
******
Bab 6 :
42Please respect copyright.PENANAPLVxT31STJ
DEON membukakan pintu apartemennya, membiarkan Talitha masuk lebih dulu. Kepala Talitha pusing bukan main. Dia merasa seolah dunianya berputar. Tubuhnya bahkan tak mau diajak kompromi; dia tak sanggup berdiri dengan benar.
Sebenarnya, Talitha terkejut bukan main ketika mendengar Deon mengajaknya untuk pergi ke apartemen pria itu. Namun, Talitha sudah terlalu malas untuk menjawab. Dia kedinginan dan gemetaran. Talitha tetap tercengang ketika melihat mewahnya apartemen milik Deon, tetapi dia tak sehisteris biasanya karena dia sedang tidak enak badan.
Talitha berusaha untuk berjalan meskipun ia agak terhuyung. Ini terjadi karena yang ia rasakan kini bukan hanya kedinginan lagi, dia mulai pusing dan wajahnya pucat. Tadi saat Deon menginterupsinya dengan menyuruhnya masuk, Talitha mengangguk dan ingin melewati tubuh Deon yang ada di depan pintu, tetapi ia terhuyung.
Tubuh Talitha akhirnya menyerah dan ia nyaris saja terjatuh. Spontan mata Deon membulat dan ia menangkap tubuh Talitha. Kepala Talitha akhirnya terjatuh di dada bidang Deon.
Kedua alis mata Deon kini menyatu. Ia menatap Talitha dengan pandangan khawatir. Dilihatnya Talitha mulai memejamkan matanya; Talitha mengernyitkan dahi seolah sedang menahan sakit kepala. Wajahnya pucat.
"Apa yang terjadi denganmu, Talitha?!" tanya Deon. Dengan cepat ia memegang kedua sisi lengan Talitha, memeganginya agar tidak jatuh. Ia akhirnya tersadar bahwa tubuh Talitha ternyata panas bukan main. Deon mendengkus.
"Sial, Talitha, kamu demam! Mengapa kamu diam saja?!" teriak Deon. Ia kemudian dengan cepat merangkul Talitha dan membawa Talitha ke dalam dekapannya. Ia menuntun Talitha sembari mengumpat dan dia membawa Talitha masuk ke kamarnya.
Pria itu mendudukkan Talitha di ranjangnya, kemudian dia dengan cepat menghampiri lemari pakaiannya yang berukuran besar. Ia mengambil sebuah handuk putih dan memberikannya kepada Talitha. Dengan lesu, Talitha mulai menatap ke arahnya.
Gadis itu menghela napas. "Aku nggak apa-apa, Deon."
"Kamu masih sanggup menyelaku bahkan ketika kamu sedang demam tinggi seperti itu? Kamu luar biasa," komentar Deon. Talitha mengernyitkan dahinya.
Namun, tiba-tiba Deon mengangkat tubuh Talitha, membuat gadis itu berdiri. Dia merangkul Talitha lagi untuk pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. "Mandi dan keramas rambutmu dengan air hangat. Aku akan mencarikanmu baju ganti," perintahnya singkat.
Talitha berdecak. "Daripada kamu jadi sulit begini, lebih baik—"
"JANGAN MEMBANTAHKU!" bentak Deon.
Mata Talitha membelalak. Untuk yang kesekian kalinya, dia dibentak oleh Deon. Dia sungguh tak mengerti, mengapa dia terjebak dengan pria seperti Deon. Mengapa bisa ada benang merah yang menghubungkannya dengan Deon? Bagaimana mungkin Tuhan memutuskan untuk mempertemukan mereka berdua?
Itu bukan pertemuan klise, tetapi pertemuan itu berakhir menjadi aneh. Suatu ikatan yang tak tahu akan menuntun mereka berdua sampai mana. Menggaruk kepalanya yang sesungguhnya tak gatal, akhirnya Talitha menutup pintu kamar mandi ketika punggung tegap Deon meninggalkannya. Entah apa yang dilakukan oleh Deon karena yang dapat Talitha dengar adalah Deon menelepon seseorang dan memerintah orang tersebut dengan penuh amarah. Entah apa yang membuatnya begitu kesal.
Tak lama kemudian, ketika Talitha sedang memakai handuknya, pintu kamar mandi di belakangnya diketuk oleh seseorang. Talitha tahu itu adalah Deon dan dia refleks mendekat ke arah pintu tanpa membukanya.
Setelah itu, terdengarlah suara Deon yang seperti teredam. "Ini baju ganti kamu."
Talitha mengernyitkan dahi dan ia menggaruk kepalanya lagi. Ia harus membuka pintunya atau tidak?
Namun, jika tidak dibuka...
"Talitha, buka pintunya," ujar Deon dengan lembut meski helaan napas Deon agak terdengar di telinga Talitha. Talitha jadi bingung sendiri.
"I—iya, bentar," jawab Talitha pada akhirnya. Gadis itu membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dia tahu pasti bahwa tubuhnya sekarang hanya mengenakan handuk.
Begitu ia menatap Deon, ia mendapati pria itu melihatnya dengan mata yang agak memicing. Deon sudah berganti baju dengan kaus polo dan celana pendek. Pria itu memberikan sebuah kotak padanya dan ia meraihnya seraya menyatukan alis.
"Cepat ganti baju kamu. Setelah itu makan dan minum obat," perintah Deon.
Talitha menganga. Ia ingin bertanya mengapa dia harus berada di apartemen Deon seolah tak ada orang di rumahnya yang bisa mengurusinya. Namun, tatapan tajam Deon membuatnya berdecak kesal dan memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar mandi. Talitha membuka kotak itu. Betapa terkejutnya dia tatkala mendapati bahwa di dalam kotak itu ada satu setelan piama serta…sepasang dalaman? Dalaman juga ada?! Buset!
Ini semua baru. Kapan Deon mempersiapkannya? Apa sewaktu dia marah-marah di telepon tadi? Luar biasa. Benar-benar membuat Talitha jadi menggeleng sendiri, tak habis pikir. Siapa yang ia suruh untuk membeli barang-barang seperti ini? Meski dipenuhi dengan berbagai pertanyaan di otaknya, Talitha akhirnya memutuskan untuk memakai semuanya tanpa peduli apa pun sebab ia sadar bahwa ia masih merasa pusing bukan main.
Setelah selesai berpakaian, Talitha keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk putih yang diberikan Deon tadi. Gadis itu tidak melihat keberadaan Deon di kamar pria itu. Ke mana dia? Baru saja Talitha ingin membalikkan tubuhnya, mendadak ia mendengar suara berat Deon mendominasi ruangan. Deon ternyata baru masuk ke dalam ruangan.
"Duduklah. Kamu harus makan," ujar Deon. Ternyata di tangannya sudah ada nampan yang berisi semangkuk sup dan nasi. Ada juga teh hangat di nampan itu.
Talitha terdiam. Walau ia tak seharusnya memikirkan soal ini sekarang, tetapi...apa Deon membuat semua itu? Atau tidak?
"Duduk sekarang, Talitha.”
Talitha membelalakkan mata. Ia lalu tersadar dan langsung duduk di pinggir ranjang. Sesungguhnya, dia tak selera makan karena kepalanya pusing. Namun, Deon dan segala perintah mutlaknya itu telah ada di depan Talitha, duduk di depan Talitha dan menaruh nampan itu di nakas.
"Makan, sedikit saja nggak apa-apa. Supaya kamu bisa minum obat." Deon berujar dengan lembut. Talitha sedikit tertegun.
Sungguh menawan sekali Deon dengan suara lembutnya itu. Ini agak mengejutkan, sebenarnya. Mengapa Deon harus bertransformasi menjadi yang orang sekeji itu, padahal Deon bisa bersikap selembut ini? Ini begitu disayangkan... Deon adalah orang yang benar-benar lembut seandainya semua masa lalunya tak terus menghantuinya.
Talitha akhirnya mengangguk. Entah mengapa sulit sekali membantah Deon ketika Deon berbicara dengan lembut seperti itu. Tanpa bisa Talitha kira, Deon mulai menyuapinya. Sedikit demi sedikit...pria itu menyuapinya dengan sabar.
Sosok Deon mendadak berubah 180 derajat. Deon yang ada di depannya ini adalah Deon yang penuh kasih. Sungguh kasihan. Dia adalah pria yang baik. Hanya saja hatinya rapuh hingga dia berusaha untuk membangun temboknya sendiri secara paksa. Talitha menatap Deon dengan tatapan lembut.
"Kenapa kamu suapin aku?" tanya Talitha dengan pelan. Dia merasa kalau napasnya hangat, bahkan panas. Itu cukup membuatnya tahu bahwa dia benar-benar sedang demam tinggi.
Deon bernapas samar. Ia meniup nasi hangat yang sudah ada potongan wortelnya itu.
"Karena kalau kubiarkan saja mungkin kamu takkan mau makan,” kata Deon sembari menyuapi Talitha lagi. Talitha merunduk dan melipat bibirnya.
Ia ingin melihat Deon berubah. Entah mengapa ia ingin melihat pria itu berubah. Namun, ia tak tahu bagaimana caranya. Lagi pula, ia tak memiliki hubungan yang serius dengan Deon. Hubungan asli, tetapi tanpa cinta? Sama saja bukan hubungan.
"Sekarang minum obat kamu," perintah Deon singkat setelah makanan Talitha habis dan juga setelah gadis itu selesai meminum teh hangatnya. Pria itu memberikan obat kepada Talitha dan Talitha meminumnya tanpa ada bantahan.
Talitha langsung berbaring begitu ia selesai minum obat. Ia sungguh tak tahan, kepalanya pusing bukan main. Tubuhnya lemah karena sedang demam. Ia tak mau tahu lagi tentang apa pun dan langsung berbaring tanpa persetujuan ataupun perintah dari Deon. Gadis itu memejamkan matanya; lengan kanannya menutupi dahinya. Deon menghela napas, kemudian menutupi tubuh Talitha dengan selimut tebal yang ada di ranjangnya itu. Pria itu mulai duduk di kursi yang ada di depan ranjangnya itu, kursi yang ia persiapkan ketika Talitha mandi.
Diperhatikannya Talitha dengan saksama sampai ia mendengar napas Talitha berembus dengan teratur. Gadis itu sudah tertidur. Deon melihat ke arah jam dinding dan ternyata hari sudah hampir malam. Tiba-tiba ia mendengar bunyi ponsel.
Ia memicingkan mata, mencari asal bunyi ponsel itu sampai akhirnya ia sadar bahwa bunyi ponsel itu berasal dari dalam tas Talitha yang terletak di sofa kamarnya. Deon berdiri dan dengan langkah tegapnya ia menghampiri tas itu. Ia membuka tas itu dan melihat ponsel yang ada di dalamnya tengah berbunyi. Deon meraih ponsel itu dan mengernyitkan dahi. Ia bisa membuka kunci ponsel itu dengan mudah karena tak ada password atau pattern yang melindunginya. Deon melihat ada tiga pesan masuk. Tanpa berpikir dua kali, pria itu pun membuka ketiga pesan itu.
42Please respect copyright.PENANAohG7C5FHGH
From: Kak Alfa
Malem, Ita ;)
42Please respect copyright.PENANACr3S2SG7vZ
From: Basuki Nana Dalem
Ta, lo udah nyampe? Minta jemput Bang Gavin aja deh cyin, biar lo cepet sampe. Busnya kan lamaa
42Please respect copyright.PENANAfub7JZeDn4
From: Bang Gavin
Dek, lo kok belum nyampe rumah? Lo ke mana? Hujan nih! Udah tau badan gak kuat dingin, masih aja pulang lambat! Gue juga baru nyampe nih dan Mama nyariin elo. Lo kejebak hujan di jalan apa gimana?
42Please respect copyright.PENANAHOB5IMMKwX
Baru saja Deon selesai membaca pesan terakhir itu—yang ternyata pesan itulah yang tadi baru sampai—ponsel Talitha berbunyi menandakan ada panggilan yang masuk. Deon mengernyitkan dahinya tatkala melihat ke layar ponsel itu.
Bang Gavin calling...
Deon mengangkatnya. Dengan wajah yang berkontur tegasnya itu, dia menaruh ponsel tersebut di telinganya.
Setelah itu, terdengarlah suara Gavin yang sedang dalam mode ibu-ibu cerewetnya. "Dek, lo di mana?! Biar gue jemput. Sekarang udah malem tau nggak? Hujan lagi! Aduh, punya adek kok kelayapan terus."
Saat itulah suara berat Deon mulai mendominasi, menjawab Gavin dengan suara rendahnya. "Dia aman bersama saya, Pak Gavin. Saya tadi sudah menjemputnya dan sekarang dia ada di apartemen saya."
Gavin kontan terdiam. Meski suara grasak-grusuk dari panggilan telepon itu tetap terdengar, tetapi bisa ditebak bahwa Gavin tengah mematung di seberang sana. Gavin diam selama beberapa detik, bahkan suara napasnya tak terdengar.
Setelah itu, dengan gagap Gavin menjawab, "I—ini... Pak Deon?"
Deon bernapas samar. "Iya, Pak Gavin. Ini saya. Talitha ada bersama saya."
"A—" Kata-kata Gavin terputus hingga Deon mulai mendengar suara berisik seolah ponsel Gavin sedang diambil oleh orang lain. Setelah itu, terdengar lagi suara seorang wanita paruh baya.
Deon mengernyitkan dahinya ketika mendengar wanita itu berteriak.
"Siapa kamu?!! Ke mana anak saya kamu bawa?!! Bawa dia pulang!!! Siapa kamu? Apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya?!!!"
Deon mengerjap.
"Ma...udah, Ma. Dia itu bosnya Gavin. Udah, Ma." Terdengar suara Gavin samar; Gavin agaknya tengah mencoba untuk membujuk wanita paruh baya itu.
Setelah itu, terdengar helaan napas berat. "Kamu ini satu, Vin. Kenapa kamu gak bilang sama Mama kalo adek kamu—"
"Ma, Gavin aja baru tau kalo Ita pacaran sama Pak Bos dan Gavin juga belum sempet minta Ita untuk jelasin..."
Deon hanya mendengarkan mereka berdua.
Setelah itu, Deon angkat bicara, "Maaf, Bu. Saya belum memberitahu ibu dan juga ayahnya Talitha dengan benar. Saya minta maaf. Saya tidak macam-macam dengan Talitha. Saya hanya merawatnya karena dia sedang demam."
Terdengar mama Talitha mulai mendengkus.
"Astaga. Itu anak emang ada aja kelakuannya..."
Mendengarkan komentar mamanya Talitha terhadap anak gadisnya sendiri, Deon lantas tersenyum tipis dan tertunduk. Deon meletakkan sebelah tangannya di dalam saku celana pendeknya.
Kini terdengar helaan napas berat mama Talitha lagi. "Ya sudah. Maafkan saya ya, Pak Direktur. Saya minta maaf sekali karena telah membentak Bapak sembarangan tanpa tahu alasan Bapak."
Deon mengangguk meski dia tahu mamanya Talitha takkan bisa melihatnya.
Mamanya Talitha berbicara lagi, "Tolong jaga anak saya, ya, Pak, sampai Bapak mengantarnya pulang nanti. Em… Nanti sekalian Bapak mampir ke rumah, ya... Ngobrol-ngobrol sama calon menantu, kan, enak..." Mama Talitha berujar sembari tertawa.
Mata Deon membulat meski tak kentara. Setelah itu, ekspresi wajah pria itu melembut. Ia terdiam dengan pandangan kosong. Betapa harmonisnya keluarga Talitha. Betapa hangatnya sikap mama Talitha...dan betapa Deon kini merasa hatinya seakan teriris. Tak pernah ada seorang ibu yang ingin mengobrol dengan gembira bersamanya. Tak pernah ada sosok ibu yang memberinya perhatian ataupun kata-kata cerewet seperti itu sejak dia kecil.
Begitu dia sadar akan hal itu, air matanya tumpah.
Tanpa sadar hatinya terasa perih. Dadanya sesak, sangat menyakitkan, bagai telah tertohok pisau tajam. Deon mendongakkan kepalanya dan menghela napas. Membiarkan air mata itu jatuh hingga ke rahangnya. Ia mengepalkan tangannya dan giginya bergemeletuk. Ia butuh untuk melampiaskan seluruh kekecewaannya. Namun, ia menahannya karena ia masih ingat bahwa ia sedang bertelepon.
"Pak Direktur?" panggil mama Talitha di seberang sana dengan heran karena menyadari bahwa Deon tak bersuara sedari tadi. Hal itulah yang sontak membuat Deon langsung mengusap air matanya. Deon mengerjap, kemudian pria itu tersenyum. "Iya. Mama gak perlu manggil aku dengan sopan gitu. Panggil aku Deon aja, Ma."
Oh Tuhan. Betapa bergetarnya bibir Deon tatkala menyebutkan kata 'Mama' itu. Ia tak pernah menyebutkan kata itu lagi sejak sembilan belas tahun yang lalu. Ia merasa marah tiap kali ia mendengar kata 'Mama' dan kali ini mama Talitha membuatnya mengucapkan kata 'Mama' itu dengan penuh kesedihan. Dia yakin bahwa mama Talitha adalah sosok cerewet yang biasanya anak-anak panggil dengan sebutan alamiah 'Mama'yang sangat berarti di dalam keluarga Talitha. Seorang mama yang cerewet, tetapi penuh dengan kasih sayang. Seorang wanita yang mungin juga punya kepribadian yang unik seperti Talitha. Berdiri tegak untuk keluarganya. Memberi kehangatan untuk keluarganya. Tanpa Deon sadari, Deon bersikap biasa saja seolah ia benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarga Talitha. Memiliki keluarga harmonis...membuat hati Deon bagai kehilangan seluruh bebannya selama ini. Bagai sesuatu yang terlahir kembali dan hal itu sukses menyejukkan hatinya.
Sementara itu, mamanya Talitha di seberang sana tertawa histeris. Mama Talitha tampak menjawab seraya tersipu karena merasa bahwa Deon terdengar begitu imut saat berbicara seperti itu padanya. "Aduh... Iya, Deon. Akhirnya, Mama bakal punya menantu… Hahaha! Setelah ini nih si Gavin sama Ita menjomblo terus. Mama kira Mama dulunya ada salah apa gitu, sampe anak-anak Mama gak laku-laku... Wahahaha."
Terdengar Gavin mulai meneriakkan protesnya kepada mamanya. Hal yang menakjubkannya, Deon justru tertawa lepas. Pria itu tertawa terbahak-bahak di telepon. Seumur hidupnya dia tak pernah benar-benar merasa senang seperti ini.
"Nanti aku ke sana, Ma, sambil nganterin Talitha. Nggak kok, Ma, aku juga nggak pernah punya pasangan. Sampe sekarang baru ketemu sama Talitha."
Mama Talitha berteriak histeris, "Aaah, senengnyaa! Talitha beruntung banget punya kamu. Ya udah, ntar jangan lupa ke sini, ya, Sayang. Papanya Talitha juga mau kenalan sama pacar Talitha, tuh, katanya."
Deon terkekeh.
"Ya udah. Tidur jangan macem-macem, ya. Kalian belum nikah soalnya. Si Kunyuk satu itu juga masih kuliah," lanjut mama Talitha.
Bukan main lagi, Deon kembali tertawa terbahak-bahak. Mendengar cerocosan tentang Talitha dari keluarganya sungguh menggelikan baginya.
"Iya, Ma," jawab Deon santai.
"Ya udah. Mama tutup dulu teleponnya. Jagain Ita, ya, menantu kesayangan Mama."
Mata Deon membulat. Menantu kesayangan?
Deon padahal belum bertemu keluarga Talitha dan sudah dibilang menantu kesayangan. Apa karena mamanya Talitha baru merasa punya calon menantu? Ah, tetapi tak mungkin langsung dibilang menantu kesayangan juga kalau hanya itu alasannya. Meskipun dia dan Talitha bukanlah berpacaran seperti seharusnya, tetapi dia merasa bahwa bersama Talitha telah membawa hal-hal baru untuknya. Hidupnya yang dihabiskan dengan tawa dan senyum palsu, kini sejak bertemu dengan Talitha ia menyadari betapa bahagianya memiliki semua emosi itu tanpa kepalsuan. Mengobrol dengan Gavin waktu itu saja sudah membuatnya tertawa lepas. Sekarang dengan mama Talitha juga begitu.
Meskipun ia tak tahu bagaimana cara mencintai seperti seharusnya... Meskipun ia tak tahu mengapa dia begitu ingin Talitha berada di sisinya untuk membantunya... Meskipun ia hanya tahu untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya... Meskipun ia bertemu dan mengikat Talitha di genggamannya dengan cara yang tak logis... Entah mengapa dia merasa bahwa Talitha tak boleh lepas darinya, tak boleh hilang darinya, barang sedetik pun dan dalam keadaan apa pun.
"Iya, Ma," ujar Deon terakhir kali sebelum sambungan telepon itu akhirnya terputus.
42Please respect copyright.PENANA95gcLiwid4
******42Please respect copyright.PENANA4nY7uUjdMR
42Please respect copyright.PENANARYUsHNqD1o
Talitha terbangun dan menemukan dirinya berbaring di ranjang Deon. Ia menyipitkan matanya karena silau dan mendapati bahwa gorden kamar terbuka dan sinar mentari menyeruak masuk menyinari kamar. Talitha langsung memegang tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Ah...dia ingat. Dia demam semalam.
42Please respect copyright.PENANA2FYmjYGzxm
"Sudah bangun?"
42Please respect copyright.PENANAkGF0kpRfiX
Talitha menoleh ke asal suara. Matanya yang semula malas terbuka, kini terbuka hingga memelotot begitu mendapati Deon di sana, berdiri dengan shirtless di pintu kamar. Dia langsung terduduk.
Talitha menatap Deon tanpa berkedip. Ia menatap Deon dari atas hingga ke bawah dan tanpa sadar dia berdecak kagum sendiri, kegirangan seperti monyet. Deon menyatukan alisnya.
"WIDIH MAK... Seksinya ckckck... Maknyos euy..."
Talitha tanpa punya urat malu malah bertepuk tangan sendiri. Dia tergelak dan matanya masih menatap antusias ke otot-otot di tubuh maskulin Deon.
"Pantesan kamu dikatain mamamu jomblo terus," ujar Deon sembari memicingkan mata. "ternyata mata kamu selalu lapar."
Talitha mendadak cengo.
"Oi—kok kamu tau kalo Mama aku suka ngatain aku gitu?! Wah, jangan-jangan—"
"Mama kamu nelepon semalam. Dia nanyain kamu,“ jawab Deon santai.
Mata Talitha kontan terbelalak, dia langsung beranjak dari kasurnya dan berdiri. Gadis itu terbirit-birit mengambil ponselnya yang ternyata ada di atas sofa. Sambil memeriksa ponselnya, gadis itu berbicara dengan cemas, "Terus kamu bilang apa?! Dia marahin kamu, ya?!! Lagian, kok kamu main angkat-angkat aja, sih!! Ntar kita diinteroga—“
"Mama kamu udah tau kalau kita pacaran, Talitha. Aku nanti bakal nganterin kamu, lalu kenalan sama orangtua kamu."
Mata Talitha memelotot bukan main. Mulutnya menganga. Tubuhnya mematung.
"Oi—Deon, kok kita malah jadi kayak pacaran serius gini toh? Ah, udah, deh, nggak usah. Ntar aku pulang sendiri aja dan jelasin semuanya ke Mama—"
“—dan kamu mau bilang kalau kita pacaran bohongan? Lalu kamu jelasin ke abang kamu dan semuanya kalau kamu terpaksa menjadi milikku karena kebohongan kalian?" ujar Deon sarkastis. Deon memiringkan kepalanya ke sisi dan tatapannya berubah tajam lagi.
Talitha merasa lidahnya mendadak kelu. Ah...iya. Bisa berabe urusannya. Meskipun Talitha tak sepenuhnya salah, pasti yang dihajar oleh mamanya adalah Talitha jua.
Lagi pula, Deon memberinya pilihan sulit. Ah, ini memang gila. Dari awal semua ini memang gila.
Talitha memijit keningnya. Ini benar-benar memusingkan.
Setelah itu, Talitha mulai merasakan ada langkah kaki yang mendekatinya. Begitu ia sadar, dahinya mendadak dipegang oleh seseorang. Talitha menoleh ke atas dan mendapati ada Deon di sana. Pria itu tengah memegang dahinya dan dahi pria itu berkerut.
"Panas kamu udah turun. Ayo sarapan dan—" Deon terhenti dan ia melihat ke arah otot perutnya.
Di sana ada tangan Talitha yang tengah meraba otot perutnya itu dengan antusias.
Deon melihat ke wajah Talitha dan kini ekspresi wajah gadis itu dipenuhi dengan kekaguman. Talitha bahkan nyaris mengeluarkan air liurnya.
Deon mengernyitkan dahinya tipis. "Tangan kamu, Talitha. Perasaanku tadi kamu lagi pusing mikirin apa kata mama kamu. Sekarang otak kamu malah ganti jalur."
Talitha mendadak ngakak. "Gila, ya, Deon, pantesan aja Basuki nge-fans berat sama kamu! Hahahah! Apalagi aslinya ternyata lebih seksi!! Aduh, kayaknya aku beruntung, nih,bisa nggrepe-grepe kamu duluan bhahahah!!"
Deon mengernyitkan dahi, memejamkan matanya, lalu membuka matanya lagi. "Aku nggak pernah ketemu perempuan segila kamu," komentar Deon, ia menyentil dahi Talitha. "dan aku nggak ngerti apa itu nggrepe-grepe atau apalah itu."
Talitha tambah tertawa kesetanan. "Halaaaah, polos amat, sih? Kita sesama jomblo harus tau istilah-istilah itu, seenggaknya."
"Aku sama kamu udah nggak jomblo lagi, setahuku," ujar Deon. Kini dia sudah mengerti apa itu jomblo.
Talitha ternganga. Ini orang...ternyata memang serius menganggap Talitha sebagai pacarnya.
"Jangan sekali-kali kamu SMS-an sama si Alfa-Alfa sialan itu lagi atau kamu akan tahu akibatnya."
Talitha mendadak terkesiap. Bagai tersambar petir, tubuh Talitha menegang.
"Maksud kamu... Kak Alfa?" tanya Talitha dengan ekspresi wajah idiotnya.
"Aku tak suka melihat milikku diusik orang lain dan kamu yang paling tahu itu, Sayang." Deon tersenyum manis, tetapi mengapa terasa agak…sarkastis?
Talitha mengernyitkan dahi dan ia mulai mencerocos dengan mata yang menyalang.
"Hah? ‘Sayang’?!! Udah, deh, Deon, kamu itu ternyata emang punya dua kepribadian, ya? Ganteng sih iya, tapi gilanya gak ketulungan. Lagian, nih, ya, aku emang selalu SMS-an sama Kak Alfa selama setahun terakhir ini. Meskipun jomblo gini ya aku ada deket juga sama kakak tingkat dari fakultas lain. Kamu aja yang baru nongol langsung marah-marah gak jelas," ujar Talitha sembari berdecak.
Mata Deon langsung menyipit tajam. Talitha yang menyadari itu hanya mendengkus dan bersikap cuek. "Udah, deh, jangan marah-marah. Lagian, kita ini—“
"Jangan pernah SMS-an atau berhubungan apa pun lagi dengan dia. Aku udah menghapus nomor dia dari ponsel kamu. Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain, Talitha!! Aku nggak suka itu dan sekali aku bilang jangan, maka jangan kamu lakukan. Atau aku akan melakukan sesuatu dengan abang-abangmu."
Talitha menggeram. Emosinya naik sampai ke ubun-ubun. "BISA NGGAK, SIH, JANGAN SANGKUTIN APA PUN KE ABANG-ABANGKU? DAN SEKARANG KAMU IKUT NGANCEM BANG REVAN? KAMU INI PUNYA PIKIRAN GAK, SIH? KAMU ITU JAUH LEBIH SINTING DARI AKU, TAU NGGAK?!"
"Apa salahnya sinting saat mempertahankan pacar sendiri? Mungkin aku akan berhenti memakai ancaman-ancaman itu kalau kita sudah saling mencintai." Dagu Deon terangkat dengan arogan dan matanya menatap penuh dengan intimidasi.
"Enak aja kamu!!" teriak Talitha. “Ini maksa aku ceritanya? Oh, kalo gitu aku juga bakal terus maksa kamu. Sampe kamu muak," sinisnya.
Deon mendengkus. "Selama kamu nggak dekat dengan laki-laki lain, aku takkan muak sampai kapan pun. Kamu tahu aku punya kekuasaan yang besar hanya untuk menyingkirkan laki-laki sialan itu," ujar Deon sembari memegang dagu Talitha. Mata Deon menatapnya dengan tatapan yang mengerikan. Bagaikan iblis, kalimatnya terasa begitu menusuk dan melukai Talitha dari dalam secara perlahan.
Menggeram, Talitha lantas mendorong tubuh shirtless Deon dengan kuat.
"Udah, ah!! Males aku ngeladeni kamu!!" teriak Talitha sembari berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan tergesa-gesa.
42Please respect copyright.PENANAWRF5UsWvqo
******
42Please respect copyright.PENANAqfjp9Jh7nY
"Ma, Ita pulang."
Talitha mengetuk pintu rumahnya sambil harap-harap cemas. Ia tak tahu apa yang akan terjadi. Ia pun tak yakin dengan apa yang akan Deon katakan nanti. Deon itu selalu mengancamnya dan dia lebih tak percaya dengan Deon setelah semua yang terjadi.
Deon bahkan membuat Talitha sampai tidak kuliah hari ini. Alasannya simple: dia berkata bahwa Talitha harus izin karena belum sembuh total. Dia mengamuk ketika Talitha memaksa untuk kuliah. Satu hal lagi, dia ingin menemui orangtua Talitha hari ini juga. Bukannya bekerja, dia malah ingin berkunjung ke rumah Talitha dengan segala kemauan egoisnya.
Entahlah Gavin kerja atau tidak.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Terlihatlah sosok mama Talitha di sana. Wanita paruh baya itu menatap Talitha, kemudian dia mendapati bahwa ada seorang lelaki supertampan yang berdiri di samping Talitha.
Mama Talitha spontan menganga. Wajah mamanya itu otomatis langsung berseri-seri dan ia terlihat sangat antusias. Takjub bukan main tatkala melihat sosok lelaki itu.
Itu pasti calon menantunya sekaligus direktur utama perusahaan tempat anak sulungnya bekerja. Mama Talitha jelas langsung menggeleng dengan kagum dalam waktu sekejap.
Lelaki itu tampan. Luar biasa tampan.
"Hai, Ma," sapa Deon dengan ramah, pria itu kini bersalaman dengan mama Talitha dan dia langsung mencium punggung tangan mama Talitha dengan sopan. Mata Deon tampak begitu tulus saat melakukan itu. Dia seolah benar-benar sedang bertemu dengan ibu mertuanya.
Talitha sampai heran sendiri saat melihat kelakuannya.
Is he exhibiting two distinct and separate identities or something?
Talitha tak mengerti.
"Ayo masuk, Sayang. Ayo, Ta, ke belakang gih, sana. Siapin Deon minuman. Aduuhhh, calon menantu Mama ganteng banget, sih," ujar Mama Talitha sembari menepuk-nepuk rahang Deon yang terlihat sangat tajam dan tegas.
Talitha mencibir. "Yeee ileh, ketemu menantu malah lupa sama anak. Ini, nih, Mama yang aneh."
Mama Talitha langsung tertawa terbahak-bahak. Kalau Deon…
Wah? Pria itu ikut terkekeh.
"Welehh... Ketawa pula dia. Emang seneng banget liat aku menderita," komentar Talitha. Setelah itu, dengan gelengan singkat, Talitha pun masuk ke dalam rumahnya dan langsung pergi ke dapur. Dia mulai mendengar mamanya mengajak Deon masuk ke rumah.
"Pa! Gavin! Ini, nih, Deonnya udah dateng," teriak mama Talitha dengan kencang dan penuh akan kebahagiaan. Lho, bentar-bentar. Papanya tak masuk kerja?! GAVIN JUGA?!
Memangnya tak takut dipecat sama Deon? Maksud Talitha, Gavin itu, kan, jelas tahu kalau yang datang itu bosnya!! Dia cari mati atau bagaimana, sih?!
Talitha membawa teko berisi sirop beserta gelas-gelasnya ke ruang tamu. Tak lupa pula ia membawa bolu coklat yang ada di dalam kulkas, beserta kue-kue kering yang selalu disimpan mamanya di lemari makan.
Ketika Talitha baru mau pergi ke ruang tamu, ia bertemu dengan Gavin di jalan. Talitha langsung memelotot dan berbisik dengan kesal kepada abangnya.
"Bang, lo kok gak kerja, sih?! Yang dateng itu Deon, Bang! Dirut elo!! Lo cari mati?!"
Gavin menghela napas dan ikut membisikkan sesuatu ke telinga Talitha. "Gue juga mau kerja, tapi Pak Deon alias pacar lo tuh, Dek, yang ngelarang gue kerja. Dia bilang, dia pengin ketemu semua orang yang ada di rumah kita. Widih, serius, lo kayak mau dipinang aja! Jangan-jangan lo udah ngapa-ngapain sama dia, ya? Ngaku! Hebat bener lo baru kenal udah bisa—"
“Kamvret, Bang, jangan ngomong gitu napa, sih, lo?!! Asem, gak mungkinlah gue ngapa-ngapain sama dia! Omongan lo gak jelas banget sumpah!" bisik Talitha, tetapi dia tampak marah. "—dan apa? Kapan dia ngelarang lo kerja?!"
Gavin mendengkus dan mengedikkan bahunya. "Tadi pagi dia nelepon gue dan wiih—dia nggak manggil gue pake 'Pak Gavin' lagi. Dia manggil gue Abang! Sialan, kaget gue serius."
Sontak saja Talitha tertawa kesetanan. Gavin bahkan sampai harus menutup mulut adiknya itu dengan paksa.
"SERIUS LO?!" teriak Talitha. "ASTAGA HAHAHAH!!"
Gavin menjewer telinga adiknya dan menutup mulut adiknya itu lagi.
"Ita, sst!! Kamvret, jangan keras-keras napa, sih, Dek?! Ntar kedengeran Deon! Kalo kedengeran, bisa jadi dia pecat gue beneran dan dia mutusin elo!"
Talitha tertawa lagi. "Nah, elo juga udah manggil dia pake 'Deon' hahaha!! Emang tumpeh-tumpeh kalian nih... Gak tanggung-tanggung lagi. Gue gak tau mau ngomong apa," ujar Talitha seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya habisnya walaupun dia bos gue, dia bakalan jadi adik ipar gue juga, 'kan? Apa salahnya gue juga manggil dia dengan namanya?" Gavin kembali mengedikkan bahu.
Talitha mendadak menganga. Wajah Talitha menegang bagai baru saja kesetrum.
Sialan nih Abang, pikirnya. Andaikan abangnya itu tahu kalau dirinya dan Deon bukanlah pasangan yang akan berakhir seperti itu, soalnya hubungan ini adalah hubungan pemaksaan.
Akhirnya, mereka berdua mulai berjalan bersama dan sampai di ruang tamu. Papa Talitha sudah duduk di sana dan sudah mengobrol santai dengan Deon.
Gavin duduk di sofa kecil sendirian. Talitha meletakkan minuman dan kue-kue yang dibawanya itu ke atas meja dan mendapati bahwa mama dan papanya langsung menatapnya dengan bangga.
Ah... Iya, deh, iya. Mungkin dikira mereka Talitha memang membuktikan omongannya yang nanti bakal mendapatkan cowok ganteng, padahal ini kasusnya beda.
Ia kemudian langsung menatap ke arah Deon. Tatapan lembut Deon seolah mengatakan, "Duduk di sampingku, Sayang."
Wanjeeer! Gak gitu juga kali Bambang!!
Sial. Seberapa besar Deon telah menarik perhatian kedua orangtua Talitha?
Mencebikkan bibir, Talitha akhirnya menyerah dan duduk di samping pria itu.
Papa Talitha mulai berbicara kembali, "Jadi…sudah berapa lama kamu kenal Ita, Deon? Papa gak nyangka kalo Ita dapet pacar yang sempurna kayak kamu."
Deon terkekeh. Pemandangan yang paling menawan dan mampu melelehkan seantero jagat raya. "Baru akhir-akhir ini, Pa, tapi Talitha sejak awal udah mampu mengalihkan perhatianku. Dia bisa membuatku jadi langsung bergantung sama dia. Aku jadi ngerasa ada yang aneh kalau nggak bersama dia."
Waduh, Mak, hoeeek! Bergantung pada Talitha si cewek stress yang tak tahu malu ini?
Talitha merinding, perutnya jadi mual sendiri. Apa-apaan yang sedang pria posesif ini katakan?! Wah, ini Deon beneran lagi kesurupan kayaknya. Kebanyakan akting drama romantis, nih, makanya jadi kebiasaan mengucapkan kalimat-kalimat manis!
Namun, mama Talitha justru tampak terpesona. Mamanya dengan teganya malah terpesona pada kalimat romantis Deon untuk anak perempuannya. Mamanya bahkan sampai menepuk pundak papanya karena menahan malu saat melihat sikap Deon. Benar-benar menarik hati.
Papa Talitha lantas tertawa terbahak-bahak dan wajahnya tampak bahagia bukan main. Seolah menemukan sebuah kejadian yang harusnya takkan terjadi selama seribu tahun.
Ya, ya, ya. Talitha tak menjomblo lagi itu adalah kabar gembira yang hanya datang satu mileniumsekali. Ha.
"Jadi, bagaimana kamu bisa datang ke Indonesia, Deon?" tanya Papa Talitha lagi.
Kini Deon mulai memeluk pinggang Talitha dengan posesif. Membuat Talitha lantas mengernyitkan dahinya karena heran dan membuat mama Talitha jadi senang bukan main.
Sementara itu, Gavin sedari tadi hanya melongo. Buset dah, ini dia lagi menyaksikan apa sebenarnya?! Selain itu, ada hal buruk lagi.
Dia dilangkahi oleh adiknya, coy.
Adiknya memang benar-benar kurang ajar.
Deon tertawa renyah. Wajahnya tampak berseri-seri. "Um… Sejak kecil aku udah jadi model di Taiwan, Pa. Terus waktu umur belasan sampai terakhir kali sebelum datang ke sini, aku sempat beberapa kali main drama," ujar Deon, dia terlihat seolah agak canggung tatkala menceritakan hal itu. "dan aku dipanggil ke Indonesia karena Papaku sakit. Papa waktu itu di rumah sakit dan dia minta aku untuk menggantikan dia sebagai direktur utama Abraham Groups."
Papa Talitha melebarkan matanya, ekspresi wajahnya mulai serius. "Papa kamu sakit?"
"Iya, Pa. Papaku sakit jantung. Sekarang masih banyak berbaring karena belum pulih total,” jawab Deon sembari tersenyum tipis.
Baik itu Gavin, Talitha, Mama, dan Papa Talitha, semuanya kaget mendengar soal papa Deon yang ternyata menderita sakit jantung.
"Kamu harus banyak bersabar, Deon," ujar Mama Talitha. "Kami akan tetap membantumu sebisa kami jika kamu memerlukan bantuan. Semoga papa kamu cepet sembuh, ya, Sayang. Kami siap membantu kamu kapan pun."
"Kami di sini, Deon. Kami semua udah nganggap kamu sebagai keluarga kami sekarang. Papa harap hubungan kamu sama Ita baik-baik aja sampai kalian ke pelaminan," ujar Papa Talitha.
Gavin mengangguk-angguk.
Mata Talitha kontan terbelalak. "Papa apaan, sih?!! Baru aja Deon dateng dan ini baru beberapa hari juga! Pelaminan apa—"
"Iya, Pa, Ma. Pasti. Aku bakal jaga Talitha sampai kapan pun. Aku bisa memastikan kalau Talitha adalah calon istriku karena aku berencana untuk melamarnya dalam waktu dekat."
Talitha spontan menganga bukan main. Semua orang di sana juga langsung ternganga lebar.
"Kamu setuju, ‘kan, Sayang?" bisik Deon dengan lirih ke telinga Talitha; ia tersenyum seraya mengelus kepala Talitha dengan penuh kasih.
HAH? APA-APAAN INI?!! []
42Please respect copyright.PENANAqVWp8bsVmI