
******
Bab 7 :
Kejanggalan
******
59Please respect copyright.PENANAfhWKEsUgkl
NADYA benar-benar gembira pagi ini. Masalahnya, setelah satu bulan lamanya ia menunggu, akhirnya kemarin ia berhasil menonton konser Muse di Kota Jakarta atau lebih tepatnya di Gelora Bung Karno. Gita dibuat pusing pagi ini, soalnya sejak Gita menjemput Nadya di rumah cewek itu hingga sekarang saat mereka berjalan di koridor, Nadya tak henti-hentinya berteriak dan girang sendiri. Sinar kebahagiaan di wajahnya seakan menyebar ke udara sampai-sampai Gita merasa sesak.
"Giiiit!!! Mereka keren banget astagaaaa!!!! Demi apa punnn gue nggak rela mereka baliiiikkk!!!!" teriak Nadya kencang, tanpa malu, seolah lupa tempat. Gita sampai heran sendiri, tetapi dia akhirnya tersenyum. Dia ikut merasa bahagia, soalnya ia ingat bagaimana Nadya merengek di depannya sewaktu belum bisa membeli tiket konser band rock terkenal itu. Untungnya, Aldo memberi Nadya tiket gratis—eh, bukan gratis juga, sih. Ekhem.
Gita menghela napas. "Jadi? Dari pagi lo udah nyambut mereka di Bandara Soekarno-Hatta?"
"Ya iya, dong! Heheheee," ucap Nadya, dia cengar-cengir. "Harus itu! Gue nggak mau ketinggalan liat wajah mereka pas baru nyampeee!"
Gita mengangguk mengerti. Sejenak ia menoleh ke depan, lalu menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Gita lalu kembali tersenyum dan melihat ke arah Nadya yang masih sibuk bercerita tentang betapa ramainya konser itu tadi malam, betapa kerennya Muse, dan betapa gembiranya dia hingga berteriak dan melompat-lompat di tempat ia menonton konser itu.
Nadya emang aneh dan excited banget kalo soal Muse, pikir Gita. Gita hanya mendengarkan Nadya berceloteh sambil sesekali memberikan tanggapan atau mengangguk-angguk. Gita juga sempat bertanya dengan siapa Nadya ke bandara atau diantar siapakah Nadya ke konser itu dan jawaban Nadya adalah ayahnya. Tampaknya, saking excited-nya Nadya berceloteh, cewek itu sama sekali tak melihat jalan dan beberapa kali hampir menabrak bahu siswa lain yang sedang berpapasan dengan mereka. Gitalah yang melihat jalan dan menarik tangan Nadya beberapa kali hanya untuk mencegah kemungkinan terburuk.
Begitu mereka sampai di kelas, Nadya belum juga berhenti berceloteh. Suasana kelas pagi ini agak ribut, masih banyak yang mengobrol tentang ini itu dan masih banyak juga yang baru sampai di kelas. Gita sadar bahwa ada sepasang mata yang memperhatikan mereka saat mereka berjalan ke kursi mereka dan Gita langsung tahu bahwa itu adalah Aldo.
Aldo pagi ini tampak fresh seperti biasa. Aldo hanya mengangguk singkat dan memberi Gita seulas senyum sebagai sapaan karena ketahuan memperhatikan mereka—tepatnya memperhatikan Nadya—dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'Akhirnya yang pengin dilihat tiap hari datang juga...'
Gita hanya membalas senyum Aldo dengan senyuman tipis sambil mengedikkan bahu, lalu menunjuk Nadya dengan dagunya seolah mengatakan, 'Tuh, dia kayaknya seneng banget. Dia cerita terus.'
Aldo hanya beralih menatap Nadya lagi dan hasilnya ia tersenyum geli. Nadya—yang sudah sampai di kursinya dan sedang menaruh tas itu—ternyata masih saja bercerita, padahal Gita yang berjalan lambat di belakangnya karena 'berkomunikasi' dengan Aldo itu tak terlalu mendengarkannya. Begitu Gita sampai di kursinya dan duduk di sebelah Nadya, barulah Nadya berhenti bercerita. Cewek itu mengakhiri ceritanya dengan sibuk berteriak karena kesengsem sendiri.
Gita menggeleng-geleng sendiri dan menghela napas. Ia kelihatan begitu takjub; ia melongo saat menatap Nadya. "Lo jadi heboh banget, ya, kalo soal Muse. Heran gue."
Nadya mengedipkan matanya dua kali. "Eh? Iya, ya?"
Gita memutar bola matanya. Cewek itu berdecak, lalu berkata, "Iyaaaa, Nadyaaa! Dari tadi, lho, elo cerita."
Nadya cengengesan dan menutup wajahnya, lalu malah tertawa sendiri. "Nggak sadar, Git, hahah! Pengalaman sekali seumur hidup, nih! Huaaaa! Berharga banget...bakalan gue kenang seumur hidup! Gue udah ketemu idola gueee! Yeeheeyy!"
"Ck." Gita memutar bola matanya. "Iya, deh... Selamat ya, Nad," ujar Gita, menepuk pundak Nadya sembari tersenyum manis. "akhirnya lo ketemu mereka."
"He-em! Makasih, Git!" jawab Nadya dengan ekspresi bahagia. Rona di pipinya tampak begitu indah hari ini. Gita jadi ingin terus melihat Nadya bahagia seperti itu setiap harinya.
59Please respect copyright.PENANAD1H3qn75TS
******
59Please respect copyright.PENANA4sB9erjDl7
Aldo menumpukan sikunya di permukaan meja. Ia baru saja berada di posisi itu setelah lama bersandar di kursinya. Memandangi Nadya terasa cukup sulit karena banyak sekali yang lewat sana-sini, bolak-balik, entah melakukan apa sebelum bel berbunyi.
Senyuman manis muncul di wajah cowok itu begitu melihat Nadya yang tampak begitu bahagia hari ini. Nadya juga terlihat sangat lucu ketika bercerita panjang lebar tentang apa yang ia sukai. Dia begitu lucu dan manis seperti anak kecil.
Nadya yang biasanya pemalu…jadi banyak bicara seperti itu. Aldo terkekeh pelan. Kekehan pelan itu mampu menggegerkan semua cewek yang memandangnya tanpa ia sadari.
Pantesan pas ditelepon semalem nggak diangkat... Seru banget ternyata pas nonton konsernya.
Aldo tahu dan mengawasi Nadya dari telepon seharian kemarin. Kemarin libur karena tanggal merah dan kebetulan konser Muse itu diadakan kemarin. Ia tidak mengawasi Nadya dari dekat karena ayah Nadyalah yang sudah mengantarkan Nadya ke bandara dan ke area Gelora Bung Karno. Akan tetapi, saat jam sembilan malam, saat Aldo meneleponnya hanya untuk mengecek apakah semuanya lancar-lancar saja, Nadya tak mengangkatnya.
Aldo hanya bisa terkekeh geli. Kayaknya, Nadya emang tergila-gila banget sama Muse.
59Please respect copyright.PENANANFaIHfPSJQ
Ngomong-ngomong, kamu datengnya siang banget, sih, Nad...
59Please respect copyright.PENANAhuZ6M9YoKl
"Bro," panggil Rian sembari menepuk pundak Aldo. Aldo hanya menoleh sejenak kepadanya dan berdeham.
"Hm?"
"Liat tuh si Fara. Udah mulai nagihin uang kas," ujar Rian jengkel. "Duitnya nggak seberapa, tapi teriakannya kayak pake toa. Beuh."
Aldo hanya melihat sejenak ke arah Fara, begitu pula Adam yang duduk di belakang mereka. Terdengarlah teriakan Fara yang ampuh untuk membangunkan orang satu kampung itu.
59Please respect copyright.PENANAMzwEnQtrtL
"BAYAR UANG KAAAAAAAASSSSSS!!!!! BAYAAAAAARRRRRRRR!!!!! BAYARRR SEKARAANGGGGG!!!"
59Please respect copyright.PENANA86l3wwt6B8
Rian menutup telinganya dan memasang wajah bosan. Yang enggak bayar siapa, yang kena teriakannya siapa? Ya satu kelas. Lagi pula...ngapain, sih, anak-anak bandel yang duduk di belakang itu enggak bayar? Padahal jajannya banyak. Adam tertawa terbahak-bahak saat melihat reaksi Rian yang sebenarnya selalu seperti itu saat Fara mulai menagih uang kas.
Begitu Rian menoleh kepada Aldo, Aldo sudah memasang posisi semula. Wah, tampaknya Rian tadi memang sudah mengganggunya. Saat Rian mencoba untuk memastikan apa yang sedang Aldo lakukan, Rian mencibir.
"Hm... Panteees. Ngeliatin Nadya ternyata," ejek Rian. Cowok itu mulai senyum-senyum, tetapi Aldo hanya diam.
Adam lalu nimbrung dan sedikit berdiri untuk mencolek Aldo. "Oii, udahan mandanginnya, ntar lagi guru masuk!" ujarnya, kemudian ia tertawa dan bertos ria dengan Rian.
Namun, saat Aldo tiba-tiba menjawab, keduanya terdiam.
Karena jawaban Aldo adalah;
"Wajar kok gue nggak berhenti mandangin. Dia cantik; semua tingkahnya itu alami. Lagi pula, dia itu milik gue."
Setelah dua detik terdiam, Rian dan Adam kemudian bersiul panjang. Adam lantas berkata, "Aseeek, Bro. Semoga langgeng terus, yak."
59Please respect copyright.PENANA33K06nWT38
******
59Please respect copyright.PENANATCJP0LH5Y6
Pelajaran TIK hari ini tidak begitu Nadya mengerti. Nadya kurang paham menggunakan Microsoft Excel dan gurunya sedang memberikan mereka latihan membuat tabel yang berisi perhitungan dengan rumus. Begitu waktu pengerjaan dimulai di lab, Nadya mulai mengerjakan bagian yang ia mengerti. Keningnya bertaut, merasa bahwa lebih baik ia mengerjakan Matematika atau Fisika saja daripada Excel. Ia tahu Gita lebih paham darinya dan ia menunggu hingga Gita selesai dan mengajarinya. Soalnya, ia tahu kalau Gita tidak suka diganggu saat cewek itu belum selesai.
Namun akhirnya, Nadya malah gelisah sendiri. Waktu sudah hampir habis dan Gita belum juga selesai. Nadya mulai memaksa untuk bertanya pada Gita yang duduk di sisi kanannya dan Gita menjawabnya juga sambil gelisah. Nadya berkali-kali menggaruk kepalanya dan rasanya kepalanya jadi panas karena panik.
Duuh... Gimana, nih... Masih banyak lagi. Mana nggak diterangkan dulu tadi karena ibunya bilang mau ngetes kemampuan Excel anak-anak di kelas ini...
"Git, ini pake rumus apa? Count ya? Apaan, sih, ini? Duh..." Nadya terdengar seperti ingin menangis saja lantaran hasilnya selalu error meski ia sudah melihat rumusnya di buku cetak. Lagian, mengapa mereka harus mempraktekkan seluruh rumus yang diberitahukan di buku cetak?
"Lima menit lagi," ujar guru mereka.
Nadya terperanjat. Ia kembali menggaruk kepalanya dan bergerak dengan gelisah karena merasa benar-benar panik. Ia adalah tipe orang yang tak mau ketinggalan mengumpulkan tugas meski hanya satu tugas saja. Ia benar-benar bingung.
Tiba-tiba seseorang yang duduk di sebelah kiri Nadya memberikan sebuah flash disk kepada Nadya. Nadya mengernyitkan dahinya pada orang itu—Vina—dan menatap flash disk itu dengan heran. "Kenapa, Vin?"
"Dari Aldo. Katanya buat lo, Nad," ujar Vina sembari tersenyum. Vina lalu kembali sibuk mengerjakan miliknya dan flash disk itu kini sudah ada di tangan Nadya. Dari Aldo?
Spontan Nadya melihat ke arah Aldo yang duduk tak jauh dari tempatnya. Aldo tersenyum manis padanya dan memberi kode pada Nadya untuk membuka file di dalam flash disk itu. Mata Nadya hanya membulat dan ia pun menuruti perintah Aldo. Begitu ia membuka satu-satunya file yang ada di dalam flash disk itu—berekstensi .xlsx—dan melihat isinya, ia terkejut. Itu file tugas saat ini!
Itu...milik Aldo?
Nadya langsung menoleh kepads Aldo. Nadya menatap Aldo dan menyatukan alisnya samar. Aldo lalu mengode Nadya agar jangan khawatir. Cowok itu tampak berkata tanpa suara, 'Gapapa. Edit aja warna tabelnya. Oke?'
Nadya tercengang. Cewek itu akhirnya melipat bibirnya dan memejamkan matanya kuat-kuat.
Duh... Berarti tadi jelas banget kalo aku gelisah karena nggak bisa ngerjain. Aldo liat, ya? Duh, malunya...
Nadya kemudian menatap Aldo kembali. Ia tersenyum kikuk dan mengangguk. Tanpa suara, ia mengatakan, 'Makasih, Aldo.'
Dengan itu, Nadya berhasil mengumpulkan tugasnya tepat waktu. Tindakan tanpa sadar Aldo itu sukses memancing orang lain untuk semakin ingin tahu apakah Aldo benar-benar serius dengan Nadya atau hanya karena sebuah kewajiban. Namun, berbeda buat Nadya, itu malah membuat Nadya sadar bahwa: hidupnya sekarang jadi penuh dengan sosok Akdo. Pertama, dia dapat tiket dari Aldo. Kedua, dia diantar Aldo pulang sewaktu dia sakit. Ketiga, dia belajar dari buku latihan Bahasa Indonesia milik Aldo. Keempat, dia jadi semangat untuk pergi ke sekolah karena jatuh cinta pada Aldo. Sekarang, ia meng-copy tugas Aldo.
Lama-lama, tanpa ia sadari...Aldo kini benar-benar masuk ke kehidupannya. Semuanya jadi tentang Aldo. Apa mungkin ia bergantung pada Aldo meski ia tak ingin?
59Please respect copyright.PENANAIL7aLCL01g
******
59Please respect copyright.PENANAg5CpSs2nf5
Koridor sekolah diramaikan oleh murid-murid yang ingin pulang sekolah karena bel sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Nadya baru saja melewati tangga untuk turun ke lantai satu saat tiba-tiba ia melihat ke arah jendela dan terdiam. Candaannya dengan Gita terpotong dan ia sedikit memperlambat jalannya saat melihat ke jendela lebar yang ada di dinding sepanjang tangga. Barisan jendela itu ada di tiap tangga lantai sekolahnya. Mata Nadya melebar samar dan berkedip dengan lambat satu kali; ia menatap dengan polos, tetapi diamnya itu menunjukkan bahwa sesuatu yang dilihatnya itu adalah sesuatu yang tak biasa. Dia melihat ke luar jendela, agak ke bawah. Di belakang gedung sekolah mereka.
Di sana ada Aldo dan Syakila. Mereka sedang berdiri berhadapan seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak boleh didengar oleh orang lain. Aldo dan Syakila berbicara di bawah pohon eucalyptus itu, pohon di mana Aldo meminta Nadya untuk menjadi pacarnya.
Aldo itu...orang populer di sekolah yang nggak pernah kelihatan berdua atau ngobrol dekat sama perempuan...'kan? Tapi...dia ngobrol sama Syakila...
"Woi," panggil Gita, menyadarkan Nadya. Nadya kontan langsung menoleh kepada Gita dan tersenyum kikuk.
"Ayo jalan," ajak Gita. "Lo kenapa, Nad? Nggak enak badan?"
Jantung Nadya berdegup kencang saat ia mencoba untuk menggeleng. "Nggak kok, Git. Ayo jalan."
59Please respect copyright.PENANAcVIXlXtFsT
Ada apa, ya...
59Please respect copyright.PENANAEZYMHwPG03
Sembari lanjut berjalan, Nadya cuma menarik napas dan kembali ikut dalam candaan Gita untuk menghilangkan kecemasannya barusan. Semoga Aldo enggak lagi ada masalah, itu saja. Selebih itu pun...entah Aldo mau menceritakannya atau tidak kepada Nadya. Soalnya Nadya belum pernah melihat sisi Aldo yang lain, misalnya saat Aldo marah atau sedang ada masalah... Aldo tak pernah menunjukkan semua itu. Yang Nadya tahu hanyalah senyuman tulus Aldo dan tatapan lembut Aldo padanya. Meski Nadya ingin melihat semua sifat Aldo, semua tentang Aldo, Aldo tak pernah menunjukkan semua itu.
Nadya juga tahu bahwa Aldo belum tentu mencintainya. Bagaimanapun juga, mereka jadian karena sebuah kondisi dan bukan karena sayang. Itu hanyalah...sebuah status. Ah, ralat, Nadya rasa sekarang itu sudah menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Sebenarnya, jika Aldo tak tahu soal perasaan Nadya pun...tak apa. Kemungkinan…perasaan berterima kasihlah yang membuat Nadya berpikir seperti itu.
Ia berterima kasih karena Aldo telah mengajarkannya tentang cinta dan juga perasaan lain. Aldo juga begitu menghargainya sebagai seorang perempuan, memperlakukannya dengan sangat istimewa...
Jadi, berharap mendapat balasan cinta dari Aldo itu...kini...ia rasa...mungkin tak perlu. Hanya mengetahui bahwa ia jatuh cinta pada Aldo, itu sudah cukup. Perasaan itu berharga baginya.
Oleh karena itu, Nadya merasa tidak punya hak untuk meminta Aldo menunjukkan semua ekspresi dan semua sifatnya pada Nadya. Namun, tetap saja Nadya ingin Aldo...menunjukkannya...
Aldo telah mengajarkan Nadya satu hal lagi karena saat ini ada perasaan lain yang muncul di hati Nadya saat melihat Aldo dan Syakila berbincang berdua. Ada perasaan lain yang muncul selain perasaan cemas dan heran. Aldo dan Syakila, kan, juga berteman seperti Aldo dan teman-teman yang lain, tetapi mengapa ada sebuah feeling aneh yang mampir ke hati kecil Nadya saat Nadya melihat cara Syakila berbicara pada Aldo di bawah pohon itu?
Tatapan Syakila juga... Nadya kenal tatapan itu. Nadya kenal karena Nadya juga merasakannya saat menatap Aldo.
59Please respect copyright.PENANAPhtKZZciA0
Tatapan orang yang sedang jatuh cinta...
59Please respect copyright.PENANAFQcRFdzv8U
Entah apa alasannya, untuk pertama kalinya Nadya merasa ada sesuatu yang seolah menekan dadanya. Itu terasa sakit dan menyesakkan. []
59Please respect copyright.PENANA1hqEBOObc4