
******25Please respect copyright.PENANAoTzueiHlJ5
Bab 7 :
25Please respect copyright.PENANASAHd9Tbnbd
TUBUH tegap Deon berjalan mengikuti Talitha ke kamar gadis itu. Deon memperhatikan langkahnya sembari sesekali melihat Talitha yang berjalan di depannya dengan langkah lebar.
Sesampainya di kamar, Talitha menutup pintu kamar itu dan langsung menghampiri Deon. Begitu mereka sudah berdiri berhadapan, mata Talitha memelotot. "Maksud kamu apa, sih? Ngapain coba kamu ngomong gitu sama keluarga aku? Kamu nih emang gila ternyata! Lamar? Hahahahahahahah!" Talitha tertawa geli. "Kita pacaran aja maksa gini!! Kamu pikir nikah tanpa cinta itu enak, ya? Maen lamar-lamar aja. Itu pernikahan, oi, jangan anggep sepele!!"
Deon menatap Talitha dengan tajam. Setelah itu, dia mendekati Talitha. Langkahnya yang pelan itu membawa tubuhnya hingga nyaris menempel dengan tubuh Talitha. Wajah pria itu hanya berjarak satu jengkal dengan wajah Talitha.
"Tapi dengan begitu kamu bisa bener-bener terikat denganku."
Mata Talitha membeliak. Mendadak gadis itu mengepalkan tangannya.
"Denger, ya, Deon," ujar Talitha dengan mata menyipit. "Coba kamu pikir. Kita nggak saling cinta. Kalo kamu lamar aku—aduh, aku nggak mau bahas ini sumpah. Umurku masih 21 tahun, nih, astaga. Jadi gini, kalau kamu lamar aku, kita bakalan nikah, lalu hidup bersama. Nikah itu untuk seumur hidup, oi! Amit-amit, aku nggak mau cerai walau satu kali pun dalam hidupku. Tentu aku nggak mau nikah sama kamu karena kita pasti bakal cerai!! Kamu itu cuma butuh bantuan aku, ‘kan? Ya udah, nggak usah sampe segitunya! Ini namanya kamu mau main-ma—"
"Cukup! Aku nggak pernah main-main, Talitha," potong Deon dengan napas memburu, mata berwarna coklat kehitamannya menatap Talitha dengan tajam. "Aku nggak pernah berencana untuk bermain-main!!"
Talitha kaget saat Deon membentaknya hingga refleks matanya tertutup. Mendadak tubuh Talitha bergetar (menahan emosi) dan bibirnya terlipat. Seluruh rasa marahnya telah berada di ubun-ubun. Dia tak suka dibentak, tetapi dia juga bukan orang yang mudah ciut.
Talitha membuka matanya, lalu menatap Deon dengan tajam. "Jadi, apa, hah? APA?!" Napas Talitha memburu. "Semenjak ada kamu, hidup aku kayak dikekang!! Aku seharusnya masih menikmati masa remajaku, lalu tiba-tiba kamu datang dan hidupku jadi terfokus ke kamu!!! Kamu nggak ngerasa, ya, kalo kamu tiba-tiba datang dan langsung maksain semuanya berjalan sesuai dengan kehendak kamu?!! Aku juga pengen nikmatin masa mudaku!!! Kalo kamu, kamu jelas udah sukses di usia muda!! Jangan egois dan nyeret orang—"
"Kamu itu milikku, Talitha. Milikku!!" potong Deon tajam. Ia memelototi Talitha. "Aku nggak bakal nyesel ngelakuin apa aja yang bisa ngebuat kamu terus berada di sisiku!"
"Itu nggak masuk akal banget, tau nggak?! Ada yang salah dengan otak kamu!!" teriak Talitha. "Kenapa kamu milih aku untuk jadi milik kamu, sementara banyak banget orang di luar sana yang bisa kamu jadiin sebagai milik kamu?!! Semua ini gila!! Lagian, kamu—"
Ucapan Talitha terpotong. Tubuhnya mematung dan jantungnya serasa mau lepas.
Mata Talitha membelalak begitu gadis itu merasa Deon mencium bibirnya. Deon menggunakan tangan kanannya untuk menghentikan tangan Talitha yang mencoba untuk mendorong tubuhnya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menarik tubuh Talitha agar mendekat padanya sehingga tubuh mereka menempel.
Sebelum Talitha bisa memberontak, Deon melepaskan ciumannya. Ia mencium bibir Talitha berkali-kali dan setiap kali ia melepaskan ciuman itu, ia akan membisikkan sepotong kata di depan bibir Talitha.
"Kamu,"
"Harus,"
"Nikah,"
"Sama,"
“Aku.”
Setelah itu, Deon benar-benar melepaskan ciumannya.
Talitha hanya berdiri terpaku. Mulutnya terbuka dan matanya membulat penuh. Sesaat kemudian, gadis itu meneguk ludahnya dan dan ia lantas mendorong tubuh Deon. Baru saja ia ingin protes, Deon langsung membuka suara.
"Aku nggak suka penolakan," ujar Deon dingin. "Dari awal aku udah bilang kalau kamu terikat denganku dan kamu setuju, Talitha! Perjanjian itu berlaku sampai kapan pun. Kamu itu hanya untukku. Hanya milikku. Sampai kapan pun. Aku akan melakukan segala cara supaya kamu tetap menjadi milikku."
"Egois," balas Talitha kejam. "Otoriter. Kamu maksa orang lain yang nggak tau apa-apa untuk masuk ke dunia kamu. Kamu itu manusia tergila yang pernah aku temui. Sampai kapan pun, aku nggak bakal nikah sama orang yang nggak kucintai."
"Aku bersedia untuk belajar mencintai kamu," ujar Deon. Mata Deon meneliti wajah Talitha, rahangnya mengeras tatkala ia mendekatkan wajahnya ke wajah Talitha lagi. "Aku akan mencintai kamu. Aku akan terus menatap kamu dan fokus untuk hidup bersama kamu sehingga kamu nggak bakal nyesal nikah sama aku. Aku janji aku akan mencintai kamu dan membahagiakan kamu,” ujar Deon.
"Jadi, kumohon setujulah untuk menikah atau kalau nggak…ayo kita tunangan dulu. Aku bersedia menunggu sampai kamu siap," lanjut Deon dengan serius. Akan tetapi, tiba-tiba tangannya terkepal karena menahan amarah. "tapi jangan pernah bilang kalau kita ini nggak masuk akal, Talitha!! Aku benci saat mulut kamu ngucapin hal sialan itu!!"
Mata Talitha tak kunjung berhenti melebar sedari tadi. Mulut Talitha terkatup rapat. Jantungnya bagai berhenti berdetak. Napasnya tertahan.
Mulut Talitha bergetar. "Oi, Deon—kita—"
"Kita harus melanjutkan hubungan ini." Deon menyambung ucapan Talitha. Pria itu tampak menggertakkan giginya. "Aku nggak tahu apa yang bakal terjadi kalau aku liat kamu pacaran sama cowok lain. Aku nggak peduli kalau harus pakai kekerasan, Talitha. Kamu itu harus bersamaku. Harus bersamaku."
Talitha menggeleng, ia tercengang. Namun, sesaat kemudian Talitha mulai menatap Deon dengan prihatin. "Ya ampun, Deon, gimana bisa kamu hidup kayak gini? Deon, kamu itu kayak orang yang punya obsesi gila tau nggak? Kamu terlalu posesif. Hentikan pikiran negatif kamu itu! Siapa pun bakal terluka kalo kamu terus-terusan kayak gini!!"
"Menikah denganku," ajak Deon sekali lagi. Ia menatap Talitha dengan intens.
Talitha memijit pelipisnya. Gadis itu berdecak. "Aduh...mati gue sumpah. Kok bisa ada cowok ganteng ngajakin gue nikah, tapi ngajakinnya kayak ngancem gini," ucap Talitha. Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Aku nggak ngancam kamu, Sayang," ujar Deon seraya memiringkan kepalanya. Matanya menyipit dan bagai memancarkan sinar laser.
Mata Talitha membeliak. Mati. Kedengaran, ya? "Harusnya kamu ngucapin itu dalam hati aja, Talitha," ujar Deon, pria itu menghela napas. "Aku ini calon suami kamu dan nggak seharusnya aku dengar calon istriku ngomong gitu."
Talitha mengerang, mendadak gadis itu merutuki dirinya sendiri dan memejamkan matanya frustrasi. "Udahlah, Deon, aku lagi males nyaksiin kepribadian ganda kamu."
"Kepribadian ganda?" tanya Deon ebelah menaikkan sebelah alis matanya yang tebal. Setelah itu, timbul senyuman miring di wajah Deon. "Aku nggak punya kepribadian ganda, Talitha. Aku cuma mau mencintai kamu dan membuat kamu jatuh cinta sama aku. Hanya itu."
Entah mengapa Talitha jadi meneguk ludahnya; gadis itu mendadak merasa ngeri.
"Ngeri amat kamu nih," ujar Talitha. "Kalo ngancem horror banget. Rayuan mautnya beuh..."
Deon menyipitkan matanya—fokus memperhatikan Talitha—sehingga hanya Talithalah yang ia lihat. Setelah itu, dia mencium pipi Talitha singkat. "Maafin aku."
Astaga.
Talitha membelalakkan matanya. Lagi-lagi dia dicium. Tak pernah sekali pun ia dicium oleh seorang pria, kecuali dahulu sewaktu kecil (dicium oleh ayahnya atau Gavin). Ingat, ia adalah jomblo akut! Dia tak pernah mendapat perlakuan seperti ini dan Deon malah dengan mudahnya…
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ada semburat merah yang muncul di pipi gadis itu. Dia menelan ludahnya berkali-kali! Gawat, dia yang suka menggerepe orang lain, sekarang malah bungkam karena dicium oleh Deon? Namun, Talitha menggeleng, membuang jauh-jauh semua pikiran itu dan menganggap semuanya hanyalah angin lalu. Cepat-cepat dia mengalihkan pikirannya.
Talitha mendorong Deon dan memukul bahu Deon kencang. "Nyium terus kamu nih! Wah, mulai suka gerepe-gerepe,ya, kamu," ujar Talitha. Dia nyengir, bermaksud untuk menggoda Deon. Dia mulai geblek lagi.
Deon mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu suka pakai istilah yang nggak kumengerti," ujar Deon dengan lirih. "Aku nggak ngerti apa itu gerepe-gerepe."
Talitha tertawa bak kesetanan.
Gadis itu masih berusaha menghentikan tawanya ketika dia ingin berbicara, "Aduh—hahah—oi—bhahaha—Deon, udah, deh, kamu itu ternyata masih polos banget whahahahaha! Anak polos kok bisa kelewat posesif, yak?" ujar Talitha, kemudian gadis itu semakin tertawa kencang.
Deon mendengkus. "Apa kamu setuju dengan pernikahan kita?"
Talitha mendadak mengerjap. Gadis itu terdiam lagi; ia menatap Deon dengan hati-hati.
"Maksud kamu?"
"Aku nanya apa kamu setuju dengan pernikahan kita. Aku nggak main-main, Talitha," ujar Deon sembari mengangkat telunjuknya di depan Talitha, memperingati Talitha.
Talitha menunduk.
Ah, yang benar saja. Dia yakin Deon tak akan mencintainya. Entah apa yang membuat pria itu ingin menikahi Talitha, padahal Talitha adalah orang yang baru ia kenal. Talitha pada dasarnya adalah orang asing baginya; Talitha masih tak tahu apa-apa tentangnya. Ini pernikahan, lho! Selain itu, Talitha masih berumur 21 tahun. Bagi Talitha, itu terlalu cepat.
"Aku cuma takut kita nggak bisa memunculkan perasaan itu, Deon," ucap Talitha. Kepribadian Talitha yang agak ‘gila’ itu mendadak berganti ketika gadis itu membicarakan hal yang serius. "dan kita bakal menyesali itu."
Namun, ketika Talitha berbicara serius seperti itu, ponsel Talitha yang ada di saku gadis itu mendadak bergetar.
Talitha mengernyitkan dahinya dan langsung mengeluarkan ponsel itu dari saku celananya. Ia baru saja ingin mengangkat panggilan itu ketika tiba-tiba Deon mengambil paksa ponselnya. Akhirnya, Deonlah yang mengangkat panggilan itu.
Itu adalah panggilan dari sebuah nomor yang tak tersimpan di kontak Talitha.
Dengan mata menyelidik, Deon langsung berbicara dengan dingin. "Siapa kamu?"
"Oh, kamu yang namanya Alfa itu?"
Mata Talitha membulat. Itu Alfa? Astaga.
Oh...benar. Deon menghapus nomor Alfa dari ponselnya.
"Berhenti ngehubungi dia. Berhenti atau aku bakal nemuin kamu dan ngasih kamu pelajaran sekarang juga."
"Aku calon suaminya. Berhenti ngehubungi dia. Dengar kamu? Atau kamu akan tau akibatnya."
Mata Talitha terbelalak. Ia kemudian berbisik pada Deon, "Oi—Deon! Oi! Udah! Dia itu nggak tau apa-apa!"
Namun, Deon hanya menatap Talitha dengan tajam.
“Jangan pernah coba-coba untuk ngedeketin dia atau berbicara dengan dia. Aku bakal mengawasi kamu. Dia itu milikku dan bakal selalu bersamaku. Jika kamu terus mencoba untuk ngedeketin dia, aku pasti bakal bunuh kamu.”
Tubuh Talitha mematung, ia tak tahu harus berkata apa lagi kepada Deon.
25Please respect copyright.PENANAgcnpv6Y23d
******
25Please respect copyright.PENANAkL1Ga3KFpa
Talitha mengantar Deon sampai ke halaman rumahnya.
Ini sudah nyaris sore dan Deon menghabiskan banyak waktu di rumahnya. Pria itu tampak begitu sempurna; dia membuat semua keluarga Talitha langsung menyukainya. Dia tadi bahkan sempat membantu mama Talitha membuat kue—dan entah apa lagi yang dikerjakannya—yang jelas dia berhasil membuat mama dan papa Talitha klepek-klepek.
Talitha dari tadi hanya terus menggeleng melihatnya. Kalau sudah begitu, mana mungkin kedua orangtua Talitha tak menyetujui hubungan mereka?
Talitha mengekori Deon sampai ke dekat mobil pria itu. Namun, tiba-tiba Deon berbalik lagi, lalu menatapnya. Alis Deon terangkat dengan arogannya.
"Kenapa kamu nggak biarin aku nginap aja hari ini?"
Mata Talitha kontan terbelalak. "Alamak—belum nikah, Pak. Sadar, kita belum nikah. Waduh, gileee, Bapak udah mulai suka gerepe-gerepe. Atut ih... Ntar akunya yang malah kebablasan whahahaha!" Talitha tertawa kencang.
"Kamu manggil aku Bapak lagi." Mata Deon menyipit tajam. "Ralat ucapan kamu atau kucium kamu di sini."
Talitha mendadak bagai tersambar petir.
Namun, beberapa detik kemudian Talitha justru menaikturunkan alisnya jail. "Wah, aku mah nggak apa-apa kalo kamu cium," ujarnya. "Mumpung ada orang ganteng mau nyium aku gratisan bhahahah!"
Tanpa Talitha sangka, Deon langsung mendekatinya dan menarik tubuhnya. Butuh waktu bagi otak geblek Talitha untuk paham bahwa dia sudah dicium oleh Deon. Bibir Deon menguasainya seolah bibir Talitha hanyalah miliknya seorang. Ketika Talitha tersadar, Deon sudah melepaskan ciumannya.
Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh makna. "Apa ini termasuk gerepe-gerepe?"
…ha?
Kontan saja Talitha tertawa kencang, gadis itu tergelak setengah mati. Deon ini sedang apa, sih? HAHA!
"Astaga naga... Kamu ini bikin ngakak aja tau nggak! Sumpah, kelakuan kamu tuh aneh seaneh-anehnya hahahaha!"
"Kalau nggak, kamu ikut ke apartemenku aja," ujar Deon. "Tidur di sana."
Talitha terperanjat. Ia nyaris terlompat ke belakang saking kagetnya. "Waduh, njir, langsung tancep gas dia," ucap Talitha. "Oi—mentang-mentang udah tau apa itu gerepe-gerepe, kayaknya jadi maen nyeruduk aja kamu!"
Deon mengangkat alis. "Bukannya kamu juga bakal jadi istriku?"
Talitha menganga. "Belum, oi!! Nih orang kok ngeyel amat! Masih aj—"
"Oke. Terserah kamu, yang jelas aku pasti ngelamar kamu." Deon berkata dengan tajam, lalu dia bernapas samar. "Nggak lama lagi aku bakal ngelamar kamu. Jangan macam-macam, Talitha."
Deon kemudian mencium pipi Talitha dengan sangat lembut, bahkan hampir seperti menempelkan bibirnya saja. Itu terasa bagai selembut dan seringan kapas.
"Aku pulang dulu. Besok aku bakal jemput kamu. Jangan coba-coba berangkat sama orang lain selain aku,” peringat Deon, kemudian pria itu menekan key fob mobilnya. Deon membuka pintu mobilnya dan mulai masuk ke mobil itu.
Ketika mobil Deon pergi dari rumah Talitha, Talitha hanya memperhatikan mobil itu dengan lekat.
Deon itu…
25Please respect copyright.PENANAK9ejyXw4sP
Mengapa jantung Talitha mendadak jadi berdebar?
25Please respect copyright.PENANAScDtTF8VBD
"Ekhem-ekhem... Cuit-cuit..."
Talitha kontan membulatkan matanya. Gadis itu langsung berbalik, lalu ia menemukan mamanya dan Gavin berdiri di depan pintu dan bersiul dengan jail; mereka sedang meledek Talitha.
Talitha sontak jadi kesal minta ampun; wajah gadis itu memerah. Matanya memelotot dan dia langsung melepas sandalnya. Dia langsung berlari ke arah mamanya dan Gavin—membuat mereka berdua jadi kucar-kacir sambil tertawa—lalu dia mengejar Gavin seraya memegang sebelah sandalnya.
"Kaliaaaaaaaan!!!" geram Talitha. "Kamvreeeeeeeeettttttt!!!!"
Gavin sibuk berlarian sembari menutupi kepalanya dengan kedua tangannya, sementara mama mereka sudah kabur ke dalam rumah.
"Woy, Dek!! Bukan gue yang duluan! Mama, tuh, yang duluan ngintipin lo dicium Deon tadi! Kok lo cuma ngejer gue, sih?!!DEK!!"
Halah, kurang ajaaaar!! Ternyata mereka mengintip selama itu?
Sialaaaan!!
25Please respect copyright.PENANARvEQkyf305
******
25Please respect copyright.PENANAec7l9ysfTi
Talitha mendengkus.
Ia baru pulang kuliah dan seharusnya hari ini Gavin menjemputnya. Basuki tadi sudah pulang. Namun, dia ingat bahwa Deon akan selalu mengantar jemputnya. Dia sejujurnya tak mau terus-menerus bertemu Deon, tetapi dia juga tak bisa memungkiri bahwa dia memang sudah terikat dengan pria itu.
Gavin hanya meng-SMS-nya dengan kalimat: 'Dek, gue ada rapat dadakan. Sori banget. Bentar lagi selesai. Lagian, kan, ntar Deon jemput elo. Tunggu aja sebentar.'
Aduh.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nomor yang tak dikenal lagi. Tsk. Semenjak Deon menghapus semua nomor laki-laki lain di ponselnya—kecuali nomor Revan, Gavin, dan papanya—Talitha jadi serasa dikejar-kejar penipu karena terus ditelepon oleh nomor yang tak dikenal.
Seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal, Talitha pun mengangkat telepon itu.
"Halo?”
"Halo..."
Talitha mengernyitkan dahi. Ini suara seorang wanita. Talitha sepertinya pernah mendengar suara itu, tetapi...di mana, ya?
"Ini...siapa, ya?" tanya Talitha.
"Kamu…pacarnya Deon yang waktu itu, ‘kan?" tanya wanita itu. "Saya…mamanya Deon."
Kontan mata Talitha melebar.
Dari mana mamanya Deon tahu nomor ponsel Talitha? Mengapa ia menelepon Talitha?
Talitha lantas menjawabnya dengan gagap, "I—iya, Bu."
Terdengar kekehan lembut di seberang sana. "Panggil Mama aja. Mama mau ketemu sama kamu. Pengin bicara sama kamu. Kamu bisa, Sayang?" tanya mama Deon dengan ramah.
Talitha mengangguk dengan kaku. "I—ya, Ma, bisa. Tapi…Mama di mana?" tanya Talitha sopan.
Serena menyebutkan lokasinya dan Talitha mengangguk. Itu adalah sebuah café dan café itu tak terlalu jauh dari kampusnya. Talitha hanya perlu naik taksi sebentar. Sepanjang jalan, di dalam taksi, pikirannya agak kacau. Begini: dia baru bertemu dengan Deon, tetapi dia sudah terikat seerat ini. Dia langsung terjebak sejauh ini. Entah apa yang mau mama Deon bicarakan nanti. Entah mengapa mama Deon bisa punya ide untuk menemuinya. Dia bahkan tak menyangka bahwa dia akan bertemu lagi dengan mamanya Deon secepat ini. Ketika sampai di depan café itu, Talitha pun turun setelah sebelumnya membayar ongkos taksinya. Mendadak jantungnya berdegup kencang; dia nervous.
Talitha masuk melewati pintu kaca café itu dan melihat ke sekeliling. Dia lalu menemukan seorang wanita paruh baya yang cantik tengah melambaikan tangan padanya dari sudut kiri café. Talitha menunduk sembari tersenyum manis, kemudian dia menghampiri wanita itu. Talitha mulai menyalami wanita itu dan akhirnya dia duduk.
Serena lantas memanggil pelayan café. Salah satu pelayan café mulai menghampirinya. Sebelum memesan, Serena menoleh kepada Talitha dan tersenyum manis. “Kamu mau pesen apa, Sayang?”
Talitha mengerjap. Gadis itu dengan cepat membaca buku menu yang ada di atas meja. "Em... Mochaccino aja, Ma."
Serena mengangguk, lalu wanita itu menatap pelayan café yang sudah sampai di meja mereka.
"Di sini ada cheesecake, 'kan? Pesen dua, ya. Terus satu mochaccino dan satu latte."
Pelayan itu mencatat pesanan Serena dan merunduk hormat. Setelah itu, pelayan itu pergi.
Serena lantas menatap Talitha lagi seraya tersenyum. "Mama belum tau siapa nama kamu."
Talitha sedikit membulatkan matanya, lalu gadis itu tertawa kikuk. "Ah...haha, um…nama aku Talitha, Ma."
"Nama lengkap dan nama panggilan?" tanya Serena penasaran.
"Nama lengkap aku Talitha Sava Aryadinata, Ma. Panggilannya Ita."
Serena mengangguk. Ia kemudian memegang punggung tangan Talitha dan membuat Talitha terkejut bukan main. Namun, Serena mengelus tangan Talitha dengan lembut hingga membuat Talitha tenang kembali.
"Maafin Mama karena udah ngagetin kamu dan minta ketemuan sama kamu, Sayang. Belakangan ini Mama memang nyari tau soal kamu dan Mama dapet info kalo kamu itu anak UI. Jadi, Mama langsung cari nomor kamu dari anak-anak yang satu jurusan sama kamu. Walaupun susah, tapi akhirnya Mama dapet nomor kamu."
Mata Talitha membeliak. Ternyata selama ini mamanya Deon mencari tahu tentangnya?
Apakah mamanya Deon benar-benar ingin menemui Talitha? Mengapa dia tak pernah tahu bahwa mamanya Deon mencari nomor ponselnya dari orang-orang yang satu jurusan dengannya? Maksudnya…kok nggak ada yang cepuin ke Talitha, ya?
Talitha kemudian mengangguk pelan. "Nggak apa-apa kok, Ma."
"Mama...pengen nanyain soal Deon ke kamu,” ujar Serena. Mata Serena mendadak berkaca-kaca. Wanita itu tersenyum sendu dan tangannya masih mengelus punggung tangan Talitha dengan lembut.
Talitha tercengang. Gadis itu hanya bisa melihat Serena dengan prihatin. Sesungguhnya, mamanya Deon benar-benar tampak terluka. Ya, wanita paruh baya di depan Talitha itu sedang terluka. Deon juga terluka. Namun, garis pemisah di antara mereka kini kian melebar...
Talitha menarik tangannya dari genggaman Serena, lalu kedua tangannya langsung memegang tangan Serena kembali. Jadi, kini gantian kedua tangan Talithalah yang meremas tangan Serena.
"Tanya aja, Ma... Bakal Ita jawab sesuai apa yang Ita tau. Ita baru kenal Deon beberapa hari, tapi Ita bakal jawab apa pun itu selama Ita tau."
Serena tersenyum manis dan terkekeh. Air matanya jatuh, tetapi ia langsung mengusapnya.
Ia mulai menatap Talitha dengan tersenyum simpul. "Kamu baik banget, Sayang. Pantesan Deon langsung pengin kamu jadi tunangannya."
Kedua mata Talitha membulat. Mendadak pipinya memerah. Biasanya, dia akan cuek jika diledek begitu. Namun, kali ini…ketika yang mengucapkannya adalah mamanya Deon, entah mengapa semburat merah itu muncul begitu saja.
Cepat-cepat Talitha mengedipkan matanya. "Nggak kok, Ma, nggak gitu."
Serena tertawa renyah.
"Ya terus gimana coba?" goda Serena. Talitha langsung kicep.
"Mama mau tanya apa tadi, Ma?" tanya Talitha, dia sedang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Serena terkekeh. Dia tahu Talitha berusaha untuk menghindari topik pembicaraan itu. Wanita itu menatap Talitha dengan penuh perhatian. Namun, tiba-tiba kedua mata Serena menatap Talitha dengan rasa ingin tahu.
"Bagaimana dia, Sayang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Serena dengan hati-hati.
Mendadak mata Talitha terasa perih; rasanya dia jadi mau menangis. Ia tak pernah melihat hubungan ibu dan anak yang sulit seperti ini. Deon dan mamanya agaknya saling mengharapkan satu sama lain. Namun, dunia seakan memisahkan mereka.
"Deon baik-baik aja kok, Ma. Dia sehat," jawab Talitha seadanya.
Serena melipat bibirnya. Wanita itu menarik napasnya berat, lalu mengeluarkannya dengan lega. Ada sebuah binar kebahagiaan yang muncul di kedua matanya.
"Makasih, Tuhan..." ucap Serena pelan.
Talitha tersenyum.
Talitha hanya diam, menunggu Serena berbicara lagi. Sesaat kemudian, Serena kembali menatap Talitha. Wanita itu meneguk ludahnya.
"Mama memang nggak pantas buat Deon," ujar Serena, dia menggeleng samar. "Mama memang nggak meduliin dia. Dari kecil dia hampir selalu main sama papanya. Kalau papanya sibuk, dia bakal main sendirian atau sama pengasuhnya. Dia anak yang baik. Mungkin dia cuma mau liat mama dan papanya sering balik ke rumah. Tapi…saat itu..."
Serena menangis. Semua kesedihan itu menguar kembali. Satu per satu serpihan momen itu terkilas lagi di benaknya.
"Saat itu, Mama mengkhianati dia. Mengkhianati papanya juga. Mama saat itu ngerasa nggak bahagia, selalu mau mencari kebahagiaan…sampai akhirnya muncul sebuah gagasan di benak Mama. Gagasan bahwa: penyebab Mama nggak bahagia adalah karena papanya Deon selalu sibuk dan jarang merhatiin Mama. Dia selalu sibuk. Mama mau dia lebih banyak di rumah dan menghabiskan waktu bersama Mama dan juga bersama Deon.
Karena papanya Deon nggak juga mengerti, akhirnya Mama ngelampiasin semuanya dengan cara yang nggak wajar. Mama kesal karena tiap hari papanya Deon cuma ngebahas kerjaannya. Mama takut diduakan, takut kehilangan, ngerasa sepi dan sengsara…semua itu ngebuat mama justru jadi mengkhianati papanya Deon. Mama justru ngelakuin semua yang Mama takutkan.
Habis itu, semuanya berakhir. Anak Mama satu-satunya itu ngeliat mamanya ngelakuin hal nggak senonoh di depan matanya. Deon ngeliat semua kegelapan dalam diri Mama. Dia ngeliat semua pengkhianatan Mama dan akhirnya dia jadi benci sama Mama. Dia jadi buta akan kasih sayang. Dia jadi pribadi yang nggak kenal rasa kasihan. Hidupnya nggak berwarna. Itu semua..."
Talitha kontan langsung berdiri dan memeluk Serena. Meskipun mereka berseberangan, Talitha tetap berdiri dan langsung meraih tubuh wanita itu.
Serena menangis.
Punggung wanita itu bergetar; ia tampak begitu rapuh. Tubuh wanita itu terasa sama rapuhnya dengan Deon ketika pria itu menangis di pelukan Talitha. Mereka benar-benar ibu dan anak. Talitha yang mendengarkan dan melihat mereka pun jadi ikut sedih.
Sangat menyakitkan ketika mendengarkan cerita dari kedua pihak dan mengetahui kebenaran yang pahit seperti ini.
Serena perlahan mulai menghentikan tangisnya. Dia mendongak, lalu menatap Talitha hingga membuat Talitha refleks melepaskan pelukannya.
Talitha menatap Serena dengan iba. Sungguh cantik mamanya Deon itu. Namun, wajah cantiknya jadi lembap karena air mata.
Walaupun Talitha merupakan orang yang tak peka dan cuek, dia paling tak tahan melihat orang lain menangis karena itu bisa memengaruhinya.
Serena tersenyum manis. Senyumannya tampak begitu tulus. "Mama sekarang ngerti kenapa Deon suka sama kamu. Kamu pendengar yang baik. Kamu bisa ngebuat orang lain nyaman, jadi orang-orang langsung dengan mudahnya nyeritain masalahnya ke kamu. Mama yakin kamu pasti pernah meluk Deon kayak tadi juga, 'kan? Apa Deon pernah ceritain masalahnya ke kamu?"
Talitha meneguk ludahnya. Waktu itu dia pernah memeluk Deon di mobil ketika Deon menangis.
Talitha hanya bisa diam dan menatap Serena dengan hati-hati.
Namun, tiba-tiba Serena tertawa. "Tuh, bener, ‘kan? Pasti pernah. Kamu pasti berhasil ngebuat dia menangis di pelukan kamu. Mama sadar karena tiba-tiba Mama nyeritain semuanya ke kamu gitu aja, padahal Mama nggak pernah nyeritain ini ke siapa pun, termasuk ke Deon dan papanya. Cuma kamu yang tau soal ini, Sayang..."
Mata Talitha melebar.
"Mama...Percaya sama aku? Aku ini sableng, lho, Ma. Mama sama Papaku aja nggak percaya sama aku," ucap Talitha dengan hati-hati.
Serena tertawa kencang. Namun, Serena mengangguk yakin. "Mama percaya kok. Tapi…apa? Mama sama papa kamu nggak percaya sama kamu? Astaga hahaha!" Serena tertawa. "Dasar. Pasti seru, ya, kalo kamu serumah sama Mama. Bikin ngakak aja. Kamu emang tepat untuk Deon."
Talitha mengernyitkan dahinya. "Lha, kok Mama ngomong gitu?"
"Sifat kejamnya itu cuma orang cuek dan sableng kayak kamu yang bisa menetralisirnya," ujar Serena sembari terkekeh geli. "Kalo orang yang mudah bawa perasaan pasti bakal sakit hati tiap dibentak sama Deon. Lha kalo kamu, Mama yakin kamu pasti cuek atau malah ngetawain dia. Mungkin juga kamu malah nyerocosin dia balik. Kamu sama Deon itu kayak tepung terigu sama air. Dari mana pun keliatan beda. Kalo disatuin pun mesti diaduk-aduk dulu. Tapi nggak bisa berpisah kalau udah disatukan."
Namun, bodohnya, Talitha justru menganga. Ia tak mengerti. Manusia berotak lemot macam Talitha memang butuh waktu buat mengerti peribahasa macam itu. Serena tertawa lagi.
Ketika pesanan mereka sampai, Serena langsung meminum lattenya dan Talitha juga langsung meminum mochaccinonya. Talitha mulai memotong cheesecake miliknya ketika Serena membuka pembicaraan lagi, "Jadi, kamu emang mau nikah sama Deon?"
Mata Talitha kontan terbelalak. Ia langsung menatap Serena dan tertawa canggung. "Haha. Emm… Nggak tau juga, Ma. Aku belum terlalu kenal sama Deon. Takut aja."
Serena tersenyum manis, semanis madu. "Udah, deh, nikah aja. Mama setuju kok. Kalau bisa, sih, secepatnya aja," ujar Serena sembari mengedipkan sebelah matanya pada Talitha. Talitha spontan menganga.
Waduh. Disuruh nikah lagi, deh.
Talitha menatap Serena dengan lekat. Hidung dan matanya mirip dengan Deon. Talitha yakin bahwa Serena—mamanya Deon—inilah yang orang Taiwan sehingga membuat Deon jadi blasteran. Senyuman Deon sangat indah indah, sama seperti mamanya. Tak sadar mengagumi wajah mamanya Deon, ponsel Talitha tiba-tiba berbunyi. Talitha tersentak; ia langsung mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tasnya.
Serena hanya memperhatikan Talitha dengan senyuman. Talitha lantas menatap Serena dan mengangguk satu kali sebagai pertanda kalau ia ingin izin menelepon sebentar, kemudian Serena mengangguk. Talitha pun bertelepon di depannya.
Itu Deon.
"Halo," ujar Talitha.
"Ah…aku…aku di Sean’s Café, Deon."
Serena agak melebarkan matanya, lalu tersenyum…ketika tahu bahwa yang menelepon itu adalah Deon.
"Aduhhh, iya, iya, jangan marah-marah ngapa, sih?" ujar Talitha. "Jangan terlalu posesif, ntar kamu stress sendiri baru tau rasa!"
"Oi—aku nggak lagi sama laki-laki! Haduh, stress hayati..."
Serena terkekeh tatkala mendengarkan percakapan antara Talitha dan Deon. Putranya luar biasa posesif kepada Talitha. Mendengar cara bicara Talitha membuat Serena ingin tertawa, tetapi wanita itu menahannya karena ia tahu bahwa...Deon akan mengamuk. Deon akan marah jika pria itu tahu bahwa Talitha sedang bersamanya.
Ketika Talitha menutup sambungan telepon itu, Serena kembali tersenyum manis padanya. Talitha melipat bibirnya. "Maaf ya, Ma, tadi pembicaraannya jadi kepotong," ujar Talitha sopan.
Serena terkekeh lagi. "Iya, nggak apa-apa kok. Yang motong juga Deon, ‘kan."
Talitha menggaruk tengkuknya (yang sama sekali tak gatal itu), lalu nyengir.
Akhirnya, Serena berdiri. Talitha terkejut dan langsung ikut berdiri.
Serena mengusap pundak Talitha pelan. "Ya udah, Mama duluan, ya. Ntar Deon marah kalo ngeliat Mama di sini. Ntar kita ketemuan lagi, ya, Sayang."
Talitha menatap Serena dengan penuh kesedihan. Haruskah Serena dan Deon saling tak melihat seperti ini?
Dengan berat hati, Talitha pun mengangguk. "Iya, Ma."
Serena menghela napas. Wanita itu kemudian memeluk Talitha singkat. Ketika sudah melepaskan pelukannya, wanita itu lantas melambaikan tangannya kepada Talitha dan keluar dari café dengan langkah anggunnya.
25Please respect copyright.PENANAcmFrnjHplN
******
25Please respect copyright.PENANAR0ehM4huja
Setelah menunggu di depan café selama beberapa menit, sebuah mobil mulai berhenti di depan Talitha. Itu adalah Deon.
Deon ini...sepertinya suka berganti-ganti mobil. Talitha tak mengenalinya hingga saat pria itu turun dari mobil dan membuat semua orang otomatis melihat ke arahnya.
Talitha memutar bola matanya, lalu meledek Deon. "Yaelah, tiap kamu ada di area terbuka kayak gini, kamu itu kayak gula tau nggak. Banyak banget semut yang ngincer."
Deon membuka kacamatanya dan sembari menghampiri Talitha, dia mengernyitkan dahi. "Aku nggak ngerti maksud kamu. Daripada ngomongin itu, lebih baik kamu jelasin ke aku kenapa kamu ada di sini,” jawabnya tajam.
Talitha mendengkus. "Kamu nggak ngerti? Ampun dah nih manusia satu. Gini, ya, kamu itu kinclong banget. Jadi, kalo kamu keluar dari mobil atau ngelakuin sesuatu—apa pun itu—di area terbuka kayak gini, kamu tuh eye-catching banget. Apalagi di Indonesia. Dari jauh aja orang udah tau kalo kamu itu ganteng. Bisa bikin pikiran orang jadi ngambang gitu, haha. Habisnya, udah tinggi, badannya bikin ngiler, penampilannya seger dan oke, rambutnya keren, kulitnya bening dan halus…pake kacamata pula. Nah, malah aku yang ngiler sekarang," ujar Talitha sembari mengusap bagian sudut bibirnya.
Deon mengerutkan dahinya. "Kenyataannya yang pikirannya paling ngambang itu kamu."
Talitha jadi mencibir ketika mendengar perkataan itu. "Yeeee syukur-syukur aku nggak gerepe-gerepe kamu! Lagian, tadi aku cuma minum mochaccino di sini. Nungguin kamu jemput."
"Aku nggak percaya kamu nunggu jemputan sampai sejauh ini dari kampus kamu," ujar Deon, matanya menatap Talitha penuh selidik.
Talitha mendengkus. "Ya suka-suka aku, dong. Mochaccino di sini enak."
Deon menatapnya tajam.
Dua detik kemudian, mulai ada orang-orang yang memotret Deon dengan antusias. Talitha menganga; dia benar-benar memperhatikan semua orang itu, terutama cewek-cewek yang kini mulai berteriak histeris. Talitha langsung memasang poker face.
Risiko berdiri bareng orang ganteng tuh gini, ya?
Akan tetapi, bersamaan dengan situasi itu, tiba-tiba Talitha mendengar ada langkah kaki yang mendekati mereka berdua.
25Please respect copyright.PENANAGwQdC1BkyS
"Lho, Ita? Kamu ngapain di sini?"
25Please respect copyright.PENANADEc6tqav0C
Talitha lantas menoleh ke asal suara. Mata gadis itu kontan membulat.
25Please respect copyright.PENANAZymjgYY1hD
"Kak Alfa?" []
25Please respect copyright.PENANAEUy5yjtNF8