
******
Bab 3 :
67Please respect copyright.PENANAuB8bXpT4VU
PINTU kamar Talitha terbuka. Talitha tak tahu kapan jelasnya ia tertidur karena pusing memikirkan kasusnya dengan bosnya Gavin. Bos baru Abraham Groups yang tak lain dan tak bukan adalah Marco Deon!
Gavin masuk dengan langkah tergesa dan langsung duduk di pinggir kasur adiknya yang kini tengah tengkurap penuh penderitaan itu.
"Dek, lo kenapa? Nggak enak badan?" tanya Gavin dengan tatapan ingin tahu. Talitha bahkan tetap tidak melihat Gavin saking bingungnya dia dengan apa yang sudah terjadi.
Bayangkan saja, seenak itu Marco Deon mengekangnya pada pertemuan pertama mereka. Dia itu sebenarnya orang atau iblis, sih? Apa dia bahkan punya hati? Yang anehnya lagi, apa-apaan dengan ancaman serta perintahnya yang tak masuk akal itu?
"Ita capek dan pusing aja, Bang. Udah, deh, Abang masuk kamar aja sono. Serius, Ita pengin tidur dulu."
"Oke. Gue sebenernya nggak percaya kalo penyebabnya cuma itu, tapi ya udah, tidur aja dulu. Istirahat biar besok bisa masuk kuliah." Gavin menghela napas, kemudian pria berkacamata itu berdiri dan mulai meninggalkan kamar Talitha. Tak lupa ia menutup pintu kamar adiknya itu kembali.
Baru berjalan meninggalkan kamar Talitha, ponsel Gavin yang ada di saku celana pria itu berbunyi. Gavin mengangkat teleponnya kemudian terdengar suara Revan dari seberang sana.
"Yo, Vin. Gimana si Ita?"
"Entah, Van. Gue juga bingung dia kenapa. Gue curiga kayaknya ada terjadi sesuatu pas dia berdiri di luar sendirian," jawab Gavin, kini dia melepas dasinya sambil berjalan dan membuka pintu kamarnya. Kamar Gavin dominan berwarna abu-abu plus banyak poster The Beatles.
"Ya emang dianya ngomong apa sama lo?"
"Dia nggak mau ngasih tau. Dia cuma bilang kalo dia lagi nggak enak badan gitu."
"Ya udahlah, tunggu aja. Mungkin besok dia udah mau cerita. Bikin khawatir banget tuh bocah. Oh ya, Vin, gilee… Lo ninggalin gue sendiri di sini! Suasananya, kan, agak berat satu ton gitu semenjak si Ita manggil nama Pak Dirut. Gue cuma bisa unjuk gigi buat nyengir sana-sini. Mana si Veroksin ngetawain gue lagi! Kamvret banget asli. Temenin gue napa, Nyet."
"Nyat nyet nyat nyet! Elo tuh yang monyet! Bhahaha, ya udahlah. Nggak apa-apa, lo tunjukin aja gigi lo. Mumpung gigi lo bagus. Gue capek banget mau ke sana lagi. Kalo lo bosen, ya pulang aja. Jangan pacaran aja yang lo pikirin."
"Ya terus cewek gue yang di sini mau gue kemanain, Bro? E—eeeh, sialan lo! Veroksin! Gue sumpahin kena virus Ebola lo!"
Gavin mengernyitkan dahinya sejenak, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Lha, rupanya di seberang sana Revan masih sempat berdebat dengan Vero yang terdengar terus meledek Revan.
"Hahaha—ya udah Revanyeeet, pulang aja kenapa, sih? Daripada lo bacot di sana. Tinggalin aja cewek lo yang di situ. Wong cewek lo juga ada dua lusinan. Atau mungkin satu rim?"
"Lo kira kertas HVS?!"
"Ya badannya juga ceking-ceking banget kayak kertas. Diet kali ya mereka buat lo?" kata Gavin sambil geleng-geleng kepala. "Gue heran kenapa mereka bisa tergila-gila sama cowok yang nggak mau cuci kaos kaki macem lo. Tiap dua hari sekali, kaos kakinya malah lo buang karena nggak mau nyucinya. Entah berapa total kaos kaki yang udah lo buang."
"Jangan buka aib orang, oi. Ck. Lo sekarang lagi mode emak-emak? Ya udah, deh. Gue cabut, nih. Ehm—diem-diem, mumpung cewek gue lagi ngambil minum," kata Revan. Sejenak kemudian, pria itu berbicara kembali, "Oi, Vin, gue ke rumah lo, ya. Males pulang ke kost."
Revan yang malang. Punya orangtua kaya, tetapi memilih untuk nge-kost sendirian di tempat yang dekat dengan kantor. Untungnya, fasilitas kost-nya lumayan bagus, seperti kamar hotel.
"Ck. Ngerepotin gue aja lo," ujar Gavin. "Sampe di sini sepuluh menit atau gue kunci pintu."
"Woi, Nyet! Emang lo kira Jakarta gimana hah? Gue bawa mobil, Man. Lo tau jalan macet. Maen kunci aja lo. Sabar dikit ngapa, Say."
"Masuk kuburan sana lo! Jijay gue astaga. Ya udah, gue tutup teleponnya."
"Sip, Bro."
67Please respect copyright.PENANAStyhVIdsz6
******
67Please respect copyright.PENANA3oviWPOU44
Talitha mengucek-ngucek matanya yang masih mengantuk sebab ia baru saja bangun tidur. Gadis itu terdiam sejenak dan otaknya kembali mengingat apa yang telah terjadi tadi malam. Sontak dia menghela napas dan tubuhnya jadi lemas. Dia mengerang dan mengacak rambutnya sendiri karena kesal. Sial, kok bisa, sih, ada orang seperti itu? Bagaimana nasib Gavin nantinya sebagai bawahan pria yang sifatnya tidak masuk akal itu?
Dengan mata yang masih setengah tertutup dan rambut yang berantakan, Talitha pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamar dengan langkah yang agak oleng karena baru bangun tidur. Ia bahkan masih menguap berkali-kali. Serampangan dan acuh tak acuh adalah sifat nomor satu Talitha. Dia termasuk jenis orang yang tak peduli dengan trend. Talitha turun ke bawah—masih memakai piamanya—dan langsung menuju ke dapur. Sampai di dapur, dia langsung mencari keberadaan kulkas. Mengambil salah satu botol yang berisi air dingin dan langsung menenggaknya dengan cepat bak orang kehausan.
Tak lama kemudian, Talitha melihat Gavin lewat di ruang keluarga (tempat di mana keluarga Talitha biasanya menonton TV). Talitha yang ada di dapur memang bisa melihat ke ruang keluarga secara langsung karena posisinya berhadapan. Talitha langsung bertanya dengan santai, "Bang, Mama sama Papa mana?"
Gavin langsung menatap Talitha dan menggeleng tak habis pikir. "Dek, coba lo cuci muka dulu sana. Kok jadi gue yang malu liat lo. Mama sama Papa ke pasar tadi."
"Oh," kata Talitha. Setelah itu, Talitha terkejut melihat ada sosok pria lain yang ikut menunjukkan dirinya di ruang keluarga dan mulai duduk di sofa depan TV bersama Gavin.
"Lah, Bang Revan?! Weleeeh, kapan Abang ke sini? Abang nginep di sini, ya, semalem?"
Revan melihat ke arah Talitha dan langsung memelotot. "Astaga, Ta! Liat rambut lo, tuh! Kayak Mak Lampir, serius!!"
Talitha berdecak. Ha, susah kalau berhadapan dengan Gavin dan Revan. Yang satu cerewet, yang satu lagi suka mengejek. Dengan malas, Talitha pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya, lalu menggosok gigi. Biasanya, dia tak semalas ini, tetapi problem semalam sukses membuatnya bad mood. Semoga saja Marco Deon itu nanti tak memarahi Gavin atau menegur Gavin karena masalah Talitha semalam.
"Bang, kita nggak punya sarapan, ya?" tanya Talitha tak lama kemudian, yang membuat Gavin dan Revan hanya menatapnya dengan cengiran.
67Please respect copyright.PENANAV5HfSKDfVm
******
67Please respect copyright.PENANAxKTjaWneqO
"Vin, kamu dipanggil ke ruangan Pak Dirut. Temui dia sekarang, katanya," kata Mbak Rei, salah satu ketua direksi, dengan wajah menornya. Dia langsung masuk saja ke area direksi Gavin, lalu masuk lagi ke ruangan Gavin dan menyampaikan pesan itu.
Gavin mengangkat kepalanya tatkala mendengar suara Mbak Rei. Dia lantas terkejut. "Hah? Pak Dirut, Mbak? Lho...ada apa, ya?"
"Nggak tau. Duh, beruntung kamu, Vin... Saya malah kepengin liat wajah Pak Dirut ganteng kita itu lagi, lho... Haha."
"Mbak, Mbak tadi dikasih tau sama siapa?" tanya Gavin, jujur dia agak panik. Yang memanggilnya ini Dirut!
"Tadi pas saya ngambil kertas, tiba-tiba ketemu sama sekretarisnya Dirut. Dia suruh saya buat manggil kamu. Ntar kamu bisa lapor ke dia di lantai 32 biar dianter masuk ke ruang Dirut. Emang ada apa, Vin? Kamu ada salah?"
"Duh, Mbak...saya bingung juga. Ya udah, deh. Makasih, ya, Mbak Rei."
"Yup," jawab Mbak Rei sambil mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu, wanita itu pergi dengan diiringi suara ketukan high heels-nya.
Gavin menghentikan aktivitasnya sebentar (tadi dia sedang mengetik di komputernya) dan keluar dari ruangannya. Berhubung dia adalah seorang ketua direksi, dia pamit sebentar dengan anggota direksinya dan akhirnya keluar dari ruangan direksi pengembangan itu.
Ia merapikan pakaiannya, lalu menghela napas lewat mulutnya sembari berjalan ke arah lift. Di dalam lift, Gavin menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan hanya bisa menunggu hingga ia sampai di lantai 32. Saat sudah sampai di lantai 32, Gavin berjalan di koridor hingga ia bertemu dengan Sekretaris Dirut yang ternyata sedang menunggunya di sana.
"Silakan, Pak Gavin Aryadinata," ujar sekretaris berwajah manis itu sembari membawa Gavin ke depan sebuah pintu besar. "Pak Direktur Utama sudah menunggu Bapak."
Dengan ekspresi heran, Gavin pun menatap sekretaris dirut itu. "Em... Maaf, Bu. Saya mau tanya. Sebenarnya, ada apa Pak Direktur Utama mau menemui saya, ya, Bu?"
"Beliau hanya meminta saya untuk memanggil Pak Gavin ke ruangannya. Mungkin Pak Gavin akan tahu begitu Bapak masuk ke dalam."
Gavin menghela napas. "Oke. Terima kasih, Bu."
Sekretaris itu kemudian mengangguk sembari tersenyum. Setelah itu, sekretaris itu mengetuk pintu ruangan Dirut sebanyak tiga kali.
"Pak, Bapak Gavin Aryadinata sudah datang."
"Masuk saja." Suara direktur utama itu terdengar begitu mendominasi. Gavin mengangguk.
Sekretaris itu lantas membukakan pintu untuk Gavin dan Gavin mulai masuk ke ruangan. Sekretaris itu merunduk sebentar—memberi hormat kepada Direktur Utama—kemudian menutup kembali pintu besar itu. Kini hanya tersisa Gavin, suasana tenang di ruangan itu, dan kedua mata Deon yang ternyata telah menatapnya dengan lekat.
Gavin merunduk hormat. “Selamat pagi, Pak.”
"Pagi. Silakan duduk, Pak Gavin," ujar Pak Dirut itu ketika Gavin kembali berdiri tegak.
Gavin akhirnya mengangguk, lalu maju ke depan dan duduk di kursi yang disediakan di depan meja dirut itu.
"Baik... Pak Gavin... Ketua Direksi Pengembangan?" tanya Deon sembari memiringkan kepalanya. Jemari tangannya bertaut di depan wajahnya, sikunya bertumpu di meja. Wangi segar dan maskulin dari tubuhnya beserta wangi ruangan itu telah bercampur menjadi satu.
"Iya, Saya, Pak Direktur." Gavin menjawab dengan agak heran. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Deon mengangguk dan tersenyum simpul. Ia pun menatap Gavin dengan lebih saksama.
"Bagaimana pestanya kemarin, Pak Gavin? Bapak datang?" tanya Deon dengan ramah, tetapi agaknya ada sesuatu yang janggal dari keramahan itu.
Gavin tertawa renyah...atau malah hambar? "Ah...ya, Pak. Saya datang, tentu saja."
"Oh, begitu. Bapak pasti membawa pasangan yang sangat cantik dan terlihat muda." Deon tersenyum.
Gavin mulai mengernyitkan dahinya. Mengapa Pak Direktur tahu bahwa pasangan Gavin terlihat muda? Itu Ita, 'kan?
Namun, Gavin menjawab dengan rasional. Agak bersilat lidah sedikit, sih. "Iya, Pak. Memang banyak sekali orang yang suka berpacaran dengan wanita yang awet muda, termasuk saya."
Mata Deon menyipit tajam. Jelas dia tahu bahwa itu adalah Talitha, adiknya Gavin. Sekarang, di hadapannya…Gavin menutupinya dengan cerdik.
"Hm...tapi saya tau bahwa yang kemarin itu adik Bapak. Ya...meskipun itu tidak berpengaruh pada saya." Deon berujar sarkastis, tetapi dia tersenyum.
Mata Gavin terbelalak. Aduh, mereka ketahuan, ya? Sial, jangan-jangan inilah yang terjadi pada Ita semalam? Sang Dirut ini berkata bahwa hal itu tak berpengaruh padanya, tetapi tatapannya tampak begitu sinis!
"Astaga. Tolong maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf. Saya memang terbiasa meminta Adik saya buat menemani saya kalau ada acara seperti itu. Yah...maklumlah, Pak...saya belum ada pasangan. Saya susah dapat pasangan, Pak, apalagi saya hidupnya di zaman sekarang," ujar Gavin, mencoba untuk mendinginkan suasana dengan sedikit humor.
Namun, tak disangka-sangka…Deon benar-benar tertawa! Pria dengan kontur wajah yang tajam dan mengerikan itu sekarang sedang tertawa lepas di hadapan Gavin!
"Benar sekali, Pak. Bapak benar. Saya juga agak sulit dapat pasangan," ujar Deon seolah Gavin adalah teman bisnisnya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, segan tidak segan, Gavin pun ikut tertawa.
Akan tetapi, sesudahnya Deon melanjutkan, "Saya sebenarnya kecewa mendengar kebohongan Bapak. Jujur, saya memang marah sekali," ujar Deon, mendadak matanya menyipit dan berkilat kembali.
Gila, orang ini punya berapa kepribadian? Kok jadi seram begini, sih?
"Tapi...karena saya suka Talitha, saya tidak akan memecat Pak Gavin," ujar Deon sembari tersenyum penuh arti.
Gavin langsung terperanjat.
"Pak... Maaf kalau saya asal tebak atau asal bicara, Pak," ujar Gavin yang dibalas anggukan oleh Deon. Gavin kemudian melanjutkan, "Bapak...sudah bertemu Adik saya semalam?"
Mata Gavin melebar; ia benar-benar ingin tahu. Oh, Tuhan, apa yang sebenarnya telah terjadi semalam?
Deon tersenyum. Pria tampan itu mengangguk. "Iya, benar. Saya bertemu adik Bapak di koridor semalam. Dia sangat manis," ujar Deon. "Mungkin karena saya banyak bicara, dia jadi agak stress, ya, tadi malam?" tebak Deon yang sama sekali tidak meleset.
Gavin mengernyitkan dahi, kemudian dia mencoba untuk mencerna semuanya. Gavin lantas merenggangkan alisnya yang bertaut itu, kemudian pria itu mengangguk. "Oh…begitu, ya, Pak," ujarnya. "Iya, Pak. Dia sepertinya banyak pikiran semalam. Saya kira ada apa... Ya ampun, ternyata begitu kejadiannya."
Deon tertawa renyah.
"Apa boleh saya bertemu dengan dia lagi? Barangkali...saya bisa minta maaf," ujar Deon dengan tatapan penuh arti. Tangannya masih bertaut di depan wajahnya. Dia tersenyum.
Gavin kontan menggeleng. "Ah, nggak apa-apa kok, Pak. Nanti akan saya jelaskan ke dia. Nggak perlu repot-repot, Pak."
"Nggak," ujar Deon. "Saya harus bertemu dengan dia, Pak Gavin. Saya ngerasa nggak enak kalau belum minta maaf sama dia."
Gavin mulai berpikir sejenak.
Hm... Bagaimana, ya? Gavin tak berani untuk langsung berpikir negatif karena Deon saat ini bersikap sangat baik kepadanya. Lagi pula, wajar saja kalau seseorang mau meminta maaf.
Akhirnya, Gavin pun menjawab, "Baiklah, Pak."
Deon mengangguk. "Di mana saya bisa ketemu sama dia, Pak Gavin?"
Gavin menatap Deon. "Bapak bisa menemui Adik saya di kampusnya. Dia kuliah di UI dan mungkin dia akan pulang sekitar jam dua siang hari ini."
"Ooh…baik. Terima kasih banyak, Pak Gavin. Kedepannya…saya harap kita bisa berhubungan dengan baik seperti ini," ujar Deon sembari berdiri dan Gavin pun kontan ikut berdiri. Mereka mulai bersalaman.
"Saya akan mempromosikan Bapak untuk kenaikan gaji," ujar Deon sembari tersenyum penuh arti. Kedua matanya menatap Gavin dengan fokus, tetapi penuh dengan rahasia. Gavin tercengang. Ia bahkan tak sempat menjawab Deon (mungkin lebih kepada tak tahu harus menjawab apa) dan ia hanya tertawa. Setelah itu, yang ia lakukan hanyalah merunduk hormat, lalu permisi keluar dari ruangan elegan direktur utama itu.
Setelah keluar dari sana, ia merasa seakan baru saja keluar dari ruang hampa udara. Ia masih kurang mengerti. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu dan mungkin mengorek informasi dari Talitha.
67Please respect copyright.PENANAvxXjz8crwh
******
67Please respect copyright.PENANA5AMLxX0BLC
Talitha dan Basuki baru saja keluar dari area Universitas Indonesia saat itu. Mereka berjalan ke luar dan seperti biasa mereka berencana untuk nongkrong sebentar. Barangkali minum es di pinggir jalan atau mungkin...di rumah makan? Kegiatan sehari-hari yang tak pernah membosankan untuk dilakukan.
"Bas, traktirin gue napa," ujar Talitha yang sukses membuat Basuki mencibir seraya memutar bola matanya.
"Nana lagi nggak ada duit, Cyiiiin. Lupa bawa duit. Masa lo ngga inget? Yah orang Nana ajah mau minum es rencananya pake duit lo dulu."
"Kamvret, makin hari lo makin jadi bencong." Ita tergelak. "Ya elah, kenapa kita harus ditakdirkan menjadi orang miskin begini?"
"Gue udah hampir jadi wanita tulen keleees. Sekarang status gue adalah Banci Kece Badai," balas Basuki dengan penuh bangga. "Lagian, lo doang kali yang miskin di rumah lo. Minta duit sana sama Bang Gavin! Jabatannya udah tinggi gitu."
"Duit Bang Gavin udah sering gue curi, Bung," ujar Talitha. "Bisa berabe kalo gue mintain terus. Abisnya, dia tau kalo duit yang gue minta itu pasti cuma buat jajan."
Namun, sebelum Basuki sempat menjawab, tiba-tiba Talitha bersuara lagi, "Eh, BTW, kalo status lo sekarang adalah Banci Kece Badai, berarti kalo disingkat jadi BANGKAI, ya?" ujar Talitha, kemudian dia tertawa kencang.
Basuki mulai menolak kepala Talitha dengan kuat sampai Talitha hampir oleng. Namun, Talitha justru tertawa semakin kencang. "Sialan loooo Itaik Anyuk!!!"
Mereka masih berisik, padahal mereka sedang berjalan. Akan tetapi, tiba-tiba Talitha melihat sesuatu dari ujung matanya. Dia melihat seorang laki-laki yang agaknya baru turun dari mobil dan orang itu tampak bersinar. Otomatis Talitha penasaran dan langsung melihat ke arah orang itu.
Orang itu ternyata memang bersinar; dia banyak dihadiahi bisik-bisik dari perempuan yang ada di sepanjang jalan.
Setelah Talitha melihat orang itu dengan lebih jelas, Talitha kontan membulatkan matanya. Mati! Orang itu adalah orang yang sangat tak ingin ia lihat sekarang!
Sial, kalau melihat posisi orang itu, berarti Talitha akan melewatinya sebentar lagi!
"Buset, Bas! Cepet, yok, jalannya!" ajak Talitha sembari menunduk dan menarik lengan Basuki agar dia berjalan dengan cepat.
"Oi oi oi oi! Lo kenapa, sih? Ada apaan, sih, Taaaa? Aduh, sakittt! Lengan mulus akooeeh!" teriak Basuki, dia merengek kepada Talitha yang menarik lengannya dengan begitu keras dan memaksanya untuk berjalan cepat-cepat.
"Udah, diem aja dulu!! Gue nggak mau diliat oleh seseorang," ujar Talitha dengan panik; dia berbisik pada Basuki.
"Aduh, emangnya siapa, sih?!!" Basuki mulai kesal.
Dari ujung Talitha sudah menutupi wajahnya dengan buku-buku tebalnya. Kini Talitha mulai melewati laki-laki ber-sunglasses itu sembari berjalan dengan cepat. Ia menutup matanya kuat-kuat, mengerutkan dahinya, dan mengembuskan napasnya berkali-kali; ia berdoa agar keberadaannya tidak diketahui. Entah mengapa dia yakin bahwa orang itu datang ke sini untuk mencarinya.
67Please respect copyright.PENANAkajceK6uvK
"Hello, Talitha."
67Please respect copyright.PENANAmDx5gsC7aQ
Mati. Ini tidak serius, 'kan? Astaga...ketahuankah?! Talitha kontan berhenti melangkah. Gadis itu merutuki dirinya sendiri di dalam hati dan menempeleng kepalanya sendiri seperti orang gila. Setelah itu, dengan sangat perlahan...dia pun berbalik.
Benar saja, itu adalah Deon. Pria itu membuka kacamatanya dan berjalan ke arah Talitha yang kini hanya bisa nyengir. Cengiran yang dipaksakan.
"Eh, Bapak. Ha ha... Apa kabar, Pak?" ujar Talitha dengan tawa hambarnya serta dengan ekspresi yang seolah mengatakan, ‘Tolong, bawa gue kabur dari sini.’
"OH MY GOD!!! OH MY WOW!!!! MARCO DEOOOOOON!!!!!! ASTAGA, ASTAGA!! NGGAK BISA NAPAS, ASTAGA!!! ASTAGA, NAPASKU!! NAPASKU!!! KIPAS MANA KIPAS?!!! MARCO DEON?! INI BENERAN MARCO DEON?!! APAKAH KITA BERJODOH SEHINGGA KITA BERTEMU DI SINI SECEPAT INI? YA TUHAN, MARCO DEOOOOONNNNN!!! HUAAAAAAAAAAAAAA!!!!" teriak Basuki histeris. Dia mulai fangirling. Eh, lupa. Dia aslinya cowok. Punya burung. Jadi, yang benar itu fanboying.
Astaga. Bonus derita: dia lupa bahwa Basuki ada di sini. Penggemar fanatik Marco Deon ada di sini. Double sial. Oke, mana paparazzi? Mungkin saja Talitha bisa numpang eksis lewat Marco Deon yang sedang berdiri menunggunya di depan kampus.
"Marco Deon!!"
"Eh, serius? Itu Marco Deon yang main drama Catch You, My Superhero itu, 'kan? SIALANN!!! KEJAR DIAAA!!! YA TUHAN!!! YA TUHAN!!!!!"
"AAAAA DEON!!!!"
"WUAAAA!! WUAAAAAAA!!"
Ratusan kilatan kamera ponsel mulai memotret Deon. Ditambah lagi, dia datang ke kampus Talitha dengan jasnya. Talitha yakin bahwa sekarang ini masih jam kerjanya Deon. Dia itu adalah bosnya abang Talitha!! Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini? Siapa yang memberitahunya soal di mana Talitha kuliah?
Sebelah tangan Marco Deon tampak menghalangi matanya dari kilatan kamera. Pria itu mengernyitkan dahi. Basuki juga mulai mencoba untuk meraihnya. Sementara itu, Talitha—yang menggaruk kepalanya tatkala melihat situasi kacau itu—tiba-tiba merasa tubuhnya ditarik ke depan. Dia ditarik oleh Deon!!
Kontan saja mata Talitha membeliak. Deon menariknya dan memaksanya untuk masuk ke mobil pria itu. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya agar terhindar dari banyaknya orang-orang yang berusaha untuk memegangi mobilnya. Basuki juga mengejar mobil itu karena keheranan melihat Talitha ditarik oleh Deon. Mobil itu akhirnya berjalan dengan kecepatan tinggi.
Tak membuang waktu, Talitha pun langsung menatap Deon. "Pak, ap—"
"Jangan memanggilku Bapak, Pak, atau apa pun itu yang terlalu formal. Kamu bisa panggil aku Deon. Aku udah bilang bahwa kamu itu sekarang terikat denganku. Jangan bilang kamu lupa?" tanya Deon. Dia mulai menoleh kepada Talitha dan tersenyum miring.
Orang ini sudah gila. Sialnya dia mengingat ucapan gilanya itu semalam. Bagaimanapun juga, terikat dengannya hanya karena sebuah kebohongan itu tetap tidak masuk akal bagi Talitha. Berulang-ulang Talitha memikirkannya dari semalam, itu tetaplah tak bisa diterima oleh akal sehat.
"Oke, Pak—"
"Jangan memanggilku seperti itu, Talitha!" Deon meninggikan suaranya.
Talitha kontan terperanjat.
Apa...yang...?
Rahang Deon mengeras. Dia kini kembali menatap Talitha.
"Panggil aku Deon. Cukup seperti itu," perintah Deon kemudian.
Talitha menghela napas.
"Oke, Deon. Jadi, kenapa kamu kayak dikejer-kejer hantu dan ngeharusin aku untuk terikat sama kamu? Apa ada sesuatu yang ngebuat kamu tertarik untuk ngejadiin orang lain sebagai milik kamu? Aku nggak percaya ini terjadi cuma karena kebohonganku sama Bang Gavin."
"Gimanapun juga, kamu harus percaya," jawab Deon.
Talitha memutar bola matanya. "Kamu udah gila, ya? Terserah apa kata kamu, turunin aku di sini sekarang juga."
"Kamu ternyata memang sulit diatur," ucap Deon. "Apa kamu akan tetap serampangan begitu kalau aku jadi pacar kamu?"
"Dengar ya, Pak Deon," ujar Talitha dengan penuh penekanan. Dia sengaja menggunakan 'Pak' karena ingin berbicara pada Deon dengan sarkastis. "Cukup semalem aja kamu ancam aku. Cukup semalem aja aku nerima kekejaman kamu. Sekarang, aku sadar sepenuhnya kalau itu nggak mungkin kulakukan."
Deon menatap Talitha dengan penuh amarah. "Jangan bikin aku benar-benar jadi marah, Talitha."
Talitha menghela napas. "Begini, Pak Deo—"
"Talitha!!" teriak Deon, tiba-tiba ia mengerem setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku nggak pernah main-main dengan ucapanku," ujar Deon. Matanya menatap Talitha tajam. Dia kini mulai memajukan tubuhnya ke arah Talitha, mendekati wajah Talitha dengan perlahan. "Aku akan memecat kakakmu."
Talitha kini benar-benar membulatkan matanya.
"APA MAU KAMU SEBENARNYA?! Ini semua maksudnya apa, sih?!!" teriak Talitha, dia jadi merasa dipermainkan.
Akhirnya, Deon menghela napas. Dia agak mundur dan kembali ke posisinya semula. "Baiklah, kalau kamu mau tau. Aku ingin kamu membantuku. Aku ingin menunjukkan kepada seseorang bahwa aku memiliki seorang kekasih, bukan, calon istri. Calon istri yang kupedulikan," ujar Deon dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang tajam.
Talitha menganga. Matanya sekarang terlihat seakan nyaris keluar, terlepas dari soketnya.
Namun, di luar ekspektasi Deon, gadis itu dengan gilanya malah tertawa kencang. "APA KATAMU?! HAHAHAHAHA!!!! Jadi, kamu ngancam aku karena masalah percintaan?!!! HAHAHAHAHAH!!" tawa Talitha terdengar menggelegar di mobil. Namun, akhirnya dia berhenti tertawa karena dia ingat betapa menakutkannya Deon.
Aaaaak, matilah Talitha. Mungkin dia akan dibentak oleh Deon lagi?
Namun, tanpa disangka-sangka…Deon tidak menjawabnya secara langsung. Pria itu kembali menghidupkan mesin mobilnya dan mobil itu pun berjalan kembali.
"Mungkin aku memilih kamu karena kamu adalah orang yang cuek; kamu nggak peduli dengan tanggapan orang lain. Keluargaku agak bermasalah, jadi aku perlu seseorang seperti kamu yang nggak akan terbebani dengan masalah keluargaku," ujar Deon, matanya menyipit tajam tatkala melihat jalanan.
Deon kemudian melanjutkan, "Mungkin kamu sedikit menarik dan kebetulan kamu memancing emosiku waktu itu. Kalau nggak kuancam begitu, mungkin kamu akan melupakan apa yang sudah terjadi malam itu, 'kan? Lagi pula, kebetulan sekali…aku memang membenci kebohongan."
Talitha mengernyitkan dahinya, merasa heran. "Kamu itu direktur, tapi bicaramu kok seenak membalikkan telapak tangan, ya? Coba kamu pikirin dulu apa yang barusan kamu bilang itu. Kamu pikir aku mau jadi calon istri pura-pura kamu? Ya nggaklah! Lagian, nggak mungkin keluargamu percaya, wong kamu juga baru datang ke Indonesia." Talitha tertawa lagi. Dia mulai bicara dengan sedikit non-formal.
Deon tersenyum miring, kemudian dia menoleh kepada Talitha. Dia memiringkan kepalanya.
"Abang kamu sudah tau semua yang aku bilang ke kamu tadi malam, kecuali tentang kamu yang terikat denganku. Aku yakin jauh di dalam hati kamu, kamu nggak mau abang kamu dipecat," ujar Deon yang sukses membuat Talitha melongo. "Jadi, kamu nggak punya pilihan lain," lanjut Deon dengan penuh penekanan.
"Sumpah...aku nggak ngerti. Duh. Terus kamu sekarang mau maksain aku lagi? Lagian, kok harus aku, sih?!" Talitha memprotes. Otaknya memang butuh waktu yang lebih untuk bisa sinkron dengan keadaan.
"Kan udah aku bilang kalau aku tertarik sama kamu." Deon mendengkus. "Lagi pula, apa yang udah kuputuskan untuk jadi milikku…selamanya akan tetap jadi milikku, Talitha."
Deon tersenyum miring, ia menoleh kepada Talitha lagi. Sorot matanya terasa begitu tajam tatkala memperhatikan gadis itu.
"Maka dari itu, seharusnya kamu nggak membohongi orang sepertiku." []
67Please respect copyright.PENANArKrl2g5ipc