Ima dan Wongso masih berpelukan di atas sofa, tubuh mereka berdua penuh peluh setelah hampir setengah jam lebih melakukan persetubuhan, memacu birahi terlarang. Desah nafas sesekali terdengar keluar dari bibir mungil Ima diimbuhi sejuntai senyum kepuasan.
"Nduk, Kamu kenapa tiba-tiba jadi begini?" Tanya Wongso, pria tua itu sambil membelai rambut Ima yang basah oleh keringat.
"Entahlah Pakdhe, Aku juga nggak ngerti." Jawab Ima lirih.
Sekelebat bayangan Andi terlintas di benak wanita cantik itu, suaminya yang begitu mencintai dirinya, membanting tulang siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya kini harus menerima sebuah pengkhianatan. Ima sadar betul jika malam ini dirinya dengan sadar serta sukarela menyerahkan tubuhnya pada Wongso, mencoreng ikrar bakti kesetiaan seorang istri yang dia ucapkan kala menerima pinangan Andi.
"Maafin Pakdhe ya Nduk, tidak seharusnya kita berbuat seperti ini. Pakdhe adalah pria bejat yang terbuai nafsu, bahkan sampai harus meniduri istri keponakan sendiri..."
Ima melirik ke atas, menatap wajah pria tua yang membawanya dalam petualangan kebinalan tanpa batas. Kenapa sekarang Wongso tak segarang biasanya? Kenapa justru ketika letupan birahi Ima sudah berada di ujung tanduk pria tua itu malah mendeklarasikan sebuah penyesalan? Ima menggigit bibirnya sendiri, dia tak ingin dipersalahkan atas dosa-dosa ini karena Wongsolah penyebab awal semuanya.
"Aku sayang Pakdhe.."
Kalimat itu meluncur mulus begitu saja, seolah alam bawah sadar Ima yang menggerakkannya. Wanita cantik itu mengungkapkan sesuatu yang seharusnya hanya dia katakan saat menikmati momen romantis bersama sang suami, bukan dengan seorang pria tua yang memperlakukannya layaknya budak sex.
Wongso terperangah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, pria tua itu mengangkat kepala Ima dari dadanya yang bidang. Diamatinya wajah sendu milik istri keponakannya itu, seperti sedang membaca gurat kebohongan yang mungkin saja tengah dimainkan oleh Ima.
"Jangan ucapkan itu Nduk. Kita nggak mungkin..."
Belum sempat wongso menyelesaikan kalimatnya, bibir Ima sudah memagut bibir tebal beraroma tembakau kretek milik pria tua itu. Tapi tak seperti biasanya, Wongso berusaha menolak dengan halus dan tak menanggapi ciuman Ima. Wongso sedikit mendorong tubuh Ima ke belakang untuk melepaskan ciuman, istri dari Andi itu nampak heran dengan perubahan sikap Wongso pada dirinya.
"Kenapa Pakdhe?" Tanya Ima dengan raut wajah keheranan.
"Lebih baik Kamu kembali ke kamar bersama Andi." Ujar Wongso dingin.
"Ta..Tapi Pakdhe..?"
"Kembali ke kamarmu Nduk, kita tidak boleh meneruskan ini. Aku menganggap Andi sebagai anakku sendiri, tidak mungkin Aku merebutmu darinya."
Tanpa menunggu komplain dari Ima lagi, Wongso melangkah masuk menuju kamarnya, meninggalkan wanita cantik itu dengan perasaan dicampakkan. Disaat Ima mulai menikmati petualangan birahi penuh dosa, ternyata Wongso mengambil sikap yang berbalik 180 derajat. Kemesuman pria tua itu memudar tertutup perasaan bersalah pada Andi, keponakan yang telah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Wongso sadar jika semua berawal dari kesalahannya yang tak bisa mengontrol nafsu setelah dipenjara hampir 10 tahun, tapi dia tak ingin meneruskan kesalahan itu yang berujung pada rusaknya rumah tangga Andi dan Ima. Wongso telah mengambil keputusan tegas, mengambil jarak dan tak ingin terlalu dekat dengan Ima.
Pria tua itu juga berniat segera pergi dari rumah milik Andi setelah misi perampokan sekaligus pembalasan dendam pada Djarot terlaksana. Layar sudah dibentangkan, pantang bagi Wongso untuk mengulang kesalahan.
808Please respect copyright.PENANAGNssiCozKf
***
808Please respect copyright.PENANAiJ7trtM92F
Beberapa hari berlalu begitu saja, Andi bersikap biasa seolah tak mengetahui persetubuhan antara istrinya dengan Wongso. Hal yang sama juga diperlihatkan oleh Ima, wanita cantik itu sama sekali tak memperlihatkan ketertarikan berlebih pada sosok pria tua yang telah mengambil separuh hatinya.
Wongso sendiri dalam beberapa hari terakhir jarang terlihat, dia lebih sering menghabiskan malam di rumah mendiang Gono bersama Anwar serta Rocy. Selain untuk mematangkan rencana perampokan mereka di salah satu rumah mewah milik Djarot, tapi juga untuk menghindari bertemu dengan Ima.
"Hari ini sepertinya Aku lembur Dek, jadi pulangnya agak malam." Ucap Andi sebelum menghabiskan suapan terakhir nasi goreng buatan istrinya.
"Iya Mas, jangan capek-capek." Pesan Ima sambil membereskan beberapa piring serta gelas minum dari atas meja.
"Oh ya, Pakdhe Wongso belum pulang?" Tanya Andi sambil melirik pintu kamar yang ditempati oleh Wongso, tertutup rapat.
"Belum sepertinya Mas, dari kemarin kayaknya nggak pulang." Jawab Ima.
Andi bangkit dari kursi meja makan, melangkahkan kakinya menuju kamar yang ditempati oleh Wongso. Saat pintu kamar dibuka, yang terlihat hanyalah ranjang kosong beserta bantal dan guling. Andi masuk ke dalam, membuka pintu lemari, beberapa potong pakaian milik Wongso masih tertata rapi di beberapa rak lemari.
"Kemana perginya Pakdhe Wongso ya?" Gumam Andi dalam hati.
Pria berkacamata minus itu lalu mengeluarkan ponsel dari dalam kantong celananya, tak lama segera dia menelepon Wongso. Nada sambung berbunyi beberapa kali tapi panggilan Andi sama sekali tak dijawab oleh Wongso. Andi mencoba beberapa kali lagi tapi hasilnya tetap sama, Wongso tak mengangkat teleponnya.
Andi duduk di tepi ranjang, sensasi melihat tubuh istrinya bercinta dengan Wongso menggelitik sisi terliar birahinya. Ya, dia ingin melihat itu lagi, melihat bagaimana Ima begitu binal menggenjot batang penis kekar milik Wongso.
Menyaksikan bagaimana keduanya bercumbu penuh gairah, sementara dirinya diam-diam mengintip sambil melakukan masturbasi. Sebuah sensasi yang akan sulit dia rasakan kembali jika Wongso tiba-tiba menghilang dan tak memberi kabar seperti ini.
"Aku harus segera menemukan keberadaan Pakdhe Wongso! Harus!" Tekad Andi dalam hati.
"Kamu kenapa Mas? Kok tiba-tiba nglamaun kayak gitu?"
Suara Ima yang sudah berada di depan pintu kamar yang ditempati oleh Wongso membuyarkan lamunan Andi.
"Oh, nggak Dek. Aku cuma bingung aja kok Pakdhe Wongso tiba-tiba pergi dang nggak ngasih kabar. Aku coba telpon berkali-kali tapi nggak diangkat."
"Mungkin Pakdhe masih sibuk Mas." Ucap Ima.
Wanita cantik itu sendiri merasakan ada yang hilang dalam hidupnya kala Wongso tak menampakkan batang hidungnya. Ima merindukan cumbuan kasar dari pria tua itu, sentuhan tangan kekarnya, penetrasi penis berurat yang menyesaki liang vagina, dan semua kemesuman yang dimiliki oleh mantan napi itu benar-benar didambakannya. Meskipun Wongso sudah menolak secara tegas, tapi tetap saja Ima tidak bisa begitu saja melupakan sosok pria tua itu.
"Ya, mungkin aja kayak gitu Dek. Nanti Aku coba telpon lagi deh." Ujar Andi seraya bangkit dari sisi ranjang.
"Aku berangkat kerja dulu ya Dek."
"Iya Mas, hati-hati di jalan."
Andi mengecup kening istrinya sebelum beranjak meninggalkan rumah. Ima melepas kepergian suaminya dengan mendambakan sosok pria lain kembali dalam pelukannya.
808Please respect copyright.PENANAuJhGc8S2dO
***
808Please respect copyright.PENANAOq9GD4wV26
BRAAAKKK!!!
Dengan penuh emosi Yasmin menggebrak meja kerjanya, seorang pria dengan wajah sangar dan jenggot tebal berseragam dinas lapas nampak duduk tenang di hadapan janda semok itu, sama sekali tak terintimidasi oleh aura kemarahan yang ditunjukan oleh Yasmin.
"Enak aja Lu maen ambil rumah orang! Rumah itu Gue beli dari hasil kerja keras, bukan minta-minta! Sekarang Lu dateng seenaknya terus bilang mau ngasih rumah itu ke lonte?!" Umpat Yasmin penuh amarah.
"Gue nggak minta, tapi Lu yang harus ngasih rumah itu ke Gue sebagai kompensasi." Ucap si pria sangar, senyumnya mengembang tenang di wajah seolah ingin mengejek luapan emosi Yasmin.
"Kompensasi?! Maksud Lu apa?! Lu yang pergi ninggalin Gue sama Nadia dan memilih menikahi lonte itu! Gue nggak harus bayar apa-apa untuk sebuah pengkhianatan!" Pekik Yasmin, kali ini dia sudah berdiri dari tempat duduknya, kedua matanya menatap tajam raut sombong si lawan bicara.
"Oke, kalo Lu nggak mau nyerahin rumah itu, mulai besok Nadia tinggal sama Gue." Kata si pria sangar. Yasmin terbelalak kaget, ternyata ini maksud dari si pria sangar. Sebuah ancaman pada dirinya dan Nadia, putri tunggalnya.
"Gue yang memenangkan hak asuh atas Nadia! Lu nggak berhak ngambil Nadia dari Gue!" Bentak Yasmin masih dengan aura kemarahan luar biasa.
"Come on, kita berdua tau apa yang udah Lu lakuin buat dapetin hak asuh itu Yasmin! Semua bukti-bukti ada di tangan Gue, Lu mau apa? Transfer Lu ke panitera? Atau bukti chatt lawyer Lu yang ngasih paket liburan ke hakim? Hahahahaha! Semua kartu AS Lu ada di Gue!" Yasmin makin terhenyak, posisinya kali ini terpojok.
"Kenapa jadi diem gitu? Ayolah Yasmin, kita berdua tau solusi masalah ini cuma satu. Lu serahin rumah itu ke Gue, dan Gue janji nggak akan ganggu hidup Lu lagi. Semua senang, semua menang." Lanjut pria sangat itu. Yasmin sepertinya sudah buntu untuk menemukan jalan keluar menghadapi ancaman lawan bicaranya ini.
"Oke, Gue tunggu jawaban Lu sampai lusa. Kalau Lu masih bersikeras nggak mau nyerahin rumah itu, jangan cari Gue kalo tiba-tiba nama Lu jadi viral karena kasus jual beli perkara." Pria sangar itu kemudian bangkit dari tempat duduk sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang kerja Yasmin.
Yasmin menghempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan perasaan kesal bukan main. Tiba-tiba saja mantan suaminya, Djarot, datang ke kantornya untuk mengambil alih sebuah rumah mewah yang dibeli dari hasil kerja kerasnya seorang diri. Pernikahan mereka berdua harus berakhir dengan proses perceraian karena Djarot menghamili seorang pemandu karaoke.
Yasmin bukannya menutup mata atas semua skandal yang melibatkan Djarot selama pernikahan mereka. Tapi jika skandal itu sampai mengakibatkan seorang perempuan berbadan dua maka itu tak bisa untuk dimaafkan. Alhasil Yasmin langsung mengajukan gugatan cerai. Permasalahan ternyata tak berhenti sampai disitu saja karena Djarot menginginkan hak asuh atas Nadia, gadis berusia 8 tahun hasil dari pernikahan mereka berdua.
Kehilangan Djarot sebagai kepala rumah tangga tak menjadi maslah besar bagi Yasmin, apalagi penghasilannya selama ini berkali-kali lipat dibanding apa yang diberikan oleh kepala sipir itu. Tapi, kehilangan hak asuh atas Nadia adalah hal berbeda bagi wanita bertubuh sintal itu. Hidupnya tak akan berarti apa-apa jika dirinya harus sampai berpisah dengan puteri satu-satunya itu.
Maka dengan segala cara dia berusaha memenangkan hak asuh Nadia lewat jalur hukum. Menyewa lawyer ternama bahkan sampai menyuap petugas pengadilan dilakukan oleh Yasmin agar dirinya bisa memenangkan perkara.
Celakanya, hari ini Djarot membuka praktek kotor itu tepat di hadapannya. Kepala sipir itu meminta imbalan untuk sekedar menutup mulut agar kasus perebutan hak asuh atas anak ini tak kembali dibuka. Yasmin harus menyerahkan salah satu rumahnya pada sang mantan suami.
Wongso melirik layar ponselnya, enam kali panggilan dari nomor telepon Andi diabaikan oleh pria tua itu. Dihisapnya kembali rokok kretek kegemarannya, asap mengepul keluar dari dalam mulutnya membumbung pekat. Sudah dua hari terakhir ini Wongso tak tidur di rumah Andi, tujuannya jelas, menghindari Ima yang secara terbuka telah mendeklarasikan perasaan pada dirinya.
Sebuah ungkapan perasaan sayang dari seorang istri keponakannya sendiri. Wongso memilih untuk menghabiskan malam di rumah Risma bersama Anwar dan Rocky. Di tempat ini setidaknya pikiran Wongso bisa lebih tenang untuk mematangkan rencana perampokan dan balas dendamnya pada Djarot tanpa harus dibebani perasaan bersalah pada Andi maupun Ima.
Nada dering ponsel pria tua itu kembali terdengar, dengan malas Wongso melirik ke layar ponsel karena menduga itu adalah panggilan dari Andi. Tapi perkiraannya salah, adalah Djarot yang ternyata meneleponnya. Wongso tersenyum sinis, ternyata kepala sipir itu panjang umur juga setelah beberapa hari menjadi objek rencana jahat kini tiba-tiba dia menghubunginya.
"Halo Bos." Sapa Wongso.
"Heh bangsat! Mana uang Gue?! Lu jangan coba-coba buat lari ya!" Tanpa basa-basi Dajrot langsung mencerca Wongso, menagih uang kegagalan perampokan beberapa bulan lalu.
"Tenang Bos, nggak usah marah-marah dulu. Uangnya masih Saya usahakan." Jawab Wongso tenang, dia tak ingin terpancing emosi akibat ucapan kasar Djarot.
"Lu jangan main-main ya sama Gue! Kapan Lu bakal ngasih uang itu?! Hah?!" Sergah Djarot, nampaknya memaksa Yasmin untuk menyerahkan sebuah rumah mewah tak cukup bagi kepala sipir penjara itu, kali ini dia masih menginginkan uang dari Wongso.
"Kasih Saya waktu dua atau tiga hari lagi Bos, pasti uangnya ada." Ujar Wongso, dalam benaknya sudah membayangkan bagaimana murkanya Djarot saat mengetahui nanti rumah mewahnya akan menjadi sasaran perampokan.
"Oke, Gue pegang omongan Lu! Tapi inget, kalo sampai tiga hari lagi Lu nggak bisa bawain Gue uang, nyawa Lu jadi taruhannya!"
"Siap Bos, Wongso selalu menepati janji, tenang aja."
Sambungan telepon terputus, Wongso menghela nafas panjang, dibenaknya kini yang tergambar adalah bagaimana menuntaskan dendam pada Djarot dan menyingkirkan semua kesombongan yang dimiliki oleh kepala sipir itu.
808Please respect copyright.PENANAm7kPzu7LET
BERSAMBUNG
Cerita ini sudah tersedia dalam format PDF FULL VERSION , KLIK LINK DI BIO PROFIL UNTUK MEMBACA VERSI LENGKAPNYA808Please respect copyright.PENANAhhaZN9RWfi