Danar memasukkan beberapa barang-barangnya ke dalam tas kerjanya. Sebagian besar karyawan sudah meninggalkan area pabrik mengingat jam kerja mereka telah selesai. Hanya ada beberapa orang karyawan yang masih ada di locker room termasuk Danar salah satunya.
"Bro, Lu dipanggil Bu Devi HRD tuh!" Ucap Bambang, salah satu rekan kerja Danar yang bertubuh tambun.
"Bu Devi? Ada apa ya?" Tanya Danar sambil mengrenyitkan dahi.
"Waduh Gue juga nggak tau dah. Coba langsung ke kantornya aja deh, siapa tau ada yang penting. Tau sendiri gimana tabiat tu nenek lampir."
"Ah, oke..oke Bro. Makasih ya!"
"Yoi!"
Danar bergegas mengemasi tas kerjanya dan melangkah menuju ruang kerja Devi Christiana, kepala HRD di pabrik. Wanita berusia 38 tahun itu memang terkenal sangat tegas, bahkan cenderung keras terhadap karyawan-karyawan pabrik. Apakagi jika ada karyawan pabrik yang melakukan pelanggaran prosedur, Devi tak segan mengambil tindakan tegas berupa teguran tertulis, pengurangan gaji, bahkan sampai pemecatan. Maka tak heran janda cantik itu sering diberi julukan sebagai " Nenek Lampir" oleh banyak karyawan pabrik, khususnya mereka yang pernah bersinggungan dengan kepala HRD tersebut.
Danar sendiri selama bekerja sama sekali tak pernah berurusan dengan Bu Devi kecuali untuk urusan pengambilan gaji bulanan. Praktis selama ini suami Laras tersebut menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan jauh dari teguran pihak HRD pabrik. Meskipun demikian dia tetap saja cemas setelah mendapat kabar dari Bambang barusan, pikirannya dipenuhi oleh segala macam kemungkinan buruk. Danar mengetuk pintu ruang HRD, sebelum terdengar suara seorang wanita dari dalam.
"Ya, masuk!"
Danar membuka pintu, dan langsung bisa melihat sosok Devi sedang berada di belakang meja kerja ditemani tumpukan berkas yang menggunung. Ruang kerja Devi berukuran cukup besar, selain satu set meja kerja berukuran besar, di bagian kiri terdapat satu set sofa minimalis berwarna cream, senada dengan cat ruangan yang berwarna putih tulang. Danar melangkah masuk dan mendekati meja kerja.
"Permisi Bu, tadi saya diberi tau kalo Ibu memanggil saya?" Ujar Danar, Devi menatap wajah Danar dari balik kaca mata minusnya, ekspresinya datar.
"Silahkan duduk Pak Danar."
"Terima kasih Bu."
Danar meraih kursi yang bersebrangan dengan meja kerja Devi. Jantungnya makin berdebar, apalagi melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan oleh Devi. Wanita itu beberapa saat masih menandatangani berkas-berkas di atas meja, seolah mengacuhkan keberadaan Danar.
"Oke, langsung saja ya Pak Danar." Suara Devi memecah keheningan di ruang HRD, Danar menyimaknya dengan sangat serius.
"Saya kemarin dapat laporan dari bagian keuangan, katanya Pak Danar bulan kemarin mengajukan pinjaman di Koperasi? Apa benar?"
"Be-Benar Bu." Jawab Danar tergugup.
"Lalu kenapa tidak melapor ke saya dulu? Kenapa langsung datang ke bagian keuangan?" Raut wajah Devi menjadi jauh lebih serius. Danar yang diberondong pertanyaan seperti itu semakin panik, dia bahkan tak mengetahui jika apa yang dilakukannya melanggar peraturan pabrik.
"Ma-Maaf Bu, saya tidak melapor ke bagian HRD karena teman-teman yang lain juga begitu. Langsung mengajukan ke bagian keuangan, kalo sudah di ACC baru lanjut ke bagian koperasi."
"Oh...Jadi menurut Bapak, mengikuti sesuatu yang salah bisa dibenarkan di sini?"
"Bu-Bukan begitu maksud saya Bu, ta-tapi..."
"Kalo Pak Danar nggak melapor dulu ke saya perihal pinjaman di koperasi, bapak tidak bisa melihat rencana keuangan dan gaji bapak di sini! Begini saya jelaskan, kemarin anda mengajukan pinjaman 10 juta rupiah dengan cicilan 800 ribu per bulan. Jika cicilan itu dipotong dari gaji maka sisa uang yang anda bawa pulang cuma 1 juta per bulannya. Apa itu cukup? Anda sudah menikah kan?" Danar mengangguk pelan.
"Pabrik itu punya kewajiban untuk memastikan semua karyawannya bisa bekerja dengan baik tanpa perlu memikirkan hal lain. Saya yakin dengan gaji cuma 1 juta per bulan pasti tidak akan cukup untuk membiayai kebutuhan hidup anda dan keluarga, efeknya nanti pasti berimbas pada kinerja anda sebagai karyawan pabrik. Buktinya sudah banyak Pak, lihat berapa teman anda yang terlilit pinjol lalu berimbas pada kualitas pekerjaannya di sini! Bapak mau seperti itu?" Danar hanya menggeleng lemah, wajahnya tertunduk sama sekali tak punya nyali untuk menghadapi Devi yang mengomelinya secara membabi buta.
"Oke, sekarang saya mau tanya. Apa rencana bapak selanjutnya?" Tanya Devi kemudian.
"Yang pasti saya akan bekerja sebaik mungkin Bu, bagaimanapun saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga." Ucap Danar lirih. Devi menghela nafas panjang, wanita bertubuh sintal itu kemudian berdiri dari tempat duduknya sebelum membuka tirai jendela ruang kerjanya. Di luar sudah sangat gelap, beberapa nyala lampu motor karyawan keluar dari area parkir.
"Ya sudah, untuk kali ini saya hanya memberikan teguran lisan saja. Selanjutnya jangan diulangi lagi Pak."
"Terima kasih Bu."
"Oke, Pak Danar boleh pulang sekarang."
"Baik Bu, saya permisi dulu. Selamat malam."
"Ya, malam..."
***
Langkah kaki Danar menuju area parkir motor terlihat gontai, untuk pertama kalinya selama bekerja di pabrik dia mendapat semprotan dari Devi, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Keputusannya untuk meminjam uang di koperasi pabrik nyatanya harus menuai polemik seperti ini. Tapi, meskipun sedikit dongkol, Danar membenarkan sebagaian apa yang telah dikatakan oleh Devi di kantor HRD tadi.
Dengan gaji 1 juta per bulan tentu tak akan bisa membuat kehidupan keluarga kecilnya bersama Laras akan baik-baik saja. Mungkin sekarang mereka masih menyimpan sejumlah tabungan dari sisa uang pinjaman koperasi untuk bertahan hidup, tapi bagaimana dengan selanjutnya? Bagaimana jika nanti ada sesuatu yang sifatnya mendadak dan membutuhkan sokongan dana tak terduga? Segala kemungkinan buruk itu detik ini seperti meracuni isi kepala Danar.
Area parkiran motor sudah sangat lenggang, selain motornya, di sana juga masih terparkir enam motor lain. Danar menduga itu adalah kendaraan para petugas security yang menjaga pabrik. Setelah menyalakan motornya, Danar bergegas melajukan kendaraan meninggalkan area pabrik. Dalam pikirannya saat ini yang dibayangkannya adalah wajah istrinya, raut wajah cantik nan teduh itu mungkin bisa sedikit merisaukan segala kegundahan hatinya setelah diomeli oleh Devi.
Belum jauh meninggalkan area pabrik, perhatian Danar teralihkan pada sebuah mobil dan seorang wanita yang turun dari kursi kemudi. Danar masih melaju melewati mobil itu kemudian berhenti di depan tak begitu jauh hanya untuk memastikan jika yang diduganya benar. Danar mengamati sosok wanita yang membuka kap mobil itu, postur serta pakaian yang dikenakan wanita itu semakin meyakinkan dugaan Danar. Pria itu kemudian berbalik arah, motornya melaju pelan mendekati mobil yang berhenti di pinggir jalanan besar tersebut.
"Mobilnya kenapa Bu Devi?" Tanya Danar sesaat setelah mematikan motornya. Devi sempat kaget melihat Danar sudah ada di dekatnya.
"Nggak tau nih, tiba-tiba mogok." Sahut Devi sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada bagian mesin mobil. Danar ikut mendekat dan ikut mengamati.
"Boleh saya bantu Bu?" Ujar Danar menawarkan bantuan.
"Eh, I-Iya boleh. Aku juga nggak begitu paham soal mesin mobil." Jawab Devi pasrah. Wanita itu menggeser posisi tubuhnya untuk meberi ruang pada Danar yang berniat mengecek kerusakan mesin. Beberapa saat Danar mengotak-atik komponen-komponen mesin untuk mendiagnosa kerusakan. Devi berdiri tak jauh dari kap mobil dengan raut wajah cemas.
"Ini harus dibawa ke bengkel sih Bu, saya nggak bisa benerin kalo nggak ada alat-alatnya. Ibu ada kenalan orang bengkel yang bisa derek mobil mungkin?" Kata Danar.
"Gitu ya? Duh, aku nggak ngerti soal gitu-gitu, biasanya yang urus mobil orang rumah." Sahut Devi putus asa. Danar memutar otaknya, mencoba mengingat beberapa orang kenalannya yang mungkin bisa membantu pimpinannya di pabrik itu.
"Kalo saya panggilin temen saya gimana Bu? Kebetulan saya punya temen orang bengkel, mungkin dia bisa bantu." Ucap Danar setelah mengingat Agung, teman SMA nya yang kini bekerja di salah satu bengkel mobil terbesar di pusat kota.
"Boleh...Boleh...Tapi nanti gimana mobilku? Diderek gitu?" Tanya Devi.
"Kemungkinan besar gitu Bu, paling cuma nginep satu dua hari di bengkel."
"Terus aku pulangnya gimana ya?" Tanya Devi lagi.
"Ehhmmm...Kalo Ibu nggak keberatan, saya bisa antar." Tawar Danar kemudian.
Devi tak menjawab, meskipun semua yang ditawarkan oleh salah satu anak buahnya di pabrik itu adalah jawaban dari permasalahannya saat ini, tapi dia masih mengingat bagaimana beberapa saat lalu dia begitu galak memarahi Danar habis-habisan. Devi malu menerima segala solusi itu.
"Bagaimana Bu?" Tanya Danar memecah keheningan diantara mereka.
"Nggak ngrepotin?"
"Ah nggak Bu, santai aja. Hehehehehe.." Celetuk Danar sambil tersenyum.
Singkat cerita, setelah mobil Devi diderek menuju bengkel, Danar membonceng atasannya itu menuju salah satu komplek perumahan mewah yang berada di pusat kota. Jika dari tempat tinggalnya yang ada tak jauh dari lingkungan pabrik, rumah Devi berjarak hampir setengah jam perjalanan. Selama perjalanan itu, keduanya tak banyak terlibat percakapan, hanya sesekali Devi mencoba menanyakan keseharian Danar. Sebatas percakapan basa-basi untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.
Motor Danar berhenti di depan portal besi, tak jauh dari situ terdapat bangunan yang berfungsi sebagai pos jaga. Tipikal kawasan perumahan elit, akses keluar masuk terjaga ketat, seorang petugas keamanan berseragam safari berjalan mendekati motor Danar dengan tatapan kurang bersahabat. Namun pandangan sinis itu memudar saat Devi turun dari boncengan, wajah sangar si peyugas keamanan berubah menjadi senyuman ramah.
"Loh Bu Devi? Tumben naik ojek Bu, mobilnya kemana?" Sapa petugas keamanan itu, mengacuhkan pandangan heran dari Danar yang disangkanya sebagai tukang ojek.
"Ini temen kerjaku Mas, mobilku mogok, jadi aku pulang dianterin dia." Sahut Devi.
"Oh gitu, maaf Mas." Ucap petugas keamanan itu sambil mengangguk sopan ke arah Danar.
Petugas keamanan itu kemudian membuka kunci portal, Devi kembali naik ke boncengan motor Danar yang melanjutkan perjalanan menuju bagian dalam perumahan. Deretan rumah mewah dan besar langsung tersaji di hadapan Danar, dalam hati dia mengutuki nasibnya bersama Laras yang hanya bisa tinggal di sebuah kontrakan kecil. Entah kapan dia bisa memberikan rumah sebesar ini pada Laras. Ah, pikiran-pikiran buruk itu kembali meracuni isi kepalanya. Sesuai dengan peyunjuk yang diberikan oleh Devi, Danar menghentikan motornya di depan pagar sebuah rumah bercat putih yang menjulang tinggi. Rumah itu bergaya eropa minimalis, dari luar terlihat ada tiga buah tingkat yang menyusun rumah tersebut, didominasi warna cat hijau muda.
"Terima kasih ya, maaf udah ngrepotin. Ah iya, ini buat tambah beli bensin." Ujar Devi seraya menyerahkan beberapa lembar uang pada Danar. Suami Laras itu sontak menolaknya dengan halus.
"Nggak usah Bu, saya ikhlas kok."
"Loh, nggak apa-apa terima aja."
"Bener Bu nggak usah. Saya pamit dulu kalo gitu, selamat malam."
Danar buru-buru menyalakan kembali motornya, Devi masih merasa nggak enak hati pada suami Laras tersebut mengingat momen dimana dia telah memarahi Danar hanya karena masalah sepele. Motor Danar berlalu pergi meninggalkan area komplek perumahan mewah tersebut, tak sabar dia ingin segera menemui istrinya untuk melepas lelah setelah bekerja banting tulang.
2120Please respect copyright.PENANAEw5DzaAQZM
BERSAMBUNG
Cerita ini sudah tersedia dalam format PDF FULL VERSION , KLIK LINK DI BIO PROFIL UNTUK MEMBACA VERSI LENGKAPNYA2120Please respect copyright.PENANAzdlx76AVKg