
******
Chapter 8 :
Nathan Is Gone
******
77Please respect copyright.PENANAwWtzquglRq
Author:
INI pasti adalah lelucon.
Pesan macam apa yang baru saja Violette dapatkan? Nathan…disandera?
Violette mematung, ada sebuah sel di dalam dirinya yang seolah berkembang menjadi sesuatu yang ganas dan memakan bagian tubuh yang lain. Darahnya seakan mendidih. Menarik napas pun jadi terasa sulit.
Nathan...diculik! Dari pesan yang terkirim ke ponselnya tersebut, Violette bisa menyimpulkan bahwa Nathan sedang tersekap di suatu tempat. Keparat!
Tanpa memedulikan apa pun lagi, di tengah pikirannya yang kacau itu, Violette berdiri dan berlari keluar dari ruangan kerjanya. Kedua bola mata berwarna keemasan milik Justin otomatis langsung memperhatikan gerak-gerik Violette dengan saksama, mulai dari ketika gadis itu terlihat pucat—panik—hingga ketika gadis itu mendadak berdiri dan berlari keluar dari ruangan. Pria itu memperhatikan semua gerak gerik Violette, sorot matanya mengikuti Violette dalam diamnya.
Violette menutup pintu ruangan itu dengan lumayan keras ketika ia telah sampai di luar. Ia tak peduli dengan apa pun lagi selain pamannya. Ponselnya masih ia genggam dan dengan cepat gadis itu mencoba untuk menelepon nomor tak dikenal yang baru saja mengiriminya pesan sialan itu.
Hanya butuh dua deringan hingga telepon itu diangkat. Violette langsung berjalan menjauh dari ruangan Justin.
"Halo!" bentak Violette di detik pertama ketika telepon itu tersambung. Tidak ada jawaban apa-apa; hanya suara gemerusuklah yang terdengar di telinga Violette.
“Di mana Nathan?!” Violette menggeram. "Di mana Pamanku?!"
"Oh... Kaukah itu, Ms. Violette Morgan?"
Bajingan. Ini suara laki-laki... Siapa orang ini?!
"Katakan padaku apa maumu dan kembalikan Pamanku, kepara—"
"Keparat, huh? Hahaha. Umpatan yang cukup bagus."
Shit.
"Siapa. Kau?!" tanya Violette dengan penekanan yang tajam.
"Kau pasti tahu siapa aku, Red Lion's Girl."
Kedua mata Violette membeliak, jantungnya seakan berhenti berdegup. Untuk beberapa detik lamanya, Violette hanya terdiam; ia mencoba untuk mencerna perkataan pria itu. Pria ini jelas tahu soal Red Lion.
Ha. Violette jadi paham mengapa pria itu menyekap Nathan. Agaknya, dia ingin tahu soal Red Lion. Dia juga sudah tahu bahwa Violette adalah salah satu anggota Red Lion. Sial!! Ini ancaman yang berbahaya. Red Lion sudah cukup lama terkubur dalam peradaban, tetapi bukan berarti dunia sepenuhnya melupakan organisasi itu. Benar, ternyata ada orang yang tahu bahwa ada anggota Red Lion yang masih hidup sampai sekarang. Berita bahwa Red Lion musnah seluruhnya itu adalah hasil dari tipuan yang Justin ciptakan di masa lalu. He made them believe that. Namun, takkan ada yang mengerti penyebab dan akibat dari apa yang telah dilakukan oleh Justin dan Violette saat itu, soalnya hanya mereka berdualah yang mengetahui dan merencanakan itu semua.
Masih mencoba untuk menahan segala amarahnya, Violette pun mendengkus. "Apa maumu." tanya gadis itu dengan nada tajam. Pertanyaannya jadi tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan sebuah ancaman.
Pria di seberang sana tertawa meski tawa itu terdengar sangat hambar.
"Yang kumau itu cukup simpel, Nona," ujarnya. "Kau bisa santai saja, seharusnya, karena pamanmu tak harus tinggal bersamamu yang merupakan mantan penjahat."
Kini amarah Violette naik hingga ke ubun-ubun, Violette akhirnya berteriak, "I’M ASKING YOU, BASTARD, WHAT DO YOU WANT?!!”
Pria itu tertawa lagi, sementara Violette hanya mengeraskan rahangnya.
"Kuberi kau sebuah tantangan, deh, kalau begitu," jawab pria itu. Violette menaikkan kedua alisnya.
"Dia masih di kawasan New York. Let’s do this for fun! Setelah kau menemukannya, aku akan memberitahumu apa yang kumau." Pria itu terkekeh. "Ini saatnya kau menunjukkan taringmu, Red Lion. Dengan begitu, aku bisa lebih percaya bahwa ternyata Red Lion memang masih ada. Dengan begitu pula, aku bisa lebih cepat mendapatkan bukti untuk kuserahkan ke kepolisian."
Mendengar itu, ekspresi wajah Violette mendadak berubah. Ia tidak terlihat tegang lagi. Perlahan-lahan ekspresinya berubah menjadi dingin.
"Do this for fun?" ucap Violette sembari tersenyum sinis. Bajingan sialan. Rasanya ia tak perlu takut dengan ancaman itu, tetapi satu hal yang pasti: Nathan adalah salah satu kelemahannya. Nathanlah satu-satunya keluarga kandungnya yang tersisa...dan itu membuat ketenangan Violette kandas.
Setelah itu, Violette langsung mematikan sambungan telepon itu dan menaruh ponselnya di dalam saku blazernya. Tanpa berbalik untuk masuk ke ruangan Justin lagi, gadis itu langsung pergi; ia berlari dan masuk ke lift, lalu turun ke lobi. Gadis itu kemudian pergi ke luar melalui pintu putar perusahaan dan langsung mencari taksi untuk pulang ke rumahnya. Ia akan mengambil motornya di rumah karena pencarian ini akan memakan waktu yang lama. Tadi ia berangkat kerja dengan Justin, jadi motornya ada di rumah. Hal yang ia pikirkan saat ini hanyalah satu, yaitu Nathan.
Ia tak peduli jika ia dipecat oleh Justin karena ia keluar disaat jam kerja. Di sepanjang jalan—di dalam taksi—ada peluh sebesar biji jagung yang mengiringi kegugupan serta kegelisahannya. Setelah itu, ketika taksi itu berhenti di depan rumahnya, Violette langsung membayar sopir taksi itu dan langsung pergi ke tempat di mana motornya terparkir: di halaman rumahnya.
Taksi tadi sudah pergi. Violette langsung memakai helm, lalu mengendarai motornya untuk pergi mencari Nathan. Meskipun sebenarnya tujuannya tak pasti, Violette tetap harus mencarin Nathan. Sialan! Air mata Violette tanpa sadar terjatuh tatkala ia memikirkan beberapa kemungkinan yang terburuk.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nathan?
"God... Oh, God..." bisik Violette di sela-sela isakannya ketika ia mengendarai motor. Rambut brunette-nya tergerai dan tertiup angin di dalam perjalanan itu, sementara air matanya juga berjatuhan dan terembus oleh angin hingga tercampak ke arah yang berlawanan dengannya.
Tuhan, apakah Nathan baik-baik saja?
Akan sulit bagi Violette untuk melibatkan kepolisian, penyandera itu akan langsung memberitahukan masa lalu Violette ke polisi.
"Nathan..." ucap Violette lagi dengan lirih, lalu gadis itu mulai menaikkan kecepatan motornya. Ia mengegas motornya dengan kuat, melampiaskan rasa geramnya. Violette ingin sekali mencari Nathan sendirian, tetapi itu tak mungkin mengingat betapa luasnya New York dan ia juga belum memiliki petunjuk yang pasti.
Di dalam perjalanan, Violette mengambil ponselnya yang ada di dalam blazernya. Ia lalu menelepon nomor yang tak dikenal itu lagi, sementara sebelah tangannya tetap mengemudi motornya. Tiga kali deringan dan telepon itu belum juga diangkat. Violette sudah mengumpat tak jelas, ia jadi dendam setengah mati. Keparat! Mengapa tiba-tiba—setelah tiga tahun berlalu—malah ada kejadian seperti ini?!
Violette terus menelepon, lagi dan lagi, hingga lima kali. Namun, tetap tidak diangkat. Sembari mengumpat, Violette semakin menaikkan kecepatan motornya, lalu sebelah tangannya kembali berusaha untuk menelepon nomor tak dikenal itu.
Kali ini, telepon itu diangkat.
Bajingan sinting.
"DI MANA KAU SEMBUNYIKAN DIA?!" teriak Violette, tetapi teriakannya itu terdengar kurang kencang karena suara angin yang berembus berlawanan arah dengannya ketika mengendarai motor.
"Hey, calm down. Dia ada di tempat yang seharusnya kalian sebagai Red Lion ketahui, Nona. Lagi pula, aku belum membunuh—"
"Berengsek kau," maki Violette tajam. Violette mengerem motornya, berhenti di pinggir jalanan yang kecil dan sepi. Sengaja agar bisa mendengar suara lelaki sialan itu dengan lebih jelas. "Dengar aku, sialan. Tidak ada lagi Red Lion yang kau maksud."
Pria itu tergelak. "Tidak ada? Aku bahkan sangat mengenali wajahmu, Nona."
Violette mengernyitkan dahi, ia langsung berpikir keras.
Kenal? Tahu wajahnya?
Siapa pria ini? Pihak yang mengetahui tentang Red Lion saat itu kebanyakan adalah para anggota Martin, itu pun semua dari mereka sudah dihabisi oleh Justin ketika mereka berkerumun di markas Red Lion untuk menyerang Red Lion. Jadi, siapa pria ini? Apakah ada orang yang masih hidup dari insiden itu?
Namun, jika pria ini adalah orang yang masih hidup dari insiden itu, Violette jadi sedikit lebih tenang. Itu berarti tak banyak orang yang tahu tentang adanya anggota Red Lion yang masih hidup hingga sekarang. Kalau pria ini bukan orang yang selamat dari insiden itu, maka semuanya akan menjadi lebih kacau. Itu akan menjadi masalah yang besarsebab hal itu menunjukkan bahwa sudah banyak orang yang mengetahui soal Red Lion.
"Siapa kau?" tanya Violette sekali lagi. Pria itu kontan tertawa.
Samar-samar Violette mendengar suara gesekan besi ayunan dan suara bising dari pabrik. Entah mengapa, sedari tadi sebenarnya setiap menelepon pria itu, pasti suara pria itu bergema. Oleh karena itulah, Violette agak sulit mendengarkan suara pria itu, bahkan sekarang Violette berhenti di pinggir jalan hanya untuk meneleponnya dan mendengar suaranya dengan jelas.
"Anggap saja aku ini penggemarmu, Ms. Violette Morgan." Pria itu menjawab dengan sarkastis, sukses membuat Violette menggeletukkan giginya.
"Kau akan membayar semuanya." Pria itu berkata lagi dengan sinis, lalu sambungan telepon itu terputus.
Violette kembali mengernyitkan dahinya.
Dengan semua kata-kata yang pria itu ucapkan, dengan semua bunyi-bunyi yang didengar oleh Violette tadi, Violette tiba-tiba tersadar bahwa wilayah pencariannya sudah bisa dipersempit.
77Please respect copyright.PENANAIBHmtjn2ot
******
77Please respect copyright.PENANAuexI6IdElR
"Ternyata tidak terlalu sulit. Hahaha!” Tawa keras seorang lelaki yang bertubuh tinggi itu menggema di sebuah ruangan yang gelap, berdebu, kotor, serta berbau logam. Ruangan itu terlihat seperti ruangan yang ada di dalam sebuah rumah kayu, tetapi kayu yang menyusun rumah itu juga sudah terlihat kusam. Pria itu berdiri di dekat jendela yang menghadap ke area luar rumah, di ujung ruangan. Ia memandangi sebuah ayunan yang terletak di halaman rumah itu, tempat ia duduk sebelumnya.
"Ini cukup menyenangkan," sambungnya.
Ia sedang bertelepon dengan seorang perempuan dan perempuan itu kini mulai tertawa dengan gembira. "Well, seharusnya kau memujiku. Aku tahu dia akan seperti itu."
"What a clever girl," balas lelaki itu, memuji perempuan yang sedang bertelepon dengannya.
"Thanks," ujar wanita di seberang sana disertai dengan kikikan yang terdengar seperti suara tikus. "Ah... Bagaimana dengannya? Jangan katakan padaku bahwa kau telah membunuhnya?"
Lelaki itu tertawa, lalu mulai bergerak dari jendela dan berjalan tanpa tujuan yang pasti.
"Dasar wanita gila," jawab lelaki itu seraya masih tertawa, membuat wanita yang di seberang sana jadi ikut tertawa. Lelaki itu pun melanjutkan, "Aku tidak akan membunuh pria ini sebelum dia datang. Lagi pula, membunuh pria ini bukanlah tujuanku."
"Asal kau ingat negosiasinya." Wanita itu memperingatkan.
Lelaki itu mengangguk, lalu mendadak ia teringat sesuatu. "Ah...apakah benar Red Lion di dunia ini tinggal satu orang saja yang belum mati? Hanya Violette itu, 'kan? Kau belum memberitahuku dengan jelas."
Alih-alih menjawab, wanita di seberang sana justru mendadak terdiam. Ia seolah tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ya, hanya gadis itu," jawab wanita itu pada akhirnya.
"Jangan pernah membohongiku," peringat lelaki itu.
"Aku takkan membohongimu," balas wanita itu. "Siksalah gadis itu secara perlahan-lahan menggunakan hubungannya dengan pria yang kukatakan kepadamu. Jika terjadi sesuatu padamu pun, aku akan tetap menyandera pamannya agar ia mau melakukan apa yang kusuruh.."
Lelaki yang berasal dari Perancis dengan tubuh yang tegap dan besar itu lantas tergelak. "Dasar orang sombong yang sedang terobsesi," ejek lelaki itu. "Jaga ucapanmu, Baby."
"Yeah...semuanya harus berjalan seperti yang kumau. Oh ya, aku harus bekerja sekarang. Kuserahkan semuanya kepadamu," ujar wanita itu kemudian. Lelaki tersebut hanya berjalan terus dan ternyata ia mulai masuk ke sebuah ruangan.
Nathan ada di sana.
Nathan berdiri dengan lemah, tangannya diikat dengan borgol yang dipasangkan ke besi yang menggantung di atas kepalanya. Besi itu tergantung secara horizontal dengan rantai di kedua ujungnya. Rantai itu terikat ke plafon rumah. Kedua kaki Nathan juga diikat dengan tali kapal, lalu mulut pria itu disumpal dengan sapu tangan tebal berwarna biru keunguan yang telah dicampurkan dengan obat bius.
"Yeah…semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan," jawab lelaki itu, lalu sambungan telepon itu terputus.
Di dalam ruangan yang hening itu, lelaki itu tersenyum miring.
77Please respect copyright.PENANABaaIJ0ltJc
******
77Please respect copyright.PENANAKCo7cAIJP1
Justin masih terlihat duduk di kursi CEO-nya; pria itu memandangi layar laptopnya sembari menyatukan kesepuluh jarinya di depan wajahnya. Berpikir tentang proyek baru dan segala hal lain dengan sedikit kerutan di dahinya.
Justin lalu kembali mengetikkan sesuatu di laptopnya.
Namun, satu detik kemudian, alih-alih mengetik, Justin justru berhenti. Dengan gerakannya yang terkesan terbatas itu, Justin melihat ke arah di mana kursi Violette berada. Tas gadis itu masih ada di sana, tetapi sudah lebih dari dua jam yang lalu, gadis itu belum kunjung kembali. Justin menyatukan alisnya.
Tiba-tiba pria bertubuh tegap itu bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Violette. Ada sebuah buku di atas meja—pekerjaan yang tadi Violette tinggalkan—dan Justin membuka lembaran-lembaran buku itu. Meski dengan tanpa ekspresi di wajahnya, Justin melihat dengan jelas bahwa Violette menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Justin pun menutup buku itu kembali.
Setelah itu, Justin berbalik, kemudian pergi ke dekat jendela yang ada di belakang ruangannya. Jendela berupa kaca yang membentang dari atas sampai bawah seolah menjadi pengganti dinding di sisi belakang ruangan itu. Justin berdiri, kedua tangan pria itu berada di dalam saku celananya. Ia menghadap ke kaca itu, memandangi padatnya bangunan kota New York dengan mata yang menyipit tajam. Bola mata berwarna lelehan emasnya itu terlihat begitu indah tatkala tersentuh oleh sinar matahari.
Lama menikmati suasana itu, tiba-tiba ponselnya berdering dan Justin mengambil ponsel itu dari dalam saku celananya.
Ada sebuah pesan yang masuk. Tertera nama 'Violette' di sana.
77Please respect copyright.PENANA7OlcuRcwnG
From: Violette
Justin, maaf, hari ini aku tidak bisa bekerja. Kau boleh memecatku ataupun hanya memotong gajiku, maafkan aku.
Apakah kau tahu di mana tempat di kota ini yang ada pabrik beserta ayunannya, serta terdengar sepi dan bergema, Sir? Pasti banyak, ya? Tapi…apa kau tahu salah satunya?
77Please respect copyright.PENANAEV4p4rzC1K
Justin mengernyitkan dahinya samar.
Belum sempat menjawab pesan Violette, pintu ruangannya terdengar diketuk. Kontan Justin menghadap ke arah pintu, lalu berkata dengan suara tegasnya, "Masuk."
Muncul sosok Elika dengan berkas-berkas yang ia bawa di dalam dekapannya.
Wanita itu sedikit merunduk sopan. Setelah itu, dengan senyumannya yang menggoda, wanita itu memanggil, "Sir."
Wanita itu lalu menutup pintu ruangan tersebut dan mendekat ke meja Justin. "Ini berkas-berkas yang Anda inginkan kemarin."
Justin mengangguk. "Apakah sudah selesai?" tanya Justin dingin, lalu pria bertubuh maskulin itu mulai mendekat ke mejanya untuk melihat-lihat berkas itu. Elika tersenyum semringah.
Betapa tampan pria yang ada di hadapannya saat ini...
Elika lalu menjawab, "Ya, Sir. Apakah ada yang harus kukerjakan lagi? Aku akan mengerjakannya dengan senang hati."
Justin menoleh kepada Elika, lalu sedikit mengangkat sebelah alisnya. Setelah itu, berkas itu ditaruh lagi oleh Justin ke atas meja.
"Yeah, mungkin aku akan sedikit memerlukan bantuan. Executive assistant-ku tidak bekerja hari ini, jadi apakah kau mau menyelesaikan pekerjaannya hari ini untuk kepentingan proyek baru perusahaan? Kita harus mengejar waktu," jawab Justin datar.
Elika sedikit merundukkan kepalanya, terkekeh dengan manis. Setelah itu, dia menatap Justin lagi dan tersenyum gembira.
"Anything for you, Sir."
Justin kembali mengernyitkan dahi, lalu pria itu hanya mengangguk tak acuh. "Thank you. Bisakah kau mengambilnya? Bukunya ada di meja yang di sebelah sana," ujar Justin, pria itu menunjuk meja Violette. Elika mengekori arah yang ditunjukkan oleh Justin dengan mata berbulu lentiknya. Justin lalu melanjutkan, "Kerjakan sebisamu, untuk hari ini saja. Kau bisa kembali ke ruanganmu setelah mengambil buku itu."
Elika mengangguk, lalu dengan langkahnya yang teratur bak model itu ia mengambil buku yang ada di atas meja Violette. Setelah itu, ia tersenyum lagi pada Justin, merunduk hormat, dan berjalan ke luar.
Senyuman terus terukir di wajah Elika ketika ia baru saja keluar dari ruangan yang harumnya terasa memabukkan itu. Dengan pria yang karismatik dan maskulin itu, pria yang kejam dan juga dingin itu...
Membayangkan segala otot tegas yang mencuat di balik kemeja rapinya...
Elika sudah berkali-kali tidur dengannya. Bagi Elika, dia adalah CEO yang paling sempurna sepanjang masa.
Oh, God.
Sekarang, kenyataan bahwa Violette—executive assistant itu—sangat dekat dengan pria itu…berhasil membuat Elika gila.
77Please respect copyright.PENANAGvLxH3Zwlz
******
77Please respect copyright.PENANAYkBgkmIBR2
Berkali-kali Violette mencoba untuk menelepon Seth, tetapi Seth tak kunjung mengangkat teleponnya. Violette sudah mengirimkan pesan kepada Justin, tetapi pria itu juga tak membalasnya. Namun, kalau boleh jujur, sebenarnya…Violette tak ingin memperbesar masalah ini dengan memberitahukannya kepada Justin. Maka dari itu, Violette mencoba untuk mengirimkan pesan kepada Seth.
Violette masih berada di jalan. Tujuannya belum terlampau jelas dan ia harus bertanya terlebih dahulu. Seth biasanya sering berkeliaran dengan teman-temannya, mungkin dia tahu tempat yang seperti itu...
Soalnya, GPS di ponsel Violette tak memberikan hasil apa pun tatkala Violette mencoba untuk mencari lokasinya.
77Please respect copyright.PENANAUoC2JlN9b0
To: Seth
Seth, apa kau tahu di mana tempat di New York yang dekat dengan pabrik dan juga ada ayunannya? Mungkin banyak tempat yang seperti itu, tetapi bila kau tahu, bisakah kau beritahu aku semua tempat yang seperti itu? Kumohon balaslah.
77Please respect copyright.PENANAK7US77kpq0
Setelah mengirimkan pesan itu kepada Seth, Violette mengirimkannya juga kepada Megan; ia menanyakan hal yang sama. Sial, jika alat Red Lion dulu masih ada, mudah sekali untuk melacak keberadaan pria sinting yang sedang menyekap pamannya itu.
Tepat ketika Violette akan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, gadis itu agak terkejut dengan adanya deringan panggilan masuk. Violette mengernyitkan dahi dan meskipun terkejut, dia kini tak memedulikan hal itu lagi.
Itu Justin.
Dengan cepat Violette mengangkat telepon itu, lalu menghentikan motornya.
"Justin," panggil Violette saat dia mengangkat telepon itu.
"Mengapa kau tak membalas pesanku?!!" teriak Violette, bahkan sebelum Justin sempat menjawabnya. "Apakah kau tahu tempat yang kutanyakan tadi? Kumohon, kau bisa memecatku, aku hanya ingin tahu soal itu saja."
"Di mana kau?" tanya Justin.
Violette menyatukan alisnya.
"A—aku di...umm…entahlah," jawab Violette dengan ragu.
"Aku tidak perlu memecat seseorang tanpa alasan."
Violette membelalakkan matanya.
“Tapi, kan, aku meninggalkan kantor saat jam kerja,” jawab Violette heran.
Namun, sedetik kemudian, gadis itu menggeleng. Ini bukan saatnya untuk membicarakan hal itu.
"Baiklah, bisakah kau membantuku, Sir?" tanya Violette.
"Tidak."
"Ya Tuhan," keluh Violette. "Baiklah, maaf karena aku sudah mengganggumu dengan pertanyaanku, Si—"
"Tidak untuk seorang gadis yang bahkan tak tahu dia sedang berada di mana." Justin menyambungkan perkataannya dengan penuh intimidasi. Violette spontan meneguk ludahnya.
Aduh.
"Aku... Baiklah, mungkin sekarang aku sedang berada di—"
"Pulang, Vio. Sebelum aku memerintahkan seseorang untuk membawamu kembali ke hadapanku," potong Justin dingin.
"Tidak, Justin. Aku tak akan pulang. Aku harus menemukan sesuatu dan kumohon mengertilah. Tolong beritahu aku, Justin. Aku yakin kau tahu di mana tempat itu. Aku tahu kau sangat cerdas dan mungkin dulu kau pernah mengunjunginya ketika sedang menjalankan misi Red Lion sendirian, tanpa aku. Tolong aku, Justin," mohon Violette.
"Memangnya apa yang ingin kau temukan?"
Aduh.
Haruskah Violette memberitahunya? Tidak, tidak boleh. Justin adalah mantan anggota Red Lion dan kenyataan itu akan terbongkar kepada publik jika dia membawa serta Justin ke dalam masalah ini. Violette tahu kalau Justin itu tipe pria yang tidak bisa menahan diri untuk menyelesaikan sesuatu sampai sesuatu itu benar-benar selesai.
"Aku—itu—aduuhh! Katakan saja lokasinya ada di mana, Justin!" teriak Violette, dia mengalihkan pembicaraan karena mulai merasa gugup.
"Pulanglah sekarang, Violette."
Mendadak mata Violette berkaca-kaca. Tuhan, sebenarnya Violette sangat ingin meminta bantuan dari Justin. Pamannya menghilang. Violette tak bisa berpikir apa pun lagi selain memikirkan bagaimana caranya agar bisa menemukan Nathan secepatnya...
“Beritahu aku, Justin! Tolong beritahu aku kali ini saja. Apakah kau tahu di mana tempat yang dekat dengan ayunan dan juga terdengar bergema? Aku juga mendengar ada suara pabrik. Tolong aku, Justin,” ujar Violette dengan frustrasi.
Tidak ada suara yang terdengar dari seberang sana. Violette yakin, kemungkinan besar Justin sudah membaca segala situasinya. Dia pria yang cerdas dan tak mungkin ia tak bisa membaca gelagat Violette.
“Pulang, Violette. Sekarang,” perintah Justin.
Violette mematikan sambungan telepon itu. Tidak, ia tak akan pulang sebelum ia berhasil menemukan Nathan. Meski sekarang air matanya sudah kembali berjatuhan, memikirkan betapa lelaki sialan itu merebut Nathan disaat yang sempurna. Berengsek! Persetan dengan siapa pun itu yang menyekap pamannya. Mengapa meski wilayah pencarian sudah dipersempit, tetap saja sulit untuk mencarinya? Violette memang kurang tahu dengan tempat yang memiliki ciri-ciri seperti itu. Dia tak pernah menjalankan misi ke tempat seperti itu di New York saat ia merupakan anggota Red Lion. Violette jadi merasa bahwa ia bodoh sekali.
Satu hal lagi: ia kini merasa begitu lalai dalam menjaga pamannya.
Sial.
Polisi? Hah. Keadaan sekarang sudah berbanding terbalik. Jika Violette menelepon polisi, saat ditemukan nanti pria itu pasti akan membuka rahasia tentang Red Lion sebelum polisi berhasil memborgolnya.
Semuanya jadi serba salah. Violette harus berhati-hati.
Violette menghapus air matanya, lalu meneguk ludahnya yang saat itu seolah terasa sangat pahit. Ponselnya berdering lagi, pertanda ada sebuah pesan yang masuk.
77Please respect copyright.PENANAOmjqXWFq4x
From: Mr. Sok Mengatur
Apa kau bodoh? Petunjukmu belum lengkap. Jangan membuatku khawatir, Violette. Katakan padaku di mana kau berada. Sekarang juga.
77Please respect copyright.PENANAAOZBDxzfNF
Detik itu juga, Violette kembali menangis.
Ia bahkan tak ingat bahwa Justin itu sekarang adalah kekasihnya.
Violette baru merasakan perasaan aneh untuk Justin itu kemarin, lalu hari ini...musibah ini terjadi.
Tidak, tidak. Violette menggelengkan kepalanya tatkala mengingat itu semua. Kini Violette jadi bisa menduga satu hal.
Violette dengan cepat menghidupkan motornya lagi dan ia sempat melakukan sesuatu pada nama Justin di kontaknya sebelum ia pergi bersama motornya.
Violette mengubah nama Justin di kontaknya menjadi 'My Lovely CEO'.
77Please respect copyright.PENANAZ5xTdbckks
******
77Please respect copyright.PENANAdr17l9Oy0G
Justin mengendarai Bugatti merahnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota New York di malam hari. Sosoknya masih terlihat rapi di dalam balutan jasnya, hanya saja kini ia sedikit melonggarkan dasinya. Pekerjaan kantor memang belum selesai, tetapi ia tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada Violette.
Justin mengambil sebatang rokok dan menghidupkan rokok itu, lalu menyisipkannya di sela bibirnya. Asap rokok itu mengepul dan keluar melalui jendela mobil yang terbuka separuh, lalu Justin menambah kecepatan mengemudinya.
Suara deringan ponsel membuat pria itu mulai mengambil ponselnya yang tergeletak di atas dashboard.
"Apa," tanyanya to the point pada si pemanggil yang merupakan pamannya sendiri.
"Aku tak akan pulang," sambung Justin lagi, lalu pria itu langsung mematikan sambungan telepon itu. Justin membenci pamannya, terutama ketika sekarang dia tahu bahwa pamannya sangat tidak menyukai Violette. Pamannya menganggap bahwa Violettelah yang mengubahnya hingga menjadi seperti ini.
Justin menaikkan kecepatan mobilnya hingga kini ia berkendara dengan kecepatan penuh.
Lima belas menit kemudian, mobil Justin berhenti pada sebuah jalan kecil yang kanan kirinya berupa hutan. Pria itu turun dengan langkah tegapnya, membuang rokoknya lalu mematikan api rokok itu. Justin melangkah lebar dan mengangkat tubuh seorang gadis yang ada di depannya; gadis itu terbaring di pinggir jalan. Agaknya, gadis itu pingsan di sana dan meninggalkan motornya yang terletak tak jauh dari posisi gadis itu sendiri.
Gadis itu adalah Violette.
Justin tahu kalau Violette pasti ada di sini. Dengan segera Justin mengangkat tubuh lemah Violette ke dalam gendongannya. Kulit Violette yang telah agak lama terkena angin malam terasa sangat dingin tatkala menyentuh kulit tangan Justin. Justin membawa Violette masuk ke mobilnya, membaringkan Violette di kursi belakang dan memosisikan gadis itu dengan baik agar bisa berbaring dengan nyaman. Justin membuka jasnya dan menyelimuti Violette dengan jas itu, lalu pria itu menutup pintu mobil bagian belakang. Kini Justin melangkah ke pintu depan mobil, memasukinya, lalu duduk dan bersiap untuk menghidupkan mesin mobilnya. Setelah itu, Justin menjalankan mobilnya kembali dan membawa Violette pulang secepat mungkin. Justin mengambil ponselnya dan mulai menelepon seseorang.
"Tolong ambilkan motornya," ujar Justin kepada seseorang di seberang sana. Orang itu merupakan bawahannya sekaligus orang kepercayaannya. "sekarang juga. Bawa beberapa polisi. Aku akan menunggu di sana."
Justin kemudian memutuskan sambungan telepon itu. Pria itu lantas menyetir mobilnya dengan sangat cepat hingga mereka sampai di rumah Violette.
Sesampainya mereka di sana, Justin menggendong tubuh Violette lagi untuk menaiki tangga rumah panggung itu. Berjalan dengan perlahan—berusaha agar Violette tidak terjatuh dari gendongannya—Justin akhirnya sampai di depan pintu rumah Violette. Justin mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku jasnya, itu adalah kunci rumah Violette yang Justin ambil dari dalam tas Violette. Tas yang ditinggalkan oleh gadis itu di ruangan CEO tadi pagi.
Ketika pintu rumah itu terbuka, seisi rumah itu tampak gelap. Tidak ada satu pun lampu yang hidup. Tidak ada siapa pun di sana. Justin hanya terus membawa tubuh Violette masuk ke sana sambil terus mencoba untuk mencari di mana letak kamar Violette. Setelah menemukan kamar Violette, Justin lalu menghidupkan sakelar lampu. Setelah itu, dengan cepat ia membaringkan tubuh Violette di atas ranjang. Justin memosisikan tubuh Violette dengan baik, membuka sepatu dan kaus kaki gadis itu, lalu menyelimutinya. Justin sekarang hanya memakai kemeja tanpa jas karena jas yang menjadi selimut Violette di mobil itu tertinggal di sana ketika dia mengangkat tubuh Violette. Sekarang pun Justin tengah melepaskan dasinya dengan dua kali tarikan.
Justin meletakkan dasinya di atas meja rias yang ada di kamar Violette. Setelah itu, pria itu keluar dari kamar Violette dan menutup pintu kamar itu.
Saat Justin kembali lagi ke dalam kamar Violette, pria itu sudah membawa obat-obatan. Sepertinya, itu adalah obat-obatan yang ada di dekat dapur rumah Violette. Justin mengoleskan sebuah obat yang ada di tangannya ke kepala Violette. Justin juga sudah membawa air hangat beserta handuk kecil untuk mengelap bagian tubuh Violette yang kotor. Jelas saja tubuh Violette kotor sebab tadi gadis itu ditemukan pingsan di pinggir jalan.
Apa yang membuat Violette pingsan dalam keadaan seperti itu dan di tempat seperti itu?
Tak lama kemudian, bawahan Justin beserta para polisi itu datang. Justin menghampiri mereka di luar; mereka datang tepat ketika Justin sudah selesai mengurusi Violette.
Dari semua yang Justin lihat, Justin sudah tahu jelas apa yang sedang terjadi. Lagi pula, sudah kentara sekali, bukan? Di rumah ini tidak ada Nathan.
77Please respect copyright.PENANA4BvSLQYFLM
******
77Please respect copyright.PENANA8ZzN7Ce9yX
Bulu mata yang lentik itu bergetar, diikuti dengan gerakan samar dari kedua kelopak mata yang perlahan-lahan terbuka. Namun, tatkala belum terbuka sepenuhnya, kedua kelopak mata itu tampak beberapa kali kembali tertutup dengan cepat karena merasa silau. Akhirnya, dengan mata yang sedikit menyipit, Violette pun terbangun. Hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Megan. Megan telah duduk di samping kasurnya.
Sedikit heran, Violette berusaha untuk berbicara dengan suara serak khas pagi harinya.
"Megan."
Megan tersenyum. "Apakah tubuhmu sudah membaik?" tanya Megan sembari mendekatkan dirinya kepada Violette dan mengusap punggung tangan Violette.
"Hmm," deham Violette. Gadis itu menghela napas dan berusaha untuk duduk. "Kapan aku...pulang?" tanya Violette, masih dengan suara seraknya.
Megan menjawab, "Mr. Alexander yang mengantarmu."
Kedua mata Violette kontan terbelalak.
"HAH?!!"
"Kau tak enak badan, Violette. Istirahat, oke? Tadi malam Mr. Alexander—Justin—sudah menghubungi polisi untuk membantu mencari pamanmu. Dia sudah tahu. Aku turut bersedih, Vio," ujar Megan, menggelengkan kepalanya dengan prihatin. "Untung saja Justin mengobatimu tadi malam dan mengurusimu sehingga aku tidak harus semakin khawatir padamu. Yah...meski agaknya kau dan CEO-mu itu jadi semakin mesra," goda Megan dengan seringai konyolnya. Setelah itu, Megan langsung tertawa terbahak-bahak.
Sialaaaan!! Pipi Violette mendadak memerah dan ia langsung menendangi perut Megan.
"Kau pacaran dengan CEO kita, eh? Wah... Ternyata semua kebencianmu untuknya seperti apa yang kau katakan padaku waktu itu hanyalah topeng untuk menutupi kenyataan bahwa kau sebenarnya lebih genit padanya, hmm? Iya, 'kan? Waaah, kau ini mengerikan sekali, Vio! Diam-diam ternyata kau langsung tancap gas! Aku minta resepmu, ya?" Megan menaikturunkan alisnya untuk menggoda Violette.
Dengan sangat tanpa berbelas kasih, Violette langsung menendang tubuh Megan lagi hingga Megan terjungkal ke belakang.
"JANGAN BERBICARA YANG TIDAK-TIDAK, MEGAN!!!! AKU PUSING!!!!" []
77Please respect copyright.PENANA2ZkWXi20zD