Farel Bintang POV812Please respect copyright.PENANARiA29oWP29
812Please respect copyright.PENANAdyZpVlE9wZ
Pernahkah kalian punya masa lalu yang ingin kalian lupakan? Atau kalian sering terlena dengan masa lalu tatkala teringat ketika kalian menatap hujan. Jika kalian bertanya padaku, aku akan menjawab bahwa aku akan melupakan masa laluku. Masa laluku tidak seperti orang pada umumnya. Banyak lika-liku dan tampak abu-abu. Terlalu banyak kesalahan yang telah kuperbuat.
812Please respect copyright.PENANAwhSNYfsxPR
Aku dulu pernah punya kekuasaan. Semua orang tunduk dan menghormatiku. Tetapi kenapa hal seperti itu yang ingin kulupakan? Bukannya enak apabila kita bisa mendapatkan semuanya. Selalu ada Rahasia di balik cerita. Tidak kubiarkan seseorangpun yang dapat mengentahuinya. Biarlah ia terpendam oleh kenangan baruku yang lebih baik.
812Please respect copyright.PENANAbW0imfFkvk
Kembali ingatan itu terputar olehku. Seseorang mengejarku dengan ganasnya. Bisa kuhitung berapa orang yang berusaha mengejarku. Teman-temanku juga mengikutiku di belakang, mengikuti di mana tempat terbaik untuk lari dari mereka.
812Please respect copyright.PENANAPQQmJYnMZj
"Woi, jangan lari kau!" teriak mereka di belakang.
812Please respect copyright.PENANAMLpbbPxVkc
"Cepat, jangan sampai kita dapat." Kata temanku sambil melihat ke belakang. Tampak jelas olehku wajah pemberani tak kenal takut itu dipenuhi oleh peluh berlari.
812Please respect copyright.PENANAiOoRwKf3Bu
"Ayo!" kataku memberikan semangat pada kedua teman yang mengikuti di belakangku.
812Please respect copyright.PENANACi4Z9jRu1T
Akhirnya tempat yang kami tuju telah terlihat. Gedung tak jadi itu akan jadi tempat akhir dari pelarian kami ini.
812Please respect copyright.PENANAxAcIPtffTb
Kedua temanku berteriak, "Woi, kami sampai." Aku tersenyum saat teman-temanku yang lain membalas senyumku di sana. Belasan murid itu siap tuk memberikan perlindung kepada kami yang sedang dikejar.
812Please respect copyright.PENANALvYWcLGhpq
Aku menunduk penat. Bajuku basah oleh peluh yang keluar. Nafasku sungguh tidak beraturan lagi, seakan ingin pingsan dan terbaring di tanah berumput ini.
812Please respect copyright.PENANACUYaU3ufZJ
"Ga apa-apa, kau udah sampai di sini. Sekarang biar kami yang mengatasinya." Salah satu temanku menepuk pundakku.
812Please respect copyright.PENANA4lg795GYJj
Aku mengangguk mengerti lalu berputar balik menatap kelima orang yang mengejar kami tadi. Tampak wajah takut mereka menatap kami yang berjumlah belasan orang.
812Please respect copyright.PENANAajn8TsmvaG
"Awas kau, ya, kita belum selesai!" teriak salah satu dari mereka.
812Please respect copyright.PENANASGzSXr2Ia5
Aku tidak memerdulikannya. Mereka tidak tahu siapa aku. Perlahan tapi pasti, mereka meninggalkan kami.
812Please respect copyright.PENANA3uovWclTQW
Sebuah handphone yang kupegang menjadi alasan kami dikejar oleh mereka. Di ujung mataku, tegak seorang anak berkacamata menyandang tas ranselnya. Baju SMP yang ia pakai tampak rapi seperti anak-anak baik pada umumnya. Badannya cukup tinggi, namun nyalinya tidak menyamai dengan postur tubuhnya.
812Please respect copyright.PENANAZzSDXzgzRJ
"Hei, ini punya kau. Kami hampir mati hanya karena mengambil ini dari tangan mereka. Sebaiknya jaga biar nggak dicuri mereka lagi." Aku menyerahkan handphone yang ada di tanganku.
812Please respect copyright.PENANA3Rf3dsaHBh
"Baiklah,terima kasih," ucapnya. Nadanya sedikit bergetar. Wajahnya seperti takut kepadaku.
812Please respect copyright.PENANAfCnS6CGAAX
"Hahahaha, iya sama-sama. Kau juga teman sekolah kita. Wajib dibantu. Yaudah, pulang sana. Kalian juga," kataku pada belasan temanku yang lainnya.
812Please respect copyright.PENANAe6ehWmFL4y
"Baik Boss!" jawab mereka. Aku hanya tertawa mendengar panggilan mereka padaku. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dipanggil seperti itu. Bagiku kami semua sama, tak ada yang menjadi pemimpin di sini.
812Please respect copyright.PENANA2VAtKEPEWr
Mereka semua meninggalkanku. Aku tetap di situ memandang langit mendung yang bergerak perlahan. Angin terasa begitu kuat menerpa wajahku. Titik demi titik gerimis mulai membasahi tanah. Aku menunggu momen ini.
812Please respect copyright.PENANAoTIlsXeCoO
"Anu, Siapa nama kau?" tanya anak yang tadi kutolong. Aku menoleh padanya. Wajahnya cukup tampan, namun pembawaannya terlihat sedikit culun.
812Please respect copyright.PENANAxGFZ3yAuxR
"Apakah itu penting bagi kau?" kataku sambil menadah tangan berusaha menampung hujan gerimis yang turun.
812Please respect copyright.PENANAXnjXFRnakW
"Tidak, aku hanya bertanya. Aku sangat berterima kasih. Sedang apa kau?" tanya anak itu lagi.
812Please respect copyright.PENANAkugy36MWtn
Aku menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. Aku senang ketika di tanya apa yang sedang aku lakukan.
812Please respect copyright.PENANAUAvVHsM8Ph
"Menunggu rinai hujan," jawabku. Mataku semakin berbinar menatap awan yang semakin gelap ingin menumpahkan tangisannya.
812Please respect copyright.PENANAvowFYt8ann
"Namaku Azka. Aku hanya ingin berteman dengan kau. Aku pulang dulu," pamitnya lalu pergi. Aku menatap pundaknya yang lebar.
812Please respect copyright.PENANA2tEsHAGpPC
"Hai anak baru, namaku Farel. Kalau ada yang masih berani mengganggu kau, bilang saja padaku karena kau sekarang temanku," kataku sambil tersenyum.
812Please respect copyright.PENANAr4n7Yj84mR
"Oh iya, badan kau cukup tinggi. Aku sarankan kau untuk aktif di basket SMP kita," kataku lagi. Ia tampak membalas senyumku. Ia berlari menghindari hujan, sementara aku di situ menatap ke atas memeluk hujan. Baru kali itu seseorang memintaku menjadi temannya.
812Please respect copyright.PENANA0MEbGWRBoi
812Please respect copyright.PENANAcFv6jqpDaI
812Please respect copyright.PENANAKxGbB88DfQ
812Please respect copyright.PENANA9MKQUjc3EU
812Please respect copyright.PENANAPhoIrV2774
812Please respect copyright.PENANAZNoDjeLgF5
812Please respect copyright.PENANAASKaBZGb8Q
812Please respect copyright.PENANATrXN7Rl8DM
812Please respect copyright.PENANAmZ6tUPCZB5
812Please respect copyright.PENANAToqrU9CyYk
812Please respect copyright.PENANAU8EYsa20Ds
812Please respect copyright.PENANAmFQ8lxBBaW
812Please respect copyright.PENANAj8N3SazQ96
812Please respect copyright.PENANADtHOuwEacq
812Please respect copyright.PENANAjPJXAg98Gi
812Please respect copyright.PENANA7ehO2k3nYg
812Please respect copyright.PENANAsMNdPFjAP4
812Please respect copyright.PENANAEz58xfAL2B
812Please respect copyright.PENANAaKKEVj0lBG
812Please respect copyright.PENANAeJNO4YyqSI
812Please respect copyright.PENANA5205Ypsb98
812Please respect copyright.PENANAwWI7uevD9E
812Please respect copyright.PENANA0FNXnHsrQm
812Please respect copyright.PENANA6UHoXQRi7b
812Please respect copyright.PENANAicWO4vTtiw
812Please respect copyright.PENANAkYNpeUvBj7
812Please respect copyright.PENANAsNf5jQGt8h
Aku kembali lagi ke masa sekarang yang lebih datar bagiku. Terdengar olehku riuh suara murid laki-laki tanpa henti. Sayup-sayup mataku menatap ke depan. Wali kelasku sudah datang, namun berani-beraninya mereka ribut seperti ini, kecuali laki-laki yang hanya berjarak satu bangku kosong di sebelah kananku. Ia hanya memasang tampang cool.
812Please respect copyright.PENANAgP3XW8SJWg
Aku segera membenarkan pandanganku. Di samping Wali Kelasku berdiri seorang wanita. Aku menatap mata bulatnya yang menggemaskan. Bulu matanya lentik lengkap dengan alis tebalnya. Kedua sudut bibirnya melebar membentuk senyum. Pancara manis dari wanita di depan itu tidak bisa kuelakkan. Ia menatapku dan tersenyum dengan ringannya. Aku mengenal wanita itu. Itu wanita bergitar tadi pagi.
812Please respect copyright.PENANAtCPBS8vBxN
"Hai semua, namaku Alvia," katanya memperkenalkan diri. Tatapannya masih tertuju kepadaku.
812Please respect copyright.PENANAwR0QDG3oxJ
"Alvia, nanti kamu bisa berkenalan dengan mereka semua. Sekarang silahkan duduk," kata Wali Kelas.
812Please respect copyright.PENANAcmvVABidpO
Langkahnya yang lambat menuju ke meja. Ia tersenyum padaku sekali lagi, namun itu membuatku salah tingkah.
812Please respect copyright.PENANA8eoysdkTRq
"Kau, kan?" tanyaku.
812Please respect copyright.PENANAu41JUW9mEY
"Iya, benar." Ia seketika menjulurkan tangannya padaku. "Namaku Alvia. Namamu siapa?"
812Please respect copyright.PENANAs7CBHtuxZY
Tak ada ekspresi berarti dariku. Aku tak menggapai tangannya. kubiarkan sampai ia menarik tangannya sendiri.
812Please respect copyright.PENANA8sjeMj75ME
"Oh, kamu belum mau memberitahukan namamu, ya? Semoga kita berteman." Ia mengulum senyum.
812Please respect copyright.PENANAmKqp7mSCIa
Dibalik senyumnya, kulihat tatapan datar dari orang di sampingnya. Itu lelaki yang sama ketika tatapan itu terlihat saat ia sedang bermain basket tadi pagi. Tatapan yang mengandung kebencian. Seakan ingin menghantamku dengan keras.
812Please respect copyright.PENANAzOz2yOMtpt
Ia benar-benar membenciku.
812Please respect copyright.PENANAyWEmkpIKl5
***
812Please respect copyright.PENANAjcW4rgQqVq
ns3.144.104.210da2