
******
Bab 4 :
63Please respect copyright.PENANAGaiPvgR0dD
KEDUA mata Talitha membeliak.
'Orang sepertiku'?
Talitha masih tak mengerti dengan apa yang sedang Deon katakan. Namun, entah mengapa rasanya...Talitha ingin tertawa.
"WHAHAHAHAHAHAHA!" tawa Talitha menggelegar, amat mengagetkan bagai petir di siang bolong. "Kamu lagi bercanda, ya? 'Orang sepertiku'? Kamu bukan manusia biasa, ya, emangnya? Oh, iya, sih, kamu memang artis terkenal. Tapi cara kamu bilang 'orang sepertiku' itu seolah kamu ngaku kalo kamu nggak normal. Kamu emang udah gila, Pak Deon," kata Talitha sembari terus tertawa. Dia tak sadar bahwa perkataannya barusan adalah sarkasme.
Namun, Deon tak menjawab apa pun. Oleh karena itu, suasana jadi terasa awkward dan Talitha mendadak menempeleng kepalanya sendiri karena mulutnya yang tidak bisa direm. Setelah beberapa detik berlalu, tiba-tiba ponsel Deon berbunyi dan sukses memecah kecanggungan itu.
"Halo, Pa."
"Ya. Papa udah pulang dari rumah sakit?" tanya Deon sembari membelokkan setirnya.
"Oke."
Setelah itu, Deon pun menutup panggilan itu dan mengembuskan napas. Dahinya berkerut dan ia menambah kecepatan mobilnya.
"Lha—lha lha, kok tambah ngebut, Pak?" Talitha meninggikan suaranya; matanya membulat. Dia mulai panik. Deon mengeraskan rahang.
Melihat reaksi Deon, Talitha jadi paham bahwa pria itu mengeraskan rahang karena Talitha memanggilnya dengan panggilan 'Pak'.
"Oh, oke. Maaf. Kok tambah ngebut, Deon?" ulang Talitha.
Deon mendengkus dan menoleh kepada Talitha sejenak, lalu tatapannya beralih ke jalanan lagi.
"Kamu ikut aku ke rumahku."
"Weleeh, kamu yang disuruh pulang kok malah bawa-bawa aku, sih?!!!" protes Talitha.
"Bukannya kamu calon istriku?" ujar Deon. "Aku mau ngenalin kamu ke Papaku. Tolong jangan merusak semuanya karena aku juga bisa merusak kehidupan kamu."
Mata Talitha terbelalak. Kata-kata itu spontan membuatnya memelototi Deon. "Astagaaaa! Lelucon macam apa lagi ini?! Kamu udah gila, serius. Kamu harus masuk rumah sakit jiwa!"
"Aku nggak peduli, Talitha," ujar Deon seraya menyeringai. "Hidupku udah rusak sejak aku masih kecil. Aku nggak tau kewarasan macam apa yang kamu maksud.”
Talitha mendadak tak bisa menjawab apa-apa. Yang dia tahu, pria itu sudah kehilangan selera untuk memperbaiki kehidupannya sendiri; pria itu hanya memikirkan bagaimana cara untuk menghancurkan apa yang sebelumnya telah merusak hidupnya. Kalaupun Talitha harus ikut campur di dalam kehidupannya, apa Talitha benar-benar bisa membantunya? Membantu orang yang mengancam akan merusak kehidupan Talitha jika Talitha merusak rencananya? Ini sinting.
63Please respect copyright.PENANAB8Jw7vk1fv
******
63Please respect copyright.PENANAZdcVKfAUmo
Deon menggenggam tangan Talitha dengan kencang. Talitha sempat mengaduh kesakitan, tetapi agaknya Deon sama sekali tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Pria itu mulai menekan bel. Tak lama kemudian, pintu besar berdaun dua di depan mereka terbuka. Deon langsung masuk seraya membawa Talitha tanpa memedulikan pelayan-pelayan rumah itu yang tengah merunduk hormat kepadanya. Sementara itu, Talitha sempat-sempatnya menganga. Dia berdecak kagum tatkala melihat rumah mewah milik papanya Deon. Gavin dan Revan mengejek satu sama lain dengan kata ‘monyet’, tetapi sepertinya Talithalah yang cocok dengan julukan itu.
"Gila...ini rumah apa istana? Ckckckckck..." decak Talitha tak punya malu. Pelayan-pelayan di rumah itu sampai mengernyitkan dahi mereka karena heran. Mungkin para pelayan itu berpikir, ‘Nih orang kampungan atau bagaimana?’
Sementara itu, Deon hanya menatap Talitha dan menggeleng. Dia tahu Talitha memang seperti itu karena waktu di pesta anniversary pun Talitha meneriakkan namanya dengan tanpa malu. Kepala Talitha menabrak punggung tegap Deon saat Deon tiba-tiba berhenti melangkah. Talitha mengusap-usap jidatnya sembari mengaduh kesakitan, kemudian dia melihat ke depan dan kontan matanya terbelalak.
"Ini kamar siapa?" bisik Talitha ingin tahu.
"Kamar Papaku," deham Deon. "Kumohon kerja sama kamu. Jangan terlalu berisik, dia lagi sakit."
Talitha mengangguk dan mulutnya membentuk 'o' kecil. "Oke oke."
Sesaat kemudian, Deon pun mengetuk pintu kamar papanya. "Pa, Deon masuk, ya."
Talitha bisa melihat kalau sifat Deon jadi berbeda 180 derajat saat berhadapan dengan papanya. Deon begitu berbakti dan begitu sopan pada papanya. Apa papanya tahu bahwa Deon itu persis seperti iblis pemakan manusia di depan orang lain?
Deon membuka pintu kamar papanya. Akan tetapi, anehnya…Deon tiba-tiba mematung.
Talitha jelas bingung saat melihat pria itu mematung di depan pintu. Gadis itu langsung mengikuti arah pandang Deon, lalu ia menemukan seorang pria dan wanita paruh baya di sana. Wanita paruh baya itu menoleh kepada Deon dan wajahnya langsung pucat. Beberapa detik kemudian, ekspresi wanita itu berubah nelangsa. Wanita itu tanpa sadar mengeluarkan air matanya.
Deon terlihat mematung seolah baru saja tersambar petir. Genggaman tangan Deon pada tangan Talitha terasa semakin kuat hingga membuat Talitha mengerang. Gigi Deon bergemeletuk; rahangnya mengeras. Ia murka.
Talitha langsung melihat ke arah pria paruh baya yang berbaring di ranjang. Pria itu berusaha untuk duduk dan ingin meraih Deon. Mulutnya terbuka; ia mulai berbicara dengan lirih, "Deon, dengarkan Papa..."
Mulut Deon terkatup rapat.
Setelah itu, Deon memejamkan matanya, menahan seluruh kemurkaannya, meskipun kalimat papanya itu nyaris membuatnya kalap. Jemari tangannya yang tengah menggenggam tangan Talitha itu kini tampak memutih dan bergetar. Talitha tak mengerti situasi apa yang sedang terjadi di hadapannya sekarang, tetapi ia tahu bahwa ini sangat mengkhawatirkan.
"Pergi kau dari sini," peringat Deon pelan, tetapi penuh dengan penekanan. "Pergi sekarang juga sebelum kau kuusir."
Deon berbicara kepada wanita paruh baya yang berdiri di dekat ranjang papanya. Kedua orang di depan sana langsung membulatkan mata mereka ketika melihat Deon yang sedang murka. Mata Deon memelotot dan energi negatif berwarna hitam kelam bagai tersebar di sekitar tubuhnya.
Namun, bukannya pergi, wanita itu malah menangis. Wanita itu berdiri dengan cepat, berjalan ke arah Deon, dan memeluk Deon. "Deon, maafkan Mama, Sayang, tolong maafkan Mama. Mama harus menjelaskan semuanya ke kamu, Sayang, Mama—"
"PERGI DARI HADAPANKU!!" teriak Deon. Suaranya menggelegar, ia mendorong tubuh wanita itu dengan kuat. "PERGI KAU SEKARANG!" bentak Deon sembari menunjuk ke arah pintu, dia melepaskan tangan Talitha begitu saja.
Wanita itu terjatuh dan langsung mengesot untuk mencapai Deon, tetapi Deon kini mulai masuk ke kamar papanya, lalu melempar sebuah vas bunga ke arah wanita itu. Untungnya, vas bunga tersebut tidak mengenai wanita itu, tetapi kacanya pecah dan berserakan di lantai. Talitha tadi sampai merunduk; kedua tangannya melindungi kepalanya sendiri. Ada rasa ngeri yang teramat sangat saat kita menyaksikan perkelahian di dalam keluarga. Semua orang yang pernah mengalaminya pasti tahu rasa takut itu.
"Get away from me," ujar Deon dengan tajam. "NOW!!"
"Deon, dengerin Papa dulu, Nak. Bagaimanapun juga, dia itu Mama kamu dan—"
"Karena kau Papa sendirian. Papa sakit seperti ini pasti karena ulahmu juga. Berani-beraninya kau menunjukkan wajahmu di sini!!"
"DEON!!" bentak papa Deon.
"Apa, Pa? Sekarang Papa mau kembali sama dia lagi, setelah dia dengan seenaknya mengkhianati Papa? Papa mau menerima dia lagi setelah dia dengan kebiasaan melacurnya itu kembali pada Papa? Kenapa? Apa karena uang dia habis?" ujar Deon sembari tertawa sarkastis. Deon mengusap rambutnya ke belakang dengan frustrasi dan ia mendongak, mengembuskan napasnya lewat mulut. Deon lalu kembali menatap wanita itu—mamanya—dengan tajam. "Pergi kau, perempuan sialan. Aku membencimu. Karena kau, aku kehilangan kepercayaan diriku. Aku jadi sulit percaya sama orang lain. Aku nggak tau dunia apa yang sedang kujalani karena sosok ibu yang harusnya menjadi sandaranku saat aku sedih malah berkhianat di depan mataku. Ninggalin aku sama Papa gitu aja. Sekarang kau nggak perlu minta maaf karena sampai kapan pun aku akan nganggap bahwa Mamaku nggak ada. Mamaku udah meninggal," ujar Deon dengan tajam.
Wanita itu menangis tersedu-sedu. Dia berkali-kali mencoba untuk meraih Deon, tetapi Deon mendorongnya dengan kuat. Papa Deon bahkan hanya bisa diam; pria itu menatap Deon sembari mengeluarkan air mata. Ia sangat menyesal, sedih…dan ia juga kasihan kepada anak semata wayangnya itu.
Deon berbalik dan kini dia berdiri bersebelahan dengan Talitha, hanya berbeda arah pandang. Deon berhenti di sebelah Talitha dan Talitha hanya bisa memandangnya dari samping. Deon kemudian menoleh sedikit ke belakang, ke arah papanya.
"Oh ya, ini kekasihku. Aku harap, Papaku yang baik hati mau merestui kami. Sekarang, aku punya seorang tunangan harus kupedulikan. Ini lebih baik daripada terus-terusan mikirin seorang wanita yang nggak sayang sama aku sejak aku kecil," ujar Deon sarkastis. Dia berbicara dengan penuh penekanan seraya memberikan tatapan yang tajam kepada Serena, ibunya. Deon memberitahukan hubungan pura-puranya dengan Talitha itu kepada Serena.
Deon kemudian menarik tangan Talitha dan menjauhi ruangan itu dengan langkah yang lebar. Napasnya memburu. Semuanya bagai ia lampiaskan kepada langkah lebarnya yang tampak begitu tak sabar. Dia telah dikuasaioleh amarah.
Talitha sampai berlari karena ditarik oleh Deon. Pergelangan tangan Talitha jadi sakit bukan main. Berkali-kali Talitha meneriakkan nama Deon, tetapi Deon tak kunjung terusik. Pria itu membawa Talitha hingga mereka berada di dekat mobil Range Rover-nya, lalu ia memasukkan Talitha ke mobil itu
Talitha mengaduh kesakitan seiring dengan Deon yang menutup pintu mobil itu dengan kencang. Pria itu kemudian memutari mobilnya, masuk, lalu menghidupkan mesin mobilnya. Dikendarainya mobil itu dengan kecepatan tinggi di jalanan kompleks perumahan mewah tersebut.
"Deon!!" teriak Talitha, gadis itu benar-benar panik. "DEON!! OI!!! DEON!! KURANGI KECEPATAN KAMU!!! KITA BISA MATI!!!"
Namun, Deon tak menggubrisnya. Pria itu mendengar teriakan Talitha, tetapi ia malah semakin mencengkeram roda kemudinya dengan kencang. Rahangnya semakin mengeras dan matanya memelotot.
"DEON!!!!!!!!!" teriak Talitha kencang.
Tiba-tiba Deon mengerem mobilnya dengan sangat kencang hingga Talitha terkesiap. Talitha serta-merta terdorong ke depan; kepalanya nyaris menghantam dashboard apabila dia tidak mengulurkan tangannya untuk bertumpu pada dashboard itu. Dia tadi belum sempat memakai sabuk pengaman! Napas Talitha memburu. Jantungnya berdetak kencang. Ia terengah-engah dan bibirnya mendadak kering. Namun, tak memedulikan semua itu, Talitha lantas beralih melihat ke arah Deon.
Pria itu masih mencengkeram roda kemudinya.
Keningnya berkerut bagai berjuta pikiran tengah berkecamuk di dalam kepalanya. Matanya melihat ke depan, tetapi sesungguhnya matanya itu tidak benar-benar melihat ke sana.
Talitha duduk tegap, menghadap ke arah Deon, dan langsung membuka suara, "De—"
Talitha spontan membulatkan kedua matanya.
…karena tiba-tiba,
…kepala Deon bersandar pada bahunya.
Deon menumpukan kepalanya di sana; dia bergerak mendekati Talitha ketika Talitha menghadap ke arahnya. Ketika Talitha sadar bahwa kepala Deon ada di bahunya, mulut Talitha terkatup. Tatapan matanya perlahan-lahan menjadi lembut.
Ia pun menunduk, menatap Deon.
Tanpa sadar mata Talitha berkaca-kaca. Dia belum pernah mengalami hal seberat ini. Selama ini, keluarganya adalah keluarga harmonis. Tak ia sangka seorang Marco Deon memiliki kehidupan yang kelam seperti ini. Kini ia mengerti mengapa Deon sangat membenci kebohongan.
Tangan Talitha tanpa sadar terangkat. Meskipun bergetar, tangannya tetap berusaha untuk meraih kepala Deon yang sedang bersandar pada bahunya. Tatkala tangan Talitha itu sampai di kepala Deon, Talitha langsung membelai puncak kepala Deon dengan lembut. Tangan satunya lagi terangkat untuk memeluk tubuh Deon yang sekarang tampak rapuh itu. Cuaca yang setahu Talitha tadinya panas, sekarang malah turun hujan.
Hujan turun di tengah semua kesedihan yang dialami oleh keluarga Deon. Langit seakan ikut menangis dan meruntuhkan pertahanannya, begitu pula Deon yang saat ini punggungnya tampak bergetar. Awalnya pria itu menangis dengan tanpa suara, tetapi kemudian dia menangis terisak-isak dengan penuh rasa sakit di pelukan Talitha.
Tangisannya itu membuat Talitha jadi ikut menangis. Jujur…terakhir kali Talitha menangis seperti ini adalah ketika kakeknya meninggal.
Sekarang tangisan Deon membuatnya ikut menangis. Siapa pun yang mendengar tangisan Deon saat itu akan menangis sebab tangisan Deon itu terdengar begitu rapuh, pilu, dan penuh penderitaan. Di antara hujan itu, dia menunjukkan segala sisi lemahnya di hadapan Talitha.
63Please respect copyright.PENANAz1abYWKLaS
******
63Please respect copyright.PENANAOOvyELZkma
"Dari mana, Ta?"
Pertanyaan Gavin tak digubris oleh Talitha. Ia baru saja diantar pulang oleh Deon dan baru masuk ke rumah. Wajahnya begitu muram dan matanya bengkak.
"Dek?" panggil Gavin sekali lagi, tetapi Talitha hanya langsung pergi ke kamarnya tanpa menjawab Gavin. Gavin jadi menggeleng sendiri.
"Tuh anak kenapa? Tadi Pak Dirut jadi nggak, ya, minta maaf sama dia? Lagian, dia kok pulangnya sore amat..." Gavin tanpa sadar bertanya-tanya sendiri, lalu ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah enam sore. Dia juga baru pulang lima belas menit yang lalu dan belum mengganti baju kantornya.
Mengedikkan bahu, Gavin pun beranjak menuju ke kamarnya.
Di kamarnya, dia langsung dihadapkan dengan Revan yang sedang bermain PlayStation. Dia menutup pintu kamar dan melempar bola basket yang ada di dalam kamarnya itu ke kepala Revan.
"Oi, Nyet," panggil Gavin. Revan mem-pause-kan game-nya dan mengambil bola basket yang mulai terjatuh ke bahunya. Revan cengar-cengir kepada Gavin yang sedang berkacak pinggang di depannya.
"Apa, Nyet?" jawab Revan dengan wajah tak berdosanya.
"Si kampret," ujar Gavin. "Udahlah nggak masuk kerja, eh malah bersarang lagi di kamar gue. Ngacauin kamar gue aja lo. Sono pergi, liat tuh remah Chitato ada di mana-mana. Kapan juga lo keluar beli Chitato?"
Revan tertawa terbahak-bahak. "Mamaku Sayang, ntar aku beresin kok," ujar Revan santai sembari menaikturunkan alisnya jail.
Gavin berjalan mendekati kasur, lalu ia melempar bantal gulingnya ke arah Revan. "Bangsat. Kapan gue ngelahirin lo? Udah-udah, cepet beresin kamar gue!! Udah kepala tiga masih aja serampangan!"
"Lo rempong banget, sih, Nyet," ujar Revan sambil tertawa. Ia me-resume-kan lagi game-nya. "Ntar lagi, nih, tunggu sebentar. Mau ngalahin lawan yang ini dulu."
"Pokoknya pas gue balik lagi ke sini, nih kamar harus bersih. Awas lo, ya," peringat Gavin sebelum akhirnya dia keluar dari kamar dan meninggalkan Revan yang cuma nyengir.
Rumah sekarang terasa sepi karena mamanya sedang menggosip ke rumah tetangga. Astaga, padahal ini sudah sore. Papanya juga masih belum pulang kerja. Kalau Talitha...tadi dia sepertinya sedang bad mood.
Gavin pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ketika ia sampai di dapur, ia sempat melihat ke arah kamar mandi dan—
"WUAH COPOT MAMPUS!!!! MATI GUA, MATI GUA, ASTAGA!" teriak Gavin dengan mata memelotot, tubuhnya terdorong ke belakang. Untungnya, kakinya bisa mengatur keseimbangan sehingga dia tidak terjatuh ke lantai. Ia mengelus dadanya berkali-kali dan mulutnya menganga lebar.
Di depan pintu kamar mandi yang ada di dapur, Talitha berdiri dengan rambut yang tergerai dan acak-acakan. Gadis itu masih memakai baju yang sama, tetapi ada handuk yang tersampir di salah satu bahunya. Matanya memandang ke bawah; tatapan matanya kosong. Dia juga terlihat seperti orang mabuk karena kepalanya bergoyang ke sana kemari.
Sadar abangnya berteriak kaget karenanya, ia pun langsung menatap abangnya dengan lemas—antara hidup dan mati—dan ekspresi wajahnya datar. Setelah itu, ia dengan muka seramnya itu langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi itu dengan kencang. Gavin terlompat ke belakang karena kaget; pria itu mengelus dadanya lagi. Jantungnya hampir copot dua kali hanya gara-gara Talitha.
63Please respect copyright.PENANAZQ2pUIGl68
"Ya Tuhan... Tuh anak kenapa astaga...astaga... Kok mirip kuntilanak..."
63Please respect copyright.PENANAlyfbwy01dC
******
63Please respect copyright.PENANAwf9YxTcsRN
Darwin menatap mantan istrinya itu dengan sendu. Sejak kepergian Deon, Serena belum juga berpindah dari tempat ia duduk sebelumnya. Dia meringkuk dan menangis tanpa henti. Dia tampak putus asa.
"Itulah yang ingin kuberitahu padamu sebelumnya. Dia masih terluka. Itu membuatnya jadi berbeda. Dia trauma dan rasa marahnya berlebihan setiap kali dia melihatmu."
Serena menangis semakin kuat.
"Anakku menderita karenaku... Apa yang harus aku lakukan, Darwin? Aku…aku mau mati…" Serena mengangkat wajahnya, air mata memenuhi wajah cantiknya itu dan dia tampak stress. "Apa pun akan kulakukan untuknya, Darwin, apa pun!"
Serena melebarkan matanya seraya mengangguk-angguk kencang; dia tampak putus asa. Dia tampak sangat stress. "Aku rela mati jika itu yang Deon inginkan..." Serena semakin meringkuk; dia memeluk lututnya.
Darwin hanya diam.
Dua menit telah berlalu. Akhirnya, Serena mulai berusaha untuk berdiri meski berkali-kali terjatuh. Wanita paruh baya yang cantik itu masih menangis, tetapi dia kini sudah berdiri. Tubuhnya membelakangi Darwin karena dia tengah menghadap ke pintu kamar itu. Tempat Deon pergi sebelumnya.
Darwin hanya memperhatikannya dari belakang.
"Apa kamu tetap nggak akan bercerita padaku tentang apa yang sebenarnya kamu rasakan saat kamu mengkhianati aku?" tanya Darwin, ekspresi wajah pria paruh baya itu tampak serius.
Serena yang tadinya berencana untuk keluar dari kamar Darwin itu kontan terkejut.
Beberapa detik kemudian, Serena pun menutup matanya.
"Aku terlalu malu untuk bercerita ke kamu. Aku juga bakal ngerasa kayak orang yang nggak tau diri kalau aku masih berani menceritakan semuanya ke kamu." Serena kembali mengeluarkan air matanya.
"Dulu, aku udah cari tau semuanya. Tapi pernyataan jujur dari kamulah yang nggak pernah aku dapatkan. Kamu selalu bilang kalau alasannya hanyalah karena kamu merasa nggak kuperhatikan. Tapi aku yakin alasannya lebih dari itu," ujar Darwin, matanya menatap Serena dengan penuh keyakinan. Dia tahu bahwa pasti ada alasan terpenting yang membuat Serena melakukan hal seperti itu di belakangnya. Melakukan sesuatu yang justru menjadi bibit penderitaan bagi keluarga mereka, terutama bagi Deon.
"Maaf. Maafin aku...dan semoga kamu cepat sembuh," ujar Serena sembari mengusap air matanya. Wanita itu menarik napas dalam, lalu akhirnya ia berjalan keluar dari kamar Darwin.
63Please respect copyright.PENANAq9sHhLMejp
******
63Please respect copyright.PENANAwtVixdLtmM
Mata Talitha nyaris saja terpejam karena mengantuk. Sehabis menangis...dia jadi sangat mengantuk. Namun, ketika dia baru saja mau tidur, tiba-tiba nada dering ponselnya yang ngegas itu berbunyi dan kontan bunyi itu membuat matanya membelalak. Jantungnya juga hampir berhenti berdetak karena terkejut setengah mati. Ia mengambil ponselnya dengan kesal.
Di layar ponselnya itu, Talitha melihat ada nomor tak dikenal yang meneleponnya. Dengan malas, Talitha pun mengangkat telepon itu.
"Halo. Ini siapa? Kalo nggak penting dan cuma iseng-iseng ngerjain nomor acak, maaf, gue nggak bisa ngeladenin lo," ujar Talitha dengan nada malasnya.
"Siapa yang iseng ngerjain kamu?" tanya seseorang di seberang sana.
Spontan mata Talitha membulat. Matanya full terbuka, bahkan matanya itu sekarang malah jadi memelotot karena suara itu.
Talitha langsung menjauhkan ponselnya, mengecek kembali nomor yang sedang meneleponnya itu, lalu kembali menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Ini... Deon, ya?" tanya Talitha dengan mulut yang menganga karena tak percaya. Dari mana Deon mendapatkan nomor ponselnya?
"Simpan nomorku, Talitha," perintah Deon. "dan jangan sampai kamu nyimpan nomor laki-laki lain selain nomorku, nomor ayah kamu, dan nomor abangmu."
"Memangnya apa urusan kamu?" tanya Talitha. Talitha heran, kok cepat sekali sifat pria itu berubah. Kini pria itu mulai otoriter lagi, padahal beberapa jam yang lalu dia sempat menangis di pelukan Talitha.
"Talitha, didn't I tell you already? You are mine. I'm not arguing with you about this. No one can take you away from me."
Talitha mendengkus. "Aku nyimpen nomor Bang Revan dan Basuki juga. Selain itu, nggak mungkin aku mau ngehapus nomor-nomor kakak tingkat sefakultasku yang ganteng-ganteng itu dan—"
"Hapus semua nomor-nomor itu, kecuali nomorku, nomor keluarga kamu, dan nomor-orang -orang yang kamu anggap sebagai keluarga," perintah Deon. "Jangan sampai pas aku meriksa handphone kamu nanti nomor-nomor itu masih ada. Ingat itu."
Hah?!
"Aku bukan pacar atau istri kamu! Mati aja kamu daripada overprotective gini sama orang yang cuma kamu sebut-sebut sebagai 'milikmu'!"
"Yang aku sebut seperti itu cuma kamu," ujar Deon. Suaranya terdengar menekan. "Hapus semua nomor itu, Talitha! You hear me?"
"Aku nggak mau,” bantah Talitha. “Ya kali aku dilarang sama orang yang bukan siapa-siapaku. Kalo aku pacarmu beneran, ya barulah kamu bisa seenaknya ngomong gitu ke aku. Lagian, nomor-nomor itu—"
"You will be my wife, Talitha. God damn it!" umpat Deon. Namun, pria itu akhirnya mulai menghela napas, mencoba untuk mengatur emosinya sendiri. "Besok aku bakal jemput kamu. Akulah yang bakal ngantar jemput kamu mulai sekarang. Dengar itu. Aku nggak suka milikku diusik orang lain."
Talitha baru saja mau membuka mulutnya untuk protes ketika sambungan telepon itu tiba-tiba dimatikan oleh Deon. Sesaat setelah itu, Talitha pun langsung mengerang dan mengamuk sendiri di dalam kamarnya. []
63Please respect copyright.PENANADQKM90qGkT