI?!!!
Aku memelotot—karena tak terima—pada Justin, tetapi Justin tiba-tiba mengelus punggung tanganku. Aku meneguk ludahku dengan susah payah dan aku tahu kalau napasku jadi tertahan karena aku sedang shock. Sialan. Apa maksud dari semua ini?
Apa dia sedang merencanakan sesuatu? Setelah dia membuatku jadi benci padanya karena sifatnya yang menyebalkan itu, kini dia memperlakukanku dengan manis di depan orang lain? Aku selama ini menyayangi Justin sebagai sahabat karibku, tetapi aku jadi membencinya sejak dia berubah menjadi sosok yang sangat kejam.
Aku peduli padanya, tetapi aku juga membencinya. Ini membingungkan dan aku tahu itu.
Lagi pula, kekasih?
BELUM TAHU KAPAN AKAN MENIKAH?
Astaga—apa-apaan ini?!
Aku menggeleng tak habis pikir. Pipiku mulai memanas.
"Wah, tampaknya kau sedang sibuk sekali, ya? Selamat untuk kalian. Aku harap undangan pernikahan itu cepat datang kemari," kata Martin dan Justin tertawa. Aku menunduk, tetapi aku yakin kalau wajahku pasti memerah sekali saat ini.
"Ah... Christian! Oh my God—hey! Jangan berlari, kau harus makan! Sweetheart!"
Terdengar suara ketukan high heels di lantai dan bunyi-bunyian dari sepatu anak-anak. Aku, Justin, dan Martin sontak menoleh ke asal suara yang rupanya berada sekitar lima meter di belakang Martin. Aku ternganga ketika aku melihat bahwa di sana ada seorang wanita dengan rambut brunette sepinggang yang tergerai indah. Wanita itu memakai dress panjang berwarna merah dan terlihat begitu anggun. Dia sedang mengejar seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia tiga tahun dan anak itu terlihat benar-benar lucu. Baju dan celananya, sepatunya, serta rambut pirangnya yang ikal... Ya Tuhan, rasanya aku ingin menggigit anak itu!! Aku menutup mulutku ketika wanita itu mendongak dan mulai melihat ke arah kami.
Itu Hillda.
Sontak aku terperangah, lalu perlahan-lahan aku tersenyum lembut. Rasanya aku begitu terharu. Aku pun berteriak, "Hillda!!"
Wajah Hillda terlihat berseri-seri ketika ia melihatku dan matanya membulat tak menyangka. Dia menggeleng—hampir-hampir tak memercayai matanya—tetapi reaksinya itu dibuyarkan oleh anak laki-lakinya yang tiba-tiba berlari ke arah kami. Hillda langsung berlari mengejar anak itu dan aku tertawa. Justin hanya tersenyum manis tatkala ia melihat Hillda; pria itu tidak menunjukkan ekspresi yang begitu berarti. Namun, aku tahu bahwa mungkin saja kenangan itu masih ada.
Anak laki-laki yang bernama Christian—berdasarkan cara Hillda memanggilnya—itu mendadak melompat ke pangkuan Martin.
"Hup—woaaah. Our little hero is coming back to Daddy, hmm?" kata Martin, kemudian Martin menciumi pipi anak itu. Martin mendudukkan anak itu di pangkuannya. Hillda kini berdiri di belakang Martin dan Martin menyuruh Hillda untuk duduk di sebelahnya. Hillda dan Justin lalu bersalaman dan mereka berdua hanya memberikan tatapan yang biasa saja. Aku...sungguh, aku jadi terbayang masa lalu dan aku merasa seolah...
Aku tak tahu. Namun, mereka hanya saling tersenyum.
"Hei," sapa Hillda.
"Hei." Justin balas menyapa, kemudian jabatan tangan mereka terlepas.
Sekarang Martin dan Hillda terlihat bagai keluarga kecil yang paling bahagia di depanku...
Aku dan Hillda kini bertatapan dengan lembut.
"Ini anakku. Haha, dia sudah besar." Martin mulai berbicara sembari memosisikan anaknya agar duduk dengan benar. Well, anak itu ternyata adalah anaknya. Anak itu mirip sekali dengan Martin.
Oh ya ampun, aku ingin menggaruk lantai saking gemasnya melihat anak itu.
"Dia sangat mirip denganmu," komentar Justin. Martin tertawa.
"Yeah," jawab Martin. "begitulah."
Tiba-tiba si kecil Christian turun dari pangkuan ayahnya dan berlari ke belakang sofa yang sedang diduduki oleh kedua orangtuanya. Dia lalu berlari jauh ke belakang sana dan kami semua terperanjat. Justin nyaris tertawa. Aku sontak berdiri dan mencegah Hillda—yang berencana untuk mengejar Christian—kemudian aku berlari sendiri untuk mengejar Christian. Mereka tertawa melihatku mengejar Christian sampai sosokku tak terlihat lagi di mata mereka. Ruangan Martin ini besar dan banyak lorongnya. Si kecil Christian berlari ke lorong yang ada di sebelah kiri dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Aku berhasil mendapatkan tubuh Christian ketika aku sampai di ruangan itu. Aku berdiri sembari menggendong Christian dan aku menatap ke sekeliling.
Ini ternyata merupakan sebuah kamar.
Ketika aku berbalik, Hillda rupanya sudah bersandar di di kosen pintu. Aku nyaris saja terpelanting ke belakang karena terkejut.
Hillda tertawa.
"Hillda," ujarku seraya mengelus dadaku. Hillda mendekatiku dengan senyumannya dan dia mengambil Christian dari gendonganku ketika ia sampai di dekatku. Setelah itu, dia duduk di pinggiran kasur dan mengisyaratkanku untuk ikut duduk bersamanya. Aku pun menganggukkan kepalaku dengan kaku. Ya ampun, rasanya sekarang malah aku yang kalah dewasa dari Hillda, padahal dulu akulah yang sering menasihati Hillda. Oh Tuhan, aku tidak berkembang menjadi semakin baik.
Hillda memosisikan Christian agar duduk dengan baik di sebelahnya. Setelah itu, Hillda memelukku dengan sangat erat. "VIOLETTE!!!! BAGAIMANA KABARMU? Ya Tuhan, sudah berapa lama kita tidak bertemu?!! Tiga tahun?! Empat tahun?! Ternyata kau di New York!! Aku kebetulan sedang ikut suamiku untuk mengecek cabang perusahaan kami di sini dan aku beruntung sekali bisa bertemu denganmu!!! ASTAGA..."
Aku balas memeluknya dan sedikit mencium aroma tubuhnya yang harum saat kami berpelukan. "Aku baik-baik saja, Hillda. Bagaimana denganmu? Kau memiliki anak yang lucu."
Hillda tertawa, lalu dia melepaskan pelukannya. "Yeah, aku baik juga. Oh, benarkah?"
Aku mengangguk dengan antusias dan dia tertawa lagi. Aku berbisik padanya, "Kalau begitu, aku menunggu Christian dewasa saja, deh."
Hillda tertawa keras.
"Kau sudah menjadi nenek-nenek ketika Christian dewasa. Lagi pula, hey! Bagaimana dengan Justin? Sejak kapan kalian berpacaran, eh?" Dia menyenggol lenganku sembari senyum-senyum. Alisnya naik turun untuk menggodaku. Argh—bagaimana ini?
Aku menggigit bibir. Aku mau bicara apa? Sialan dengan apa yang tadi Justin katakan. Hillda yang tak mendengar pembicaraan itu pun ternyata bisa mendapatkan gagasan bahwa Justin dan aku sedang menjalin hubungan spesial. AARGHHH!!!!!
"Tidak—aku..."
"Cepatlah menikah, Vio. Aku tak sabar ingin melihat anakmu nanti," ujar Hillda dengan antusias dan mataku terbelalak. Wajahku memerah dengan cepat. Ah...siaaaaaaaaal!
Aku terkekeh dengan awkward, menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali.
"Aku senang bahwa yang jadi dengan Justin itu kau," ujar Hillda, dia menatapku dengan tatapan lembutnya. Aku sontak mengernyitkan dahiku dan dia tersenyum padaku. Dia menatapku dengan intens.
"Semoga kau juga yang kelak menjadi istrinya," kata Hillda kemudian. Hillda semakin melebarkan senyumnya. Aku tertegun.
Aku meneguk ludahku.
Tiba-tiba Hillda mengalihkan pandangannya dariku dan mulai mencari Christian. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu akhirnya dia menemukan Christian yang ternyata ada di belakangnya. Dia bernapas lega, kemudian dia menatapku kembali sembari memegang punggung tanganku.
"Hei, para lelaki ada di luar sana, bagaimana jika kita mengobrol di sini saja? Tidak enak mengganggu mereka yang sedang berbicara soal bisnis," kata Hillda, lalu ia tergelak. Sontak aku ikut tertawa.
"Baiklah."
Pada akhirnya, aku hanya terus mengobrol dengan Hillda sampai Justin dan Martin selesai. Aku tadi tidak membantu Justin, astaga. Hahaha. Hmm…biarkan saja, deh. Aku diajak oleh Hillda, 'kan? Ups.
82Please respect copyright.PENANAXJSK0sBsSZ
******
82Please respect copyright.PENANAUNETdE5zy8
Author:
Ketika urusan bisnis itu selesai, Violette dan Justin akhirnya keluar dari kantor Martin. Mereka lagi-lagi berjalan berdampingan.
Violette terus menoleh ke arah Justin, batinnya seakan berteriak; Violette ingin meminta penjelasan dari Justin. Penjelasan tentang mengapa Justin berkata bahwa Violette adalah kekasihnya. Namun, Violette tidak mungkin memarahi Justin di tengah jalan. Nanti saja ketika di mobil, pikirnya.
Ketika sampai di dalam mobil, Justin maupun Violette langsung menutup pintu mobil Bugatti merah milik Justin itu dan tak lama kemudian Justin menghidupkan mesin mobilnya. Justin mengemudi dengan santai, sementara Violette sibuk berperang sendiri di dalam kepalanya. Sial, ini akan sulit jika Justin kembali ketus.
Selama nyaris lima menit, suasana terasa canggung dan sangat hening. Suasana itu seolah menertawai mereka. Kebekuan Justin sangat sulit untuk dicairkan sekalipun bagi Violette yang merupakan temannya. Akan tetapi, akibat rasa penasaran yang sudah tak sabar ingin dipuaskan, Violette pun akhirnya mengeraskan rahang dan memberanikan dirinya untuk menatap Justin.
"Justin," panggil Violette dengan pelan, merasa kalau dirinya agak lelah untuk ribut dengan Justin. "mengapa kau berkata seperti itu pada Martin? Kau—apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau tiba- tiba jadi bersikap baik padaku?"
Justin menghela napas samar.
"So?" tanya Justin dengan pelan dan singkat.
SIAL, MAN. Violette jadi merasa bagai bebek betina yang terus berisik di samping pria itu!
Violette menggeram bukan main. "AKU BERTANYA PADAMU APA YANG SEDANG KAU PIKIRKAN!!!!!" teriak Violette. Okay, kali ini semua emosinya langsung meledak dan menyembur ke luar. Namun, ekspresi wajah Justin tetap datar meski Violette sudah mengamuk di sebelahnya.
Justin hanya diam. Violette tentu saja jadi semakin jengkel.
"HEI, AKU SEDANG BERTANYA PADAMU! HEI!! APAKAH AKU MASIH HARUS MEMANGGILMU DENGAN SEBUTAN 'SIR' DALAM KEADAAN SEPERTI INI?!!"
"Berhentilah berteriak, Violette," ujar Justin dingin.
Violette semakin menggeram dan mengamuk. Gadis itu mulai berteriak tidak jelas agar Justin jadi semakin pusing. Jika Justin pusing, ada kemungkinan kalau Justin akan kesal dan terpaksa memberitahunya. Namun, itu kemungkinan yang pertama. Kemungkinan yang kedua adalah: Violette akan ditendang ke parit oleh pria itu.
"LA LA LA LA O O O O JUSTIN JA WAB SE KA RANG O O NA NA TRA LA LA..."
Violette terus berteriak dan bergerak seperti badut di dalam mobil, tetapi Justin hanya mengernyitkan dahinya samar. Itu pun hanya ketika suara Violette besarnya melampaui batas.
"Violette."
Oh, itu peringatan yang pertama. Namun, bodo amat. Violette kembali berteriak, "JAWAB AKU, BERITAHU AKU APA YANG SEDANG KAU PIKIRKAN!! AKU BUKAN KEKASIHMU DAN ITU ANEH, MR. KEJAM! OH, TERNYATA KAU BISA BERPERILAKU MANIS JUGA, YA? APA KAU HANYA SEPERTI ITU DI DEPAN ORANG LAIN? SELAIN ITU—"
"It's just a fake relationship," jawab Justin dengan tenang dan dingin. Violette sontak berhenti dari perilaku hyperactive-nya dan ia lantas menatap Justin sembari menganga. Fake relationship? OH TUHAN, APA LAGI INI? Tidak. Violette bukan tipe orang yang mudah untuk dipermainkan. Violette tahu siapa saja manusia yang hanya memanfaatkannya, hanya mempermainkannya, dan hanya menipunya.
"Jangan bercanda, Justin," kata Violette, nada Violette terdengar begitu tajam. Violette menatap Justin dengan saksama dan Justin langsung menghentikan mobilnya. Violette sedikit terdorong ke depan, tetapi dalam jangka waktu beberapa detik, semuanya kembali ke keadaan semula.
"Aku tidak suka bercanda, Ms. Morgan. Maka dari itu, diamlah dan jangan buat aku memecatmu sekarang juga," ujar Justin.
Violette menggeleng. "Aku tak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah apa alasanmu berkata bahwa itu adalah hubungan palsu. Aku bukan wanita murahan yang biasa menggeliat di dekatmu kapan saja, lalu menuruti apa pun kemauanmu termasuk menjalin hubungan palsu denganmu. Kau tahu itu, kan, Sir?" jawab Violette dengan penuh penekanan. Tatapan dari kedua mata Violette juga tampak begitu mengerikan, ia memicing tajam seolah setipis silet. Violette mengatakan itu sembari menunjuk Justin dengan jari telunjuknya.
"Memangnya siapa yang sedang mempermainkanmu? Kalau aku ingin bermain-main, lebih baik aku mempermainkan wanita-wanita yang lebih cantik di luar sana. Jaga ucapanmu," jawab Justin tak kalah tajam.
"KATAKAN PADAKU APA MAKSUD DARI FAKE RELATIONSHIP YANG KAU KATAKAN!" teriak Violette dengan penuh amarah, ia tak memedulikan jawaban Justin barusan. Justin menggeram, kemudian pria itu mencengkeram roda kemudinya dan menoleh ke arah Violette.
"Elika." Justin berbicara dengan nada serius. Pria itu langsung menatap Violette dengan tatapan intens. Violette tersentak sesaat, kemudian gadis itu menyatukan alis.
"What...what do you mean?" Violette menggelengkan kepalanya tak mengerti.
Justin mengembuskan napasnya samar dan menghadap kembali ke depan.
"Dia akan terus menggangguku. Kuharap kau mau membantuku."
Violette terdiam. Satu menit kemudian, Justin kembali menjalankan mobilnya.
Bu Elika? Mengganggu Justin?
Sebenarnya, apa hubungan Justin dengan Bu Elika itu? Violette sama sekali tidak tahu. Namun, sepertinya…ini aneh. Lagi pula, mengingat Justin yang sifatnya seperti itu...pria itu takkan memberitahukan hal seperti ini kepada siapa pun. Justin tidak suka menceritakan tentang dirinya kepada orang lain, kecuali jika orang itu penting baginya.
Violette sudah merasa bahwa Justin tidak akan mungkin memberitahunya soal Bu Elika, bahkan bila Violette memaksanya sekalipun. Misterius tetaplah misterius. Dingin tetaplah dingin. Mengintimidasi tetaplah mengintimidasi. Itu saja.
Selain itu, mengapa harus Violette yang membantunya? Lagi pula, apa pentingnya menghiraukan Bu Elika sampai harus meminta bantuan Violette untuk melakukan hal seperti ini? Sungguh, sudah ada berapa pertanyaan? Segalanya masih tidak jelas dan itu membuat Violette sakit kepala sendiri tatkala memikirkannya.
Namun, Violette ingin tahu.
Apakah Bu Elika itu memiliki suatu hubungan khusus dengan Justin? Apakah Bu Elika itu penting bagi Justin? Semua rasa penasaran itu seolah tak bisa lagi Violette tahan di dalam benaknya. Violette ingin menanyakannya pada Justin karena entah mengapa sekarang hal itu membuat Violette jadi tidak tenang.
Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi dengan Violette? Setiap mendengar nama ‘Elika’ keluar dari mulut Justin, rasanya...
Namun, tetap saja Justin tidak boleh menggunakan Violette untuk menjadi ‘pacar palsunya’ demi menghiraukan segala tingkah laku Bu Elika!
Violette mendadak jadi marah lagi saat memikirkan itu. "Mengapa harus aku?!! BANYAK SEKALI WANITA YANG LEBIH CANTIK, 'KAN? SO COME ON! GET THEM!" teriak Violette, tetapi Justin hanya diam sembari mengemudi.
Violette mengepalkan tangannya. "MEREKA LEBIH BISA MELAYANIMU, 'KAN? HA," teriak Violette lagi.
Justin masih diam.
"LAGI PULA, KAU ITU GILA! Kau tahu bahwa itu adalah ide yang buruk jika kita berpura-pura. Aku tak ingin melakukannya, even in a thousand years later in my life," ujar Violette kesal. Violette membuang wajahnya dari Justin dan mengeraskan rahang.
"You will be dead by then," jawab Justin santai.
Violette kontan menganga. Ia langsung menoleh ke arah Justin dan memelototi Justin habis-habisan. "HEI!!! ENAK SAJA KAU BILANG AKU AKAN MATI! Kau melakukannya demi Bu Elika dan kau tak memedulikan perasaan orang lain lagi! Lebih baik kau memecatku saja daripada menyuruhku untuk bekerja sebagai executive assistant-mu sekaligus kekasih palsumu. Aku lebih senang diberhentikan daripada harus menuruti kehendak gilamu itu. Aku tahu bahwa kau itu kejam, tetapi ini mulai keterlaluan dan kupikir kau harus tahu itu, Sir," peringat Violette. Tak terasa mata Violette jadi berkaca-kaca. Yah, kehilangan pekerjaan yang menyakitkan untuk satu waktu mungkin tidak masalah, tetapi mengapa tiba-tiba Violette jadi ingin menangis?
'Oh, c'mon, Vio. Mengapa kau menangis setelah kau memarahinya?' batin Violette, pikirannya jadi kalut. Seharusnya Violette memarahi Justin habis-habisan, tetapi kali ini...mengapa...
Sial. Violette rasa ia sudah terjebak dalam sikap otoriter pria itu. Ini menyebalkan.
Violette dengan cepat mengusap air matanya. Dia tahu ini tidak masuk akal, aneh, dan sia-sia saja. Toh Justin sedari tadi hanya diam dan tak meresponsnya. Berarti belum tentu Justin akan mendengarkannya, 'kan?
Tiba-tiba mobil itu berhenti di pinggir jalan dan Justin langsung turun dari mobil. Justin memutari mobil itu dari depan dan membuka pintu mobil yang ada di samping Violette, kemudian pria itu melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di tubuh Violette. Setelah itu, dia menarik tangan Violette dengan kuat hingga sukses membuat kedua mata Violette membulat penuh.
Justin lalu menutup pintu mobil itu kembali dan menarik Violette ke dekat sebuah gedung. Gedung itu ada di samping gedung besar yang berwarna keabuan. Di sana kelihatannya cukup sempit karena mereka berada di sela-sela dua gedung besar yang entah merupakan gedung apa. Violette hanya terus ditarik oleh Justin dan gadis itu mulai mengaduh kesakitan.
Setelah itu, kini Justin mengimpit tubuh Violette ke tembok samping gedung itu. Pria itu mengunci tubuh Violette dengan sebelah tangannya, lalu mengunci tatapan Violette dengan tatapan intensnya.
Violette merasa bahwa jantungnya seolah akan jatuh dari tempatnya karena dia terkejut bukan main. Mata Violette masih membulat sempurna; dia mendapati hidung mancung Justin yang sekarang nyaris menyentuh hidungnya lantaran tubuh mereka nyaris menempel. Justin menumpukan sebelah tangan pria itu pada tembok dan sebelah tangannya lagi ada di dalam saku celana slim fit-nya. Justin benar-benar mengunci tubuh Violette yang wajahnya nyaris pucat karena kaget.
Violette meneguk ludahnya dan menggigit bibir bawahnya kuat- kuat. Matanya sama sekali tidak berkedip. Aroma maskulin dari tubuh Justin dan napas beraroma mint-nya menguar di sekeliling Violette dan terasa semakin menggelitik indra penciuman Violette. Itu adalah aroma kemaskulinitas khas pria yang membuat Violette jadi tak berkutik.
"K—kau—Justin—what the hell are you doing?!!"
Justin hanya diam. Pria itu terus menatap Violette dengan tatapan yang dalam, tetapi masih terkesan dingin.
"Jus...tin...ini sempit sekali!" berontak Violette, tetapi tenaganya sama sekali tak bisa membuat Justin bergeser.
"Justin—ya ampun—Just—"
"Kau bilang itu adalah ide yang buruk jika kita berpura-pura, 'kan?" tanya Justin seraya menyipitkan matanya. Violette meneguk ludahnya dan tertunduk. Bola mata berwarna karamel milik pria itu akan membakar Violette jika Violette terus memandanginya. Bola mata itu akan memaksamu untuk terjebak di dalamnya dan takkan pernah bisa kembali. It’s mesmerizing, burning, and sucking you in. Bola mata itu mampu mengunci seluruh tubuhmu hanya karena menatapnya.
This is not good.
Violette yakin wajahnya mulai memerah meski ia tak tahu sekarang ini ia sedang malu atau sedang marah.
Namun, beberapa saat kemudian…akhirnya Violette menghela napas.
"Sudahlah, lepaskan aku," kata Violette dengan jenuh, tetapi cukup menuntut. Sialnya Justin malah mendorong Violette kembali dan semakin mengunci tubuh gadis itu. Violette terdiam dan bola matanya lagi-lagi membulat sempurna; ia bertatapan dengan Justin. Ya ampun, ini CEO-nya sendiri. Juga temannya—ralat, sepertinya ini tidak pantas untuk disebut sebagai teman lagi.
"Jika tidak bisa berpura-pura, kita jalani saja hubungan yang sebenarnya," ujar Justin sembari memiringkan kepalanya ke sisi.
Mataku Violette kontan memelotot. Justin justru tersenyum miring pada Violette dan gadis itu langsung tercengang. Justin? Tersenyum padanya? HECK. Ternyata Justin merupakan seorang perayu ulung!
Sesaat kemudian, Violette mulai menjawab Justin.
"Dengar, Justin," ujar Violette seraya menggeleng tak habis pikir. "Apakah kau bodoh? Hubungan yang pura-pura saja sudah merupakan ide yang buruk, apalagi hubungan yang sebenarnya. Kita tak saling mencintai! Kau hanyalah bosku dan well, aku tak bisa menganggapmu sebagai temanku lagi. Apakah kau tak malu jika kita dilihat oleh orang lain? Hentikan semua usahamu untuk Bu Elika ini jika kau hanya mau memanfa—"
Tidak mendengarkan bantahan Violette, Justin malah semakin memiringkan kepalanya; Justin mendekatkan wajahnya ke telinga Violette. Semakin dekat...dan Violette merasa bahwa napas Justin mulai menggelitik bagian leher hingga telinganya. Violette kontan merinding, jantung Violette berdegup kencang dan—sial! APA YANG SEDANG CEO GILA INI LAKUKAN?!!
Ketika Violette menundukkan kepala demi menghindari ‘sesuatu’ yang sedang Justin lakukan, Justin pun terkekeh pelan dan sedikit menarik dirinya kembali. Wajahnya kini berada di depan wajah Violette. Pria itu lalu mengangkat dagu Violette dengan jari telunjuknya.
"Nah, pipimu memerah. Kurasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau menyukaiku," ujar Justin, lalu Justin menjauhkan tubuhnya. Ia berdiri tegak, memberikan senyuman miringnya kepada Violette sejenak, lalu mulai berbalik dan berjalan membelakangi gadis itu.
Violette menganga, dia langsung menatap Justin dengan heran, tetapi yang didapatinya hanyalah punggung lebar milik Justin. Tubuh tegap Justin yang sempurna.
Berhenti melangkah dan berbalik sejenak ke belakang, Justin pun berbicara, "Jadi, sekarang kau adalah kekasihku. Let’s take care of each other.”
Setelah mengatakan itu, Justin pun tersenyum miring dan mengulurkan sebelah tangannya untuk Violette. Bermaksud agar Violette menggenggam tangannya. []
82Please respect copyright.PENANAM6GdNX5wwo