Farel Bintang POV
712Please respect copyright.PENANArQsoJmFuQl
Diriku merindu pada hujan. Rindu pada setiap titik embun hujan yang jatuh dari pucuk pepohonan. Setiap langkahku menyebut hujan tuk berkunjung datang. Suatu hal yang sering membuatku hilang akal.
712Please respect copyright.PENANAz4SqJAlgek
Adakah yang bisa mengisi kekosonghan hati? Merasuki ruang hampa yang yang telah lama berdebu dan sepi. Terasa berat saatku menatap menggunakan perasaan. Perasaanku seakan kebas dan mati.
712Please respect copyright.PENANAGwJBGKXWzP
Cahaya mentari menerpaku di pagi yang cerah ini. Di bawah naungan awan tipis aku melangkah lambat di antara rimbunan pohon mahoni yang banyak tumbuh di sepanjang jalan. Masih terasa olehku udara sejuk yang tersisa karena guyuran hujan tadi malam. Dingin tapi tidak terlalu. Terkalahkan oleh semangat mentari menyinari bumi pada pagi hari ini.
712Please respect copyright.PENANAtGVjCzkVv8
Di ujung mataku sudah terlihat tempat tujuanku. Tujuan yang menjadi alasanku berjalan sepagi ini. Apalagi selain sekolah. Tempatku mencari ilmu sebagai pelajar, tempatku mencari jati diri, tempatku mengerti arti sahabat, tempatku tahu arti cinta dan apa rasanya patah hati. Banyak yang kupelajari di sana dan banyak pula yang kulupakan di sana. Kadang seseorang punya masa abu-abu di sana yang patut mereka lupakan dan membuka lembaran baru.
712Please respect copyright.PENANAWnpgCZWgcu
Setiap langkahku menyebutkan angan-angan yang kadang sempat terlintas di pikiranku. Segurat senyum penuh kejujuran nan menenangkan hati. Menyampingkan setiap beban yang terus saja menggerogoti pundak. Segurat senyum yang melukiskan keceriaan di antara sudut bibirnya itu.
712Please respect copyright.PENANANiuxy4uBrQ
Belum satu pun teman yang kutemui dan belum satu pun senyuman yang kudapatkan. Namun jujur, aku tidak memiliki banyak teman. Aku lebih suka menyendiri. Suatu alasan yang membuatku begitu. Aku rasa aku lebih menjadi diriku sendiri ketika hanya ada ada aku dan pikiranku sendiri.
712Please respect copyright.PENANA0JVYlPT2TH
Aku suka menikmati kesendirian. Rasanya sangat damai ketika kumenikmati waktu sendiriku sambil menatap awan putih di atas sana. Duduk di tempat duduk panjang dengan diringi musik santai selalu aku lakukan setiap hari. Tak ada seorang yang datang ke sana, hanya ada aku. Setelah meletakkan tas di kelas, aku melangkah ke tempat itu.
712Please respect copyright.PENANAGv0J3G8ms3
Mataku menatap lurus ke kursi itu. Dua tempat duduk besi itu di letak saling membelakangi. Warnanya hitam namun tidak mengkilat seperti dulu. Setidaknya lebih kokoh daripada pendahulunya yang hanya berupa kursi kayu berdecit.
712Please respect copyright.PENANAAnVe4oOEnO
Ada yang mengganjal di ujung penglihatanku. Kejauhan sana tidak seperti biasanya. Langkahku dibuat terhenti dengan apa yang ada di sana. Sebuah gitar bertengger di atas tempat duduk itu. Aku tidak melihat siapa-siapa di sana., hanya gitar itu. Kembali kulangkahkan kakiku kembali ke tempat duduk itu.
712Please respect copyright.PENANAEEPm6tGJ9w
"Haaaa, tidak ada tempat senyaman ini," kataku sambil membuka tangan. Udara sejuk sungguh terasa di sela-sela jemari yang sedikit berkeringat. Aku duduk dengan nyamannya. Inilah yang kulakukan setiap hari dan inilah yang kusebut menikmati waktu sendiri. Aku menoleh tempat duduk yang juga saling membelakangi dengan tempat duduk yang sedang kududuki ini. Gitar itu terletak begitu saja. Entah ke mana pemiliknya pergi. Satu hal yang kuketahui, jariku ingin sekali menekan senar-senar itu.
712Please respect copyright.PENANAIK7VroFaEd
Bunyi petikan gitar yang padu menggema di sekitarku. Bunyi senar bass yang besar berkolaborasi dengan bunyi senar bawah yang nyaring mengundang angin pagi nan sepoi. Mengempas lembut ke wajahku yang sedang tersenyum tipis. Jariku semakin saja menggila menekan setiap senar di gitar. Melodi-melodi terdengar harmoni di telingaku.
712Please respect copyright.PENANAfBlpUntaPh
Sudah lama aku tidak memegang gitar. Itu pernah bagian dari hobiku dahulu. Entah kenapa gitarku dulu pernah kutinggalkan di rumah seseorang. Aku sering berkunjung ke rumahnya. Suatu waktu aku membawa gitar dan meninggalkannya di sana. Sampai detik ini tidak pernah aku ambil. Biarlah dia di sana berganti pemilik. Mungkin saja jari pemilik baru itu terasa lebih nyaman dari jariku yang kasar ini.
712Please respect copyright.PENANA4S8DgHAxtv
Aku melihat langit di atas. Tampak cerah dengan selapis awan tipis. Ini menjadi pertanda tidak akan ada hujan hari ini. Aku sebenarnya kesal hujan turun tadi malam. Aku lebih menyukai hujan turun di siang hari. Aku bisa leluasa melihat setiap rintik rinai hujan yang turun. Mendengarkan nyanyian hujan yang terus menggema di telinga. Aku juga bisa mencium bau hujan yang khas. Membuatku bisa menyelam pada diriku sendiri,
712Please respect copyright.PENANAP78mNHAmyR
Aku sangat menyukai hujan. Aku bisa menyelam ke dalam diriku sendiri ketika hujan. Menelusuri setiap detail memori yang pernah terjadi padaku. Memori-memori itu kembali terputar seperti film bioskop lama. Berwarna abu-abu, namun penuh kenangan. Hujan selalu mewarnai bagi para penikmatnya. Apa lagi di temani secangkir kopi pahit dan diseruput tatkala hujan turun. Di saat itu hatiku selalu berharap, semoga saja pelanginya lebih jelas dari sebelumnya.
712Please respect copyright.PENANAdrdIE4LnjF
"Hai," sapa seseorang di belakangku. "Petikan gitarmu bagus juga," lanjutnya.
712Please respect copyright.PENANA9aVIe1YQVs
Kepalaku menoleh ke belakang. Ada seorang wanita yang duduk di belakangku. Senyumnya tipis namun tampak manis. Matanya yang bulat memicing di bawah naungan kedua alis tebal. Angin pagi yang tak sengaja lewat menggoyangkan rambut hitam panjangnya.
712Please respect copyright.PENANA1CluPKEyIB
Kenapa dia di sini? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Apalagi wanita secantik dirinya bisa terdampar di tempat duduk ini. Mataku bisa melihat dengan detail setiap garis wajahnya. Aku seketika terlena menikmati manisnya senyuman itu.
712Please respect copyright.PENANAaSrogodvRk
"Hai, kok bingung gitu?" tanya wanita itu lagi.
712Please respect copyright.PENANAdTpf4qC3tn
"Eh tidak kok. Eh, Hai juga. Ini pasti punyamu, kan?" Aku memberikan gitar itu padanya. Matanya tampak menolak gitar itu.
712Please respect copyright.PENANADvzKFb8MDT
Ia tampak menggeleng. "Aku mau kamu mainkan gitar ini lagi. Melodimu begitu manis terdengar," ucapnya memujiku.
712Please respect copyright.PENANAN28ARNNF31
"Tidak, aku mau masuk kelas dulu." Aku tegak lalu bergegas meninggalkannya. Namun, ia memanggilku lagi.
712Please respect copyright.PENANAmx0z2dgDVr
"Siapa namamu?" Langkahku terhenti mendengar pertanyaannya.
712Please respect copyright.PENANAKmpQzx17HM
"Apakah itu penting bagimu?" jawabku singkat lalu benar-benar pergi ke kelasku.
712Please respect copyright.PENANAEXsCFbw5T6
Aku tidak begitu suka berbincang dengan orang yang tidak kukenal sebelumnya. Apalagi dengan seorang wanita cantik seperti dirinya. Rasa gugup dan canggung menjadi satu. Sering kali aku berkata tidak jelas jika bertemu dengan wanita sepertinya.
712Please respect copyright.PENANA2jACIkuOGz
Terdengar olehku bunyi pantulan bola basket di lapangan. Murid itu tampak menatapku tajam. Tangannya yang kokoh mencoba melontarkan bola ke dalam ring basket. Ia cukup ahli dalam memainkannya. Setiap lemparannya selalu tepat sasaran. Meski ia fokus dengan bola basketnya, tetapi matanya tetap padaku. Tatapan itu memang sudah sering kudapatkan darinya. Jadi aku tak heran lagi. mengandung dendam dan kebencian.
712Please respect copyright.PENANAS5Q4btU6Qf
***
712Please respect copyright.PENANAaa22YpOo5V